Menu

Mode Gelap

Daerah · 2 Sep 2022 WITA

Kelompok Kelor Semau, Raup Omzet Ratusan Juta Dari Budidaya dan Pengolahan Kelor


					Sentra Pengelolaan Kelor, Ketua UMKM Kelor Semau, Tony Laiskodat bersama Slash Laiskodat dan pemuda yang menjadi Punggawa Kelor Semua sedang memperlihatkan hasil produksi Kelor. Selain melayani di permintaan di NTT, Kelor Semau juga melayani permintaan dari Jakarta dan Surabaya.Foto Andyos Manu Perbesar

Sentra Pengelolaan Kelor, Ketua UMKM Kelor Semau, Tony Laiskodat bersama Slash Laiskodat dan pemuda yang menjadi Punggawa Kelor Semua sedang memperlihatkan hasil produksi Kelor. Selain melayani di permintaan di NTT, Kelor Semau juga melayani permintaan dari Jakarta dan Surabaya.Foto Andyos Manu

 

Semau, NTTPedia.id,- Tanaman Kelor dulu hanyalah sekedar sayuran dan tanaman pembatas pagar. Kelor atau merungga (Moringa oleifera) adalah sejenis tumbuhan dari suku Moringaceae. Tanaman ini umum digunakan untuk menjadi pangan dan obat di Indonesia.

Namun kelor berubah dari sebatas sayuran atau pembatas pagar ketika Viktor Bungtilu Laiskodat mempopulerkan kelor sebagai salah tanaman untuk mengurangi angka Stunting di NTT yang kala itu sangat tinggi. Selain memiliki gizi tinggi, Viktor mengarahkan menanam kelor secara massal dalam konteks pemberdayaan dan peningkatan nilai pendapatan masyarakat.

Pada waktu itu Viktor Bungtilu Laiskodat menggelorakannya pada masa kampanye Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT. Ketika terpilih menjadi Gubernur, Viktor terus mengkampanyekan Kelor. Gayung bersambut, banyak kelompok masyarakat serta TNI Angkatan Darat (AD) serta beberapa instansi lainnya yang menanam dan melakukan pengolahan Kelor.

Kini kelor telah memberi manfaat bagi perekonomian serta pengentasan Stunting oleh pemerintah. Dalam catatan Dapur Kelor, yang mendapat manfaat dari tanaman kelor adalah mereka yang mengikuti arahan Viktor Bungtilu Laiskodat sejak awal memimpin.

Kelompok Kelor Semau merupakan salah satu kelompok masyarakat yang terlibat sejak awal dalam program Kelorisasi di NTT. UMKM yang digawangi oleh Tony Laiskodat ini terlibat dalam budidaya kelor semenjak Viktor menggelorakan Kelorisasi pada masa kampanye Pilgub NTT pada tahun 2018 yang lalu. UMKM yang terletak di Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) berhasil memproduksi olahan kelor menjadi tepung dan teh. Hasil produksinya bisa menghasilkan omzet mencapai ratusan juta rupiah.

” Ini Bermula ketika pasangan Bapak Viktor Bungtilu Laiskodat – Josef A. Nai Soi gencar kampanyekan untuk menanam dan membudidayakan kelor, saya pun mulai menangkap peluang tersebut,” kata Toni Kepada sejumlah wartawan ketika berkunjung ke sentra budidaya dan pengelohan Kelor di Desa Otan, Jumat, 02/09/2022.

Peluang itu ditangkap dengan membentuk kelompok, serta mulai gencar mendorong warga untuk menanam kelor. Apalagi, kelor mudah untuk ditanam dan sangat cocok dengan tekstur tanah di Pulau Semau, serta memiliki segudang manfaat, terlebih menjadi asupan gizi penurun stunting.

Proses Pembuatan Teh Kelor. Gambar ini hanyalah simulasi untuk diperlihatkan kepada wartawan. Biasanya proses produksi dan pengepakan menggunakan standar yang harus dipatuhi yakni menggunakan sarung tangan dan masker. Foto: Andyos Manu

Kelompok Kelor Semua kata Tony memilik 2 kelompok yang beranggota para pemuda dan ibu-ibu.

Tony mengaku, saat mulai menjalankan usaha pengolahan kelor dirinya bersama para anggota kelompok masih menggunakan peralatan manual. Namun beruntung, ketika sudah mulai berproduksi dan menghasilkan produk yang baik, UMKM Kelor Semau ini mendapat bantuan dari berbagai pihak.

“Kalau bantuan mesin dari Disperindag Provinsi NTT yang difasilitasi oleh Ibu Julie Sutrisno Laiskodat. Ada juga bantuan CSR dari PLN dan Pertamina,” jelas Tony Laiskodat.

Untuk pemasaran, sebelumnya UMKM Kelor Semau memasarkan berbagai produknya hanya melalui media sosial. Meski hanya melalui media sosial, namun permintaan terus berdatangan dari berbagai daerah. Produk Kelor Semau ini pun dikirim hingga ke luar NTT seperi Jakarta dan Surabaya.

Tony menjelaskan, lahan kelor yang diusahakan saat ini totalnya 4 hektare di 3 lokasi. Lokasi tersebut merupakan milik warga setempat. Sehingga, sebelum diproduksi menjadi serbuk dan teh, bahan mentahnya dibeli dari lahan tersebut dengan harga Rp5 ribu per kilogram.

“Daun kelor mentahnya awalnya dikeringkan melalui mesin pengering selama 3 hari. Selanjutnya, saat tidak ada kadar air dalam daunnya, kemudian dimasukan ke mesin pengepungan dan terakhir barulah mesin proses pengemasan,” jelasnya.

Menurut dia, untuk sekali produksi biasanya menggunakan bahan daun kelor sebanyak 40 kilogram, sesuai kapasitas mesin pengering. Dari 40 kilogram tersebut dapat menghasilkan 1.500 bungkus teh dan dalam bentuk serbuk/tepung per sekali produksi.

Dengan hasil produksi yang baik, dalam 3 bulan terkahir ini, UMKM Kelor Semau pun dilibatkan oleh Dekranasda NTT dalam penanganan stunting di Kabupaten Sabu Raijua. Sebanyak 2.200 bungkus teh kelor dan serbuk dibeli oleh Dekranasda NTT untuk dikirim ke Sabu Raijua.

“Kami sangat bersyukur karena program yang digagas Ibu Julie Sutrisno Laiskodat, juga turut melibatkan kami. Apalagi selama pandemi Covid-19, kami sedikit mengalami kendala,” jelasnya.

Tony mengaku, dalam beberapa waktu produksi ini, pendapatan yang diperoleh UMKM Kelor Semau sudah mencapai ratusan juta rupiah. Menurutnya, usaha yang dilakukan ini sangat membantu masyarakat. Apalagi masyatakat juga dilibatkan dalam budidaya kelor ini.

“Semoga program kelor ini bisa berkelanjutan, sehingga produksi yang kami jalankan tidak sebatas ini saja, tapi bisa berkembang lebih baik lagi,” pungkasnya.

Menurut catatan Dapur kelor, TNI AD melalui Korem Wirasakti 161 Kupang memiliki 36 sentra pengolahan Kelor. Sentra Pengelolaan itu tersebar di seluruh Kodim dan Koramil seluruh NTT. Data Dapur Kelor juga menyebutkan ada 14 Kelompok tani merupakan binaan Dekranasda NTT dan TP PKK provinsi di NTT.

Direktur PT. Moringa Wira Nusa sekaligus Founder Dapur Kelor, Ir. H Dedi Krisnadi mengatakan program Kelorisasi yang digaungkan oleh Gubernur NTT telah membawa dampak ekonomi bagi petani dan para pelaku UMKM.

Ia menjelaskan setiap bulan dari ada perputaran uang ratusan juta di masyarakat yang terlibat dalam program Kelorisasi.(AP)

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 197 kali

badge-check

Redaksi Redaksi

Baca Lainnya

Digitalisasi Dapat Menghemat Biaya Rumah Sakit Hingga Rp2 Miliar

19 Januari 2023 - 17:14 WITA

48 Ekor Babi Mati Mendadak di Kabupaten Kupang

18 Januari 2023 - 18:39 WITA

Bunda Julie Launching MIMO, Minuman Susu Kelor Pertama di NTT

6 Januari 2023 - 21:15 WITA

Bunda Julie Dorong HKTI NTT Kembangkan Demplot Berbasis Organik

30 Desember 2022 - 20:04 WITA

Dekranasda NTT Launching Produk Mie Instan Berbahan Kelor dan Singkong

30 Desember 2022 - 17:26 WITA

HUT NTT ke 64 Akan Dirayakan di Sumba Barat Daya

16 Desember 2022 - 21:38 WITA

Trending di Daerah