DOB Amanatun dan Amanuban, YNS : Harus Dimulai dari Kesiapan Sosial dan Konsolidasi Kuat Daerah

- Jurnalis

Rabu, 16 April 2025 - 15:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, NTTPedia.id,- Gagasan pemekaran wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) menjadi dua Daerah Otonom Baru (DOB), yakni Kabupaten Amanatun dan Kabupaten Amanuban, yang diinisiasi dan digaungkan oleh para tokoh, mendapat tanggapan positif dan reflektif dari tokoh perempuan muda NTT, Yusinta Syarief Nenobahan (YNS). Menurutnya, pemekaran wilayah bukan sekadar urusan administratif dan politik, tapi yang lebih penting adalah kesiapan sosial dan konsolidasi dari akar rumput hingga ke tingkat pusat.

“Pemekaran daerah adalah pekerjaan besar. Saya mengikuti dinamika usulan DOB, pendapat beberapa tokoh dan ahli dan saya berpendapat bahwa pendekatan yang dilakukan itu harus lebih menyentuh aspek sosial dan emosional masyarakat. Itu sangat penting,” ujar YNS saat di wawancara melalui sambungan telpon pada Selasa (16/4).

Menurut YNS, indikator awal keberhasilan usulan DOB adalah bagaimana masyarakat yang akan dimekarkan merasa memiliki dan memahami tujuan dari pemekaran itu sendiri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Tanpa kesiapan sosial, pemekaran bisa melahirkan konflik baru: soal batas wilayah, perebutan lokasi ibu kota, hingga resistensi dari elite lokal. Tapi jika dari awal masyarakat sudah diajak bicara, dilibatkan, dan didengar, semua itu bisa diantisipasi,” jelasnya.

YNS menilai pendekatan komunikasi yang dilakukan oleh tim inisiator selama ini sudah mengarah ke sana meskipun masih diperlukan sosialisasi, dialog terbuka, dan kunjungan ke komunitas-komunitas adat maupun tokoh agama sebagai bagian dari langkah membangun dukungan kultural dan sosial-politik yang inklusif.

Hal lainnya, YNS menyoroti pentingnya dukungan pemerintah kabupaten induk dalam setiap pengusulan DOB.

“Saya kira ini yang unik dari upaya dan gaung DOB Amanatun dan Amanuban. Biasanya kepala daerah enggan memberi rekomendasi karena takut kehilangan wilayah atau kekuasaan. Ini menjadi tantangan tersendiri ketika isu ini digulirkan lebih awal oleh para inisiator. Tapi di sini, semangat kolaborasi yang terbangun menjadi ujian tersendiri, dan justru dapat membuka ruang untuk membagi tanggung jawab pembangunan,” katanya.

Ia menyebutkan bahwa keberhasilan membangun dukungan strategis dari Pemkab TTS dan DPRD menjadi sinyal kuat bahwa usulan DOB ini bukan sekadar wacana elit, tetapi hasil kerja panjang yang menyentuh semua level pemerintahan.

Namun demikian, YNS juga menggarisbawahi satu elemen kunci dalam keberhasilan pengusulan DOB yang sering dilupakan yaitu kekuatan jejaring komunikasi nasional melalui Forum Komunikasi Nasional Percepatan Pembentukan Daerah Otonomi Baru (Forkonas DOB).

“Kalau tidak terkoneksi dengan Forkonas, usulan DOB akan mudah tenggelam di tumpukan dokumen pusat. Forkonas itu bukan sekadar jaringan, tapi juga kanal strategis untuk advokasi dan lobby politik di level nasional,” katanya.

“YNS sebagai putri TTS yang ada di Jakarta mengatakan bersedia menjembatani komunikasi dengan Forkonas. YNS mengatakan beberapa tokoh masyarakat maupun akademisi yang mengetahui peran dan fungsi Forkonas telah berkomunikasi dengannya dan mengharapkan perannya sebagai putri daerah untuk membangun komunikasi yang aktif dengan Forkonas, mempertemukan kepentingan lokal dengan narasi pembangunan nasional.

Dalam pengamatan YNS, Forkonas selama ini menjadi jembatan yang efektif antara para pengusul DOB dari seluruh Indonesia dengan kementerian teknis dan DPR RI. “Bukan cuma soal teknis pemenuhan syarat, tapi Forkonas membantu pengusul merumuskan narasi yang sejalan dengan visi pembangunan nasional, terutama dalam konteks daerah perbatasan dan daerah tertinggal,” ujar YNS.

Lebih jauh, YNS berharap agar DOB Amanatun dan Amanuban tidak berhenti pada proses administratif, tapi juga mampu menawarkan model baru pembangunan berbasis keadilan wilayah, kearifan lokal, dan partisipasi rakyat.

“Tim inisiator baik DOB Amanatun maupun DOB Amanuban telah menyalakan api semangat pemekaran ini dengan pendekatan yang humanis, berbasis data, dan berjejaring nasional. Sekarang tugas kita semua, termasuk para perempuan, tokoh adat, gereja, dan kaum terpelajar, untuk memastikan bahwa DOB ini dapat membawa kesejahteraan yang merata,” tutup YNS.(AP)

Berita Terkait

Sejalan Program Digitalisasi Maritim Pemerintah, PELNI dan DTP Perkuat Layanan Berbasis Teknologi Satelit LEO BuanterOne
Program One School One Product (OSOP) Melki-Johni Berhasil Diterapkan di SMK Negeri Bukapiting Alor
Bandara El Tari Berpotensi Buka Rute Kupang – Dili – Darwin
Pemprov NTT Matangkan Aturan Jam Belajar Siswa, Keluarga Jadi Pusat Pendidikan, Draf Sudah di Biro Hukum
Road to JFSS 2026: Pemerintah & Kadin Tegaskan Ketahanan Pangan jadi Prioritas
Tim SAR Gabungan Hentikan Pencarian Satu Anak Pelatih Valencia B yang Masih Hilang
Tokoh Masyarakat Fatukoa Keluhkan Jalan Molo Oetun dan Titus Nau Tak Dikerjakan, Proyek Diduga Tak Sesuai Papan Informasi
Dua Anak Pelatih Valencia B Masih Hilang, Tim SAR Gabungan Perpanjang Operasi Pencarian

Berita Terkait

Selasa, 27 Januari 2026 - 18:48 WIB

Sejalan Program Digitalisasi Maritim Pemerintah, PELNI dan DTP Perkuat Layanan Berbasis Teknologi Satelit LEO BuanterOne

Rabu, 21 Januari 2026 - 10:43 WIB

Program One School One Product (OSOP) Melki-Johni Berhasil Diterapkan di SMK Negeri Bukapiting Alor

Selasa, 20 Januari 2026 - 13:07 WIB

Bandara El Tari Berpotensi Buka Rute Kupang – Dili – Darwin

Jumat, 16 Januari 2026 - 10:15 WIB

Pemprov NTT Matangkan Aturan Jam Belajar Siswa, Keluarga Jadi Pusat Pendidikan, Draf Sudah di Biro Hukum

Selasa, 13 Januari 2026 - 16:23 WIB

Road to JFSS 2026: Pemerintah & Kadin Tegaskan Ketahanan Pangan jadi Prioritas

Berita Terbaru