Ende, NTTPedia.id,- Sebanyak 63 anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) gabungan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Kabupaten Ende menyatakan kesiapan penuh untuk mengemban tugas negara pada Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026, di Kota Ende.
Kehadiran mereka di kota yang menjadi tempat perenungan Bung Karno hingga melahirkan gagasan dasar negara Indonesia itu tidak sekadar menjalankan tugas seremonial pengibaran dan penurunan Sang Saka Merah Putih. Lebih dari itu, mereka membawa misi kebangsaan untuk meneguhkan nilai-nilai Pancasila dari Ende kepada seluruh Indonesia.
Sebanyak 36 anggota Paskibraka tingkat Provinsi NTT yang berasal dari 21 kabupaten/kota telah tiba di Ende sejak 25 Mei 2026 dan bergabung dengan 27 anggota Paskibraka Kabupaten Ende. Kolaborasi tersebut membentuk satu kesatuan pasukan yang akan bertugas dalam rangkaian upacara Hari Lahir Pancasila.
Penanggung Jawab Teknis Persiapan Paskibraka Provinsi NTT, Media Pello, mengatakan formasi pasukan tahun ini memiliki makna khusus karena mengacu pada Pedoman Hari Lahir Pancasila yang diterbitkan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).
Menurutnya, pasukan dibentuk dalam lima kelompok barisan yang melambangkan lima sila Pancasila, sehingga diperlukan sinergi dan kekompakan antara anggota Paskibraka Provinsi NTT dan Kabupaten Ende.
“Pasukan dibentuk dalam lima kelompok barisan yang melambangkan lima sila Pancasila. Karena itu diperlukan kolaborasi yang baik antara Paskibraka Provinsi dan Kabupaten Ende agar seluruh rangkaian upacara berjalan sempurna dan sarat makna,” ujar Medi.
Sejak 26 Mei, seluruh anggota menjalani latihan intensif yang mencakup pembinaan karakter, latihan Peraturan Baris Berbaris (PBB), pembentukan kekompakan, hingga gladi kotor dan gladi bersih. Seluruh tahapan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan fisik, mental, dan ideologis para anggota sebelum melaksanakan tugas negara.
Bagi para peserta, kesempatan mengikuti pendidikan dan pelatihan di Ende menjadi pengalaman yang berkesan. Kota yang selama ini mereka kenal melalui buku pelajaran sejarah kini dapat mereka lihat dan rasakan secara langsung sebagai ruang lahirnya gagasan besar tentang Indonesia.
“Anak-anak sangat bangga bisa berada di Ende. Selama ini mereka hanya membaca tentang sejarah lahirnya Pancasila di sekolah. Sekarang mereka dapat melihat langsung tempat bersejarah itu dan merasakan atmosfer kebangsaan yang begitu kuat,” kata Medi.
Ia menegaskan bahwa tujuan utama pembinaan Paskibraka tidak berhenti pada keberhasilan menjalankan tugas pengibaran dan penurunan bendera. Yang lebih penting adalah membentuk generasi muda yang memiliki karakter kepemimpinan, disiplin, integritas, dan nasionalisme yang kuat.
“Kalau hanya menaikkan dan menurunkan bendera mungkin bisa dilakukan siapa saja. Tetapi Paskibraka adalah proses kaderisasi bangsa. Di sinilah calon-calon pemimpin masa depan ditempa agar memiliki karakter Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Selama berada di asrama, para anggota juga dibina untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Disiplin waktu, menjaga kebersihan lingkungan, hidup sederhana, gotong royong, saling menghormati, hingga membangun empati dan solidaritas menjadi bagian dari proses pembentukan karakter.
Keberagaman peserta yang berasal dari berbagai daerah di NTT juga menjadi ruang pembelajaran nyata tentang persatuan Indonesia. Mereka dibiasakan hidup berdampingan dalam suasana toleransi dan penghormatan terhadap perbedaan.
Kegiatan keagamaan turut mendapat perhatian sebagai implementasi sila pertama Pancasila. Setiap peserta diberikan kesempatan menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinan masing-masing.
“Nilai Pancasila tidak cukup dihafal. Nilai itu harus diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Itulah yang terus kami tanamkan kepada seluruh peserta,” ujar Medi.
Sementara itu, Pelatih Paskibraka Provinsi NTT, Serda Putu Rama Adi Wijaya dari TNI Angkatan Laut Lantamal VII Kupang, mengungkapkan kesiapan pasukan telah mencapai sekitar 80 persen dan akan terus dimatangkan melalui gladi bersih menjelang pelaksanaan upacara.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam pembinaan bukan hanya aspek teknis baris-berbaris, melainkan bagaimana menyatukan karakter dan latar belakang peserta yang berasal dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur.
“Yang paling penting dalam Paskibraka adalah kekompakan. Tidak ada yang menonjol sendiri. Semua harus bergerak sebagai satu kesatuan. Karena itu kami terus membangun kebersamaan dan solidaritas selama proses latihan,” ujarnya.
Ia menilai semangat persaudaraan yang tumbuh selama masa latihan menjadi modal penting dalam menjalankan tugas negara sekaligus membangun masa depan bangsa.
Bagi para pembina dan pelatih, pelaksanaan Hari Lahir Pancasila di Ende memiliki nilai historis dan ideologis yang sangat kuat. Ende bukan hanya lokasi penyelenggaraan upacara, melainkan ruang perenungan yang melahirkan gagasan besar tentang Indonesia yang berlandaskan persatuan, kemanusiaan, dan keadilan sosial.
Karena itu, generasi muda NTT diharapkan mampu menjadi pelopor dalam menghidupkan dan menyebarluaskan nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat.
“Saya berharap anak-anak muda NTT menjadi pionir utama dalam mengimplementasikan dan menggelorakan nilai-nilai Pancasila. Karena nilai-nilai itu lahir di daerah kita, di Kota Ende. Dari Ende untuk NTT, dari NTT untuk Indonesia,” tegas Medi.
Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 di Ende juga akan dimeriahkan berbagai kegiatan kebangsaan dan atraksi budaya. Rangkaian acara meliputi Parade Kebangsaan, penampilan paduan suara gabungan, tarian Gawi massal yang diperkirakan diikuti 3.000 hingga 4.000 pelajar, serta berbagai pertunjukan seni budaya yang mencerminkan semangat persatuan dalam keberagaman.
Seluruh rangkaian kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan masyarakat terhadap Pancasila sekaligus meneguhkan posisi Ende sebagai Kota Pancasila dan laboratorium kebangsaan Indonesia.(Jack)







