Jakarta, NTTPedia.id,- PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau PELNI terus memperkuat transformasi digital dalam operasional pelayaran melalui pemanfaatan sistem berbasis teknologi untuk meningkatkan monitoring perjalanan kapal, perencanaan rute, serta pengelolaan jadwal secara terintegrasi. Penguatan sistem ini memungkinkan proses pengambilan keputusan dilakukan secara berbasis data, sehingga operasional armada dapat berjalan lebih efisien, terukur, dan andal dalam mendukung layanan kepada masyarakat.
Langkah digitalisasi operasional tersebut sejalan dengan agenda pemerintah dalam mendorong digitalisasi sektor transportasi dan logistik laut guna meningkatkan efisiensi operasional dan ketepatan layanan. Modernisasi sistem pelayaran ini menjadi bagian dari upaya PELNI dalam mendukung pengembangan industri maritim nasional, sekaligus meningkatkan ketepatan jadwal, keselamatan pelayaran, serta kualitas layanan bagi penumpang dan pengguna jasa.
PELNI melakukan transformasi digital sektor maritim nasional dengan mengimplementasikan Sistem Komunikasi Kapal (SisKomKap) berbasis satelit Low Earth Orbit (LEO). Langkah ini ditempuh melalui kerja sama strategis dengan BuanterOne, penyedia layanan telekomunikasi satelit di bawah naungan PT Dwi Tunggal Putra (DTP), untuk periode 2026–2029.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kerja sama tersebut ditandai dengan seremoni kick-off yang digelar di atas KM Nggapulu saat bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (27/2). Pemilihan lokasi di atas kapal menegaskan komitmen PELNI dalam menghadirkan teknologi langsung ke jantung operasional pelayaran nasional.
Sebelumnya PELNI telah menggunakan layanan telekomunikasi berbasis satelit Geostationary Earth Orbit (GEO). Satelit GEO berada pada ketinggian sekitar 35.786 km dari Bumi, sedangkan LEO lebih dekat yaitu sekitar 500-1.200 km. Hal ini menyebabkan, satelit LEO memilki latensi rendah, biasanya di 70-100 milidetik (ms), atau setara dengan fiber optik. Sedangkan satelit GEO memiliki latensi tinggi, sekitar 550-1.500 ms atau lebih, membuat koneksinya lebih lambat.
Implementasi teknologi satelit LEO menjadi fondasi utama penguatan SisKomKap PELNI. Teknologi ini menawarkan bandwidth tinggi dan latensi rendah, sehingga memungkinkan konektivitas data dan komunikasi tetap stabil dan real-time, termasuk saat kapal beroperasi di wilayah perairan terpencil dan terdalam Indonesia.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT PELNI (Persero), Anik Hidayati menegaskan bahwa modernisasi sistem komunikasi kapal merupakan bagian dari penerapan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) sekaligus upaya meningkatkan keselamatan dan kualitas layanan publik.
“Pemanfaatan teknologi satelit LEO BuanterOne di seluruh armada PELNI merupakan wujud nyata digitalisasi maritim. Konektivitas yang lebih stabil memungkinkan koordinasi antara kantor pusat dan kru kapal berlangsung cepat dan akurat. Ini bukan semata soal teknologi, tetapi menyangkut keselamatan pelayaran, efisiensi operasional, serta kenyamanan penumpang sebagai prioritas utama kami,” ujar Anik.
Dari sisi teknologi, Chief Sales & Marketing Officer (CSMO) BuanterOne, Budi Santoso, menjelaskan bahwa solusi yang dihadirkan BuanterOne dirancang khusus untuk menjawab kompleksitas operasional sektor maritim nasional.
Layanan tersebut mencakup internet satelit LEO berkecepatan tinggi, sistem pemantauan kapal berbasis Vessel Monitoring System (VMS) dan Automatic Identification System (AIS) untuk memastikan akurasi posisi dan keselamatan navigasi, serta pemantauan on-time performance secara real-time guna menjaga ketepatan jadwal pelayaran. Selain itu, sistem ini dilengkapi layanan komunikasi suara melalui SatPhone dan VoIP, infrastruktur Wi-Fi kapal, serta out-of-band management yang memungkinkan pengelolaan dan pemeliharaan perangkat dilakukan dari jarak jauh.
“Melalui konvergensi teknologi satelit LEO dan sistem monitoring seperti AIS dan VMS, manajemen PELNI dapat memiliki visibilitas penuh terhadap armada setiap saat. Kami membawa teknologi masa depan ke kapal hari ini untuk mendukung operasional yang lebih aman, efisien, dan terukur,” kata Budi.
Implementasi SisKomKap berbasis satelit ini diharapkan mampu mengoptimalkan proses bisnis PELNI dengan menghubungkan kantor pusat dan armada secara real-time. Di tengah meningkatnya mobilitas penumpang dan distribusi logistik nasional pada 2026, sistem komunikasi yang andal menjadi prasyarat utama bagi PELNI dalam menjawab tantangan industri maritim 4.0, sekaligus memperkuat peran strategis BUMN pelayaran ini dalam menjaga konektivitas dan persatuan wilayah kepulauan Indonesia.(AP)














