Kupang, NTTPedia.id,- Perusahaan pengolahan kelor La Moringa yang berbasis di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus menunjukkan geliat positif di pasar internasional. Program kelorisasi ini mengemuka dijaman Viktor Bungtilu ketika menjadi Gubernur NTT periode 2018-2023. Julie Sutrisno Laiskodat yang kala itu menjadi Ketua Dekranasda NTT juga mengeksekusi program ini melalui UMKM dan kelompok binaan Dekranasda dan Tim Penggerak PPK.
Program ini sempat dianggap remeh karena tanaman Kelor masih dipandang sebagai tanaman pembatas kebun. Padahal dalam berbagai kesempatan, VBL menggelorakan kelor sebagai Tanaman Super Food selain sebagai nutrisi juga sebagai penggerak ekonomi.
Peluang ini ditangkap oleh UMKM dan pengusaha sebagai potensi bisnis. Salah satunya adalah La Moringa besutan dr Andre Hartanto bersama istri. Selain membangun restoran berbahan dasar Kelor di Kota Kupang, La Moringa kini telah melakukan ekspansi bisnis hingga ke mancanegara.
La Moringa berhasil menembus ekspor ke negara terkemuka yakni Qatar, Australia, Jepang dan Kanada.
Andre Hatanto bersama istri dengan visi menjadikan kelor sebagai komoditas unggulan NTT yang berdaya saing global. Berbagai produk turunan telah dihasilkan, mulai dari daun kelor kering, teh kelor hingga biskuit kelor dan biskuit sehat berbahan dasar kelor.

Sepanjang 2025, kapasitas produksi La Moringa mencapai 3 hingga 5 ton per bulan. Memasuki 2026, kebutuhan produksi meningkat menjadi 10 ton per bulan untuk memenuhi permintaan pasar ekspor yang terus bertambah.
Andre menjelaskan dari sisi standar mutu, perusahaan telah mengantongi sejumlah sertifikasi penting di antaranya BPOM, Halal, HACCP serta sertifikasi organik. Pada Maret 2026, La Moringa dijadwalkan memperoleh sertifikasi organik dari lembaga internasional guna memperluas akses pasar global.
Founder La Moringa ini menyebutkan bahwa kualitas kelor NTT memiliki keunggulan dibandingkan produk dari India dan Sri Lanka. Berdasarkan hasil pengujian laboratorium, kandungan protein, vitamin, serta nutrisi kelor asal NTT dinilai lebih tinggi sehingga menjadi nilai tambah dalam persaingan global.
Dalam skema bisnisnya, La Moringa berperan sebagai off-taker bagi petani kelor di NTT. Perusahaan tidak hanya membeli hasil panen dengan harga Rp18.000 hingga Rp20.000 per kilogram, tetapi juga memberikan pendampingan mulai dari teknik budidaya organik, proses panen, hingga pascapanen agar kualitas dan kandungan gizi tetap terjaga.
Kehadiran La Moringa disebut telah membawa dampak ekonomi bagi petani. Sejumlah kelompok usaha tani kini terbentuk, dan pendapatan petani meningkat sehingga mampu menunjang kebutuhan keluarga, termasuk pendidikan anak.
Meski telah menembus tiga benua, tantangan utama yang dihadapi adalah akses distribusi dan promosi dagang. Ia menjelaskan poduk dari NTT masih harus dikirim melalui Jawa sebelum mengikuti berbagai kegiatan business matching dan pameran dagang internasional.
Untuk itu Andre berharap dukungan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan agar komoditas kelor NTT semakin dikenal dan kompetitif di pasar dunia.
Ia juga menjelaskan kunjungan Eks Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat dan
Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Provinsi NTT, Bobby Lianto M.M., MBA beberapa waktu lalu ke pabrik kelor La Moringa di Kelapa lima, Kota Kupang. dr Andre menyampaikan apresiasi atas visi pengembangan kelor yang pernah diletakkan pada masa kepemimpinannya.
Ia menilai menilai visi tersebut sejalan dengan hasil riset medis yang menunjukkan manfaat kelor sebagai anti-kanker, anti-diabetes, anti-inflamasi, serta dikenal secara global sebagai pohon ajaib. (AP)













