Jakarta, NTTPedia.id,- Dinamika fiskal daerah yang kian menantang dinilai bukan alasan untuk pesimistis terhadap masa depan Nusa Tenggara Timur (NTT). Di tengah keterbatasan ruang anggaran dan meningkatnya kebutuhan pelayanan publik, yang dibutuhkan saat ini adalah ketenangan, perhitungan matang serta keberanian mengeksekusi program secara konsisten.
Tokoh NTT di Jakarta yang juga Tenaga Ahli di Kementerian Koordinator Bidang Pangan RI, Simon Petrus Kamlasi (SPK) menegaskan bahwa tantangan utama NTT bukan semata-mata soal logistik, konektivitas antarpulau atau tingginya biaya transportasi.
Menurutnya faktor yang lebih menentukan adalah confidence atau rasa percaya.
“Investor selalu bertanya dua hal sederhana, apakah investasinya aman dan apakah proyek yang dimulai mampu dieksekusi sampai selesai. Sering kali yang kurang bukan potensi, tetapi keyakinan bahwa program dirancang matang, dikawal konsisten dan dituntaskan dengan hasil terukur,” kata SPK, Kamis (26/2/2026).
Ia menilai konsep hilirisasi sangat relevan bagi NTT namun harus dimulai dari sektor yang realistis dan langsung menyentuh kebutuhan rakyat. Sebagai provinsi kepulauan, NTT memiliki kekuatan besar di sektor kelautan. Kampung nelayan membutuhkan cold storage, unit pengolahan ikan, industri es, pengemasan hingga distribusi berpendingin.
Menurutnya infrastruktur tersebut bukan sekadar proyek melainkan upaya meningkatkan nilai tukar nelayan dan menghadirkan kepastian harga.
Hal yang sama berlaku di sektor pertanian dan peternakan. Pabrik pakan berbasis jagung lokal, rumah potong modern, pengolahan daging beku serta pengemasan hasil pertanian merupakan bentuk hilirisasi konkret yang dapat langsung menciptakan lapangan kerja.
Simon memperkirakan satu klaster industri padat karya dapat menyerap lebih dari 1.000 tenaga kerja pada fase awal. Jika dalam beberapa tahun dibangun tiga hingga lima klaster berbasis kelautan, peternakan dan pertanian, maka serapan tenaga kerja bisa mencapai 5.000–10.000 orang dengan dampak lanjutan ke sektor UMKM, logistik, pelayaran rakyat dan jasa pendukung lainnya.
Ia juga menyinggung sejarah pengembangan kawasan industri di Indonesia. Menurutnya keberhasilan sebuah kawasan tidak selalu ditentukan oleh kondisi awal yang sempurna, melainkan oleh visi dan konsistensi eksekusi.
Ia mencontohkan bagaimana B. J. Habibie merancang pengembangan Batam yang pada masanya juga menghadapi berbagai tantangan namun mampu menghadirkan keyakinan bagi investor melalui desain yang terukur dan pelaksanaan yang konsisten.
SPK menegaskan, NTT memiliki sejumlah keunggulan seperti biaya yang kompetitif, ketersediaan lahan, serta sumber daya alam yang melimpah. Banyak anak muda NTT merantau bukan karena tidak mau bekerja, tetapi karena peluang yang jelas dan penghasilan yang menjanjikan belum terbuka luas di daerah sendiri.
Karena itu, menurutnya, yang dibutuhkan bukan sekadar wacana besar atau pidato panjang melainkan desain konkret, kerja bersama, kehadiran nyata di lapangan, dan keberanian mengeksekusi tahap demi tahap.
“Lapangan kerja tidak lahir dari retorika melalui pidato yang panjang. Ia lahir dari kepastian arah, konsistensi tindakan dan eksekusi yang nyata,” tegasnya.
Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap semangat membangun kampung halaman dan memperkuat kerja sama lintas sektor.
“NTT tidak kekurangan potensi. Yang harus kita perkuat adalah eksekusi dan rasa percaya. Tetap semangat kita bangun kampung” ujarnya.(SP)













