So’e, NTTPedia.id,- Jalan berlumpur, tanjakan curam, dan tikungan panjang yang membelah perbukitan Timor Tengah Selatan menjadi tantangan nyata di tengah musim hujan yang terus mengguyur wilayah itu. Dari Kupang menuju Desa Meusin di Kecamatan Boking, perjalanan bukan sekadar menempuh jarak, tetapi menaklukkan medan yang berat dan melelahkan.
Di tengah kondisi itu, langkah Esther Meilany Siregar Kamlasi tak surut. Istri Simon Petrus Kamlasi itu memilih menembus jalan rusak menuju pedalaman demi satu tujuan: memastikan anak-anak di pelosok TTS mendapat kesempatan belajar dengan fasilitas yang lebih baik.
Gedung PAUD itu dibangun oleh Simon Petrus Kamlasi bersama Istri Esther Meilany Siregar. Berdirinya gedung PAUD didaerah terisolasi ini merupakan buah cinta dan kepedulian SPK bersama istri untuk menghadirkan fasilitas pendidikan bagi masyarakat didaerah terdepan, terluar dan terpencil.
Sejak pagi, sekitar pukul 09.00 Wita, Esther berangkat dari Kupang. Perjalanan panjang itu ditempuh berjam-jam, melintasi ruas jalan yang di sejumlah titik dipenuhi lumpur dan genangan, sebelum akhirnya tiba di Desa Meusin pada Kamis,14/5/2026.
Warga, para orang tua murid, dan guru-guru telah menunggu sejak siang, menyambut kedatangannya dengan wajah penuh harap.
Kehadiran Esther di desa itu bukan sekadar kunjungan seremonial. Ia datang untuk meresmikan gedung PAUD Diakonia Tuameta sekaligus menghadiri pelepasan peserta didik tahun ajaran 2024/2025. Di tengah kesederhanaan desa yang jauh dari pusat kota, bangunan itu berdiri sebagai tanda baru bahwa pendidikan anak-anak pedalaman tidak dilupakan.
Suasana haru terasa ketika Esther berdiri di hadapan para orang tua dan guru. Dengan suara pelan namun tegas, ia mengajak seluruh warga menjaga apa yang telah dibangun bersama. Menurutnya, gedung sekolah hanyalah awal, bukan akhir dari perjuangan.
” Kalau masih ada yang kurang, akan kita lengkapi. Ada usulan infokus untuk menunjang pembelajaran, itu akan kita bantu supaya anak-anak bisa belajar lebih nyaman,” ujarnya, disambut tepuk tangan panjang dari warga.
Kalimat sederhana itu membuat sejumlah orang tua menundukkan kepala, sebagian tersenyum haru. Bagi mereka, perhatian yang datang hingga ke desa terpencil seperti Meusin adalah sesuatu yang jarang terjadi. Bantuan itu bukan hanya bangunan, tetapi secercah harapan agar anak-anak mereka bisa tumbuh dengan masa depan yang lebih baik.
Mengusung tema Melangkah Bersama Menuju Cita-Cita, acara itu menjadi ruang kecil yang menyimpan harapan besar. Puluhan anak tampak mengenakan seragam sederhana, menerima bingkisan dari Esther dengan mata berbinar. Tawa mereka pecah di halaman sekolah, memecah dinginnya sore di perbukitan Boking.
Kepala PAUD Diakonia Tuameta, Yohanis Kase, menyampaikan rasa syukur atas perhatian keluarga Kamlasi. Menurutnya, dukungan yang diberikan selama ini sangat berarti bagi keberlangsungan pendidikan di desa tersebut.
” Terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Simon Petrus Kamlasi dan Ibu Esther Meilany Siregar Kamlasi. Ini bukan hanya gedung, tapi harapan bagi anak-anak kami. Kami merasa tidak sendiri memperjuangkan pendidikan di pedalaman,” katanya.

Suara yang sama datang dari warga. Imanuel Banunaek mengaku masyarakat terharu karena perhatian terhadap pendidikan di pelosok Boking selama ini sangat terbatas. Menurutnya, gedung PAUD itu menjadi bukti bahwa anak-anak desa juga berhak bermimpi besar.
“Anak-anak di sini juga punya cita-cita. Mereka ingin jadi guru, tentara, dokter. Kehadiran gedung ini membuat kami percaya, jalan menuju itu mulai dibuka,” ujarnya.
Senja mulai turun ketika acara berakhir. Kabut tipis menyelimuti perbukitan, sementara jalan panjang yang sama menanti untuk kembali dilalui. Namun di balik lumpur, hujan, dan medan berat, ada pesan yang tertinggal di Desa Meusin sore itu: pengabdian kadang tidak datang lewat pidato besar, melainkan lewat langkah yang rela menembus jalan paling sulit demi masa depan anak-anak di ujung negeri. (Dai)







