Gempa Flores Lumpuhkan UMKM, Julie Laiskodat Dorong Kemudahan Akses Kredit

- Jurnalis

Jumat, 25 September 2026 - 09:05 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, NTTPedia.id,- Gempa bumi yang melanda wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak hanya menyebabkan kerusakan bangunan tetapi juga melumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

 

Kondisi tersebut mendapat perhatian Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi NasDem, Julie Sutrisno Laiskodat. Ia meminta pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencarikan solusi pembiayaan bagi pelaku UMKM yang terdampak bencana agar mereka dapat kembali menjalankan usahanya.

 

Julie mengatakan, para pelaku UMKM saat ini menghadapi situasi sulit. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan mengurus kondisi pascabencana saja sudah kewalahan, sementara usaha yang menjadi sumber penghasilan mereka belum dapat berjalan normal.

 

” Para UMKM yang kena bencana di Nusa Tenggara Timur, khususnya di Flores, sekarang kebingungan. Untuk mengurus diri saja mereka sudah kewalahan. Mereka sangat kesulitan mencari nafkah, apalagi UMKM mereka tidak bergerak sekarang,” ujar Julie dalam sebuah kesempatan.

 

Menurutnya, persoalan semakin berat karena sebagian pelaku UMKM masih memiliki tunggakan atau pinjaman yang harus dibayarkan. Pinjaman tersebut tidak hanya berasal dari bank Himbara, tetapi juga bank swasta.

 

Karena itu, Julie meminta OJK memberikan perhatian terhadap kondisi pelaku UMKM terdampak bencana. Ia mengingatkan agar kewajiban kredit tidak justru menjadi hambatan bagi mereka untuk bangkit setelah bencana.

 

” Jadi minta tolong OJK, karena nanti kalau kena di SLIK lagi, berarti setelah bencana mereka akan kesulitan untuk bergerak,” katanya.

 

Julie juga menyinggung keterbatasan akses pembiayaan formal bagi masyarakat di NTT. Menurutnya, keberadaan BPR di sejumlah wilayah masih terbatas, sementara masyarakat lebih banyak mengenal koperasi sebagai salah satu sumber pembiayaan.

 

Namun, ia mengingatkan adanya praktik pinjaman harian yang berpotensi membebani masyarakat, khususnya pelaku UMKM yang membutuhkan modal dalam jumlah kecil dan cepat.

 

” Banyak sekali masyarakat tahunya koperasi, tetapi sebenarnya ada yang namanya koperasi harian. Takutnya itu bukan koperasi harian, tetapi rentenir,” ujarnya.

 

Menurut Julie, keterbatasan akses terhadap perbankan membuat sebagian masyarakat akhirnya mencari pembiayaan melalui jalur informal. Padahal, ketika membutuhkan modal usaha, mereka juga menghadapi kendala seperti persyaratan jaminan dan proses pengajuan yang dianggap sulit.

 

Ia menilai jangkauan sosialisasi perbankan, termasuk bank Himbara, perlu diperluas agar masyarakat di daerah dapat mengetahui dan mengakses pembiayaan formal.

 

Julie juga menyinggung persoalan pinjaman online (pinjol). Berdasarkan pengamatannya, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui dengan jelas layanan pinjaman online yang resmi dan yang ilegal.

 

” Mereka cuma karena kebutuhan hari-hari, maupun juga kebutuhan untuk modal kecil-kecilan,” katanya.

 

Ia mencontohkan pelaku usaha kecil yang membutuhkan modal cepat untuk memproduksi makanan olahan. Menurutnya, proses pembiayaan yang terlalu panjang dapat menjadi kendala bagi usaha yang membutuhkan perputaran modal secara cepat.

 

” Kadang-kadang mau jualan keripik, misalnya dari pisang mau jualan keripik. Bagaimana prosesnya kalau ke Himbara saja mungkin sudah makan waktu, pisangnya sudah busuk sendiri,” ujar Julie.

 

Karena itu, Julie mendorong pemerintah dan sektor jasa keuangan mencari skema yang dapat membantu UMKM terdampak bencana kembali berusaha, tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit.

 

Ia menilai UMKM memiliki kontribusi penting terhadap perekonomian daerah maupun nasional sehingga keberlangsungan usaha mereka perlu mendapat dukungan, terutama setelah menghadapi bencana.

 

” Saya berharap NTT ini, karena koperasi hariannya itu sangat merajalela, bagaimana supaya Himbara bisa, bukan menurunkan level, tetapi paling tidak sosialisasinya benar-benar lebih gencar lagi dan kreditnya itu benar-benar bisa dipermudah kepada UMKM,” katanya.

 

Dengan kemudahan akses pembiayaan yang tetap sesuai ketentuan, Julie berharap pelaku UMKM di NTT tidak terpaksa bergantung pada pinjaman informal maupun pinjaman online ilegal untuk memenuhi kebutuhan modal usaha.(AP)

Berita Terkait

Kredit Petani Rumput Laut Sumba Timur Catat NPL 0 Persen, Bank NTT Raih Apresiasi ILO
Julie Sutrisno Laiskodat Tak Hanya Cetak Juara, tetapi Siapkan Masa Depan Atlet Kempo NTT
Gempa M6,1 Sumba Barat Daya, 91 Rumah Rusak dan 3 KK Mengungsi
Gilang Asal Ende Raih Runner Up Putra Pariwisata Indonesia 2026, Levico Butik Jadi Pendukung Utama
Pendidikan Jadi Satu-satunya Kelompok yang Deflasi di NTT, Capai 3,25 Persen
Gempa M3,1 Kembali Guncang Kabupaten Kupang, Berpusat di Laut
Korban Gempa Flores Dimintai Uang Rp10 Ribu Saat Terima Bantuan, Staf Desa Beri Penjelasan
Huntara Belum Siap, Fraksi PDIP DPRD NTT Minta Tanggap Darurat Gempa Flores Diperpanjang

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 13:47 WIB

Kredit Petani Rumput Laut Sumba Timur Catat NPL 0 Persen, Bank NTT Raih Apresiasi ILO

Rabu, 14 Oktober 2026 - 08:37 WIB

Julie Sutrisno Laiskodat Tak Hanya Cetak Juara, tetapi Siapkan Masa Depan Atlet Kempo NTT

Senin, 5 Oktober 2026 - 19:51 WIB

Gempa M6,1 Sumba Barat Daya, 91 Rumah Rusak dan 3 KK Mengungsi

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 18:31 WIB

Gilang Asal Ende Raih Runner Up Putra Pariwisata Indonesia 2026, Levico Butik Jadi Pendukung Utama

Kamis, 1 Oktober 2026 - 20:35 WIB

Pendidikan Jadi Satu-satunya Kelompok yang Deflasi di NTT, Capai 3,25 Persen

Berita Terbaru

Bola & Sports

Soe, Udara Sejuk dan Harapan Menjadi Tuan Rumah PON 2028

Sabtu, 17 Okt 2026 - 20:12 WIB