Kupang, NTTPedia.id,- Kelompok pendidikan menjadi satu-satunya kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada September 2026.
Berdasarkan keterangan Kepala BPS NTT, Matamira B. Kale, dalam jumpa pers virtual, Kamis, 01/10/2026, kelompok pendidikan mengalami deflasi sebesar 3,25 persen pada September 2026.
Sementara secara tahunan, NTT mengalami inflasi sebesar 2,67 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 110,35.
Matamira mengatakan, inflasi year on year (y-on-y) September 2026 terjadi karena kenaikan harga pada 10 dari 11 kelompok pengeluaran.
Selain pendidikan, seluruh kelompok pengeluaran lainnya tercatat mengalami kenaikan.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik 1,82 persen, pakaian dan alas kaki 2,80 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 1,84 persen, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 1,34 persen, serta kesehatan 2,01 persen.
Selanjutnya, kelompok transportasi naik 4,03 persen, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 2,50 persen, rekreasi, olahraga dan budaya 0,65 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 2,45 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya melonjak 12,03 persen.
Matamira mengatakan, deflasi pada kelompok pendidikan sebesar 3,25 persen menjadi penahan inflasi NTT.
Menurut dia, kondisi tersebut terjadi seiring dimulainya tahun ajaran baru dengan kebijakan biaya pendidikan yang relatif stabil di sejumlah daerah.
Secara bulanan, NTT justru mengalami deflasi sebesar 0,35 persen pada September 2026. Sementara inflasi tahun kalender Januari hingga September 2026 tercatat 1,29 persen.
Di sisi lain, terdapat disparitas inflasi antarwilayah di NTT. Inflasi tertinggi terjadi di Waingapu sebesar 3,58 persen, sedangkan terendah berada di Timor Tengah Selatan (TTS) sebesar 1,04 persen.
Matamira mengatakan inflasi NTT sebesar 2,67 persen masih dalam rentang terkendali, meski terdapat perbedaan cukup lebar antara Waingapu dan TTS.(AP)







