Akademisi Universitas Nusa Cendana Bedah Polemik Sekda Ngada, Soroti Ego Politik dan Lemahnya Koordinasi

- Jurnalis

Jumat, 13 Maret 2026 - 14:55 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kupang, NTTPedia.id,- Polemik pelantikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Ngada terus menuai sorotan. Akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nusa Cendana menilai sengkarut birokrasi tersebut bukan sekadar persoalan administratif, tetapi mencerminkan benturan relasi kuasa yang berpotensi mengganggu stabilitas pemerintahan dan pelayanan publik di NTT.

 

Diskusi publik bertajuk “Sengkarut Birokrasi dan Relasi Kuasa” menghadirkan sejumlah pakar, di antaranya William Djani, Josef Nae Soi, dan Rudi Rohi.

 

Koordinasi Lemah, Ego Politik Menguat

 

Menurut Josef Nae Soi, polemik ini menunjukkan lemahnya komunikasi politik antara pemerintah kabupaten dan provinsi. Ia menegaskan bahwa pengisian jabatan strategis seperti Sekda menuntut koordinasi intensif guna menjaga stabilitas birokrasi.

 

Ia mendorong kepala daerah untuk mengedepankan dialog dan mediasi sebelum menempuh jalur hukum agar pelayanan publik tidak terganggu.

 

Otonomi Daerah Tak Bersifat Absolut

 

Sementara itu, William Djani menilai praktik otonomi daerah di tingkat lokal masih belum matang. Menurutnya, kewenangan bupati dalam melantik Sekda tetap berada dalam kerangka hierarki pemerintahan yang mengharuskan koordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat.

 

Jika proses administratif tidak terpenuhi secara kumulatif, maka penataan birokrasi berpotensi terganggu dan masyarakat menjadi pihak yang paling dirugikan.

 

Tarik-Menarik Kekuasaan Hukum dan Politik

Dari perspektif politik, Dr. Rudi Rohi menilai kasus ini merupakan benturan antara legitimasi hukum (de jure) dan legitimasi politik (de facto). Ia menegaskan bahwa prosedur administrasi bersifat mengikat dan tidak boleh diabaikan demi kepentingan pragmatis.

 

Rekomendasi Rekonsiliasi

 

Forum akademik tersebut merekomendasikan rekonsiliasi politik serta penghormatan terhadap hierarki pemerintahan sebagai jalan keluar. Penyelesaian melalui dialog konstruktif dinilai penting agar pemerintah daerah kembali fokus pada agenda pembangunan.(AP)

Berita Terkait

Reses di Maulafa, Viktor Laiskodat Janjikan Empat Sumur Bor hingga Program Pendidikan Anak
Maisie A.C Nahas Bawa Nama NTT ke Panggung Budaya Indonesia–Malaysia 2026
BRI Serahkan Ambulans untuk Dukung Peningkatan Layanan Kesehatan di Ruteng
Lindungi Keuangan Keluarga, Julie Laiskodat Ingatkan Bahaya Pinjol Ilegal dan Judol
Geografi Kepulauan Jadi Tantangan TKA di NTT, Kadis PK Minta Kesetaraan Akses
Dinas Pendidikan NTT Susun dan Telaah Soal TKA SD-SMP untuk Persiapan Ujian 2027
BBM Subsidi Langka di NTT, PA GMNI NTT Desak Evaluasi Kuota dan Pengawasan Distribusi
Bank NTT Mulai Restrukturisasi Kredit Terdampak Gempa Flores, Portofolio Capai Rp79 Miliar

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 11:16 WIB

Maisie A.C Nahas Bawa Nama NTT ke Panggung Budaya Indonesia–Malaysia 2026

Kamis, 29 Oktober 2026 - 11:56 WIB

BRI Serahkan Ambulans untuk Dukung Peningkatan Layanan Kesehatan di Ruteng

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:47 WIB

Lindungi Keuangan Keluarga, Julie Laiskodat Ingatkan Bahaya Pinjol Ilegal dan Judol

Rabu, 14 Oktober 2026 - 20:51 WIB

Geografi Kepulauan Jadi Tantangan TKA di NTT, Kadis PK Minta Kesetaraan Akses

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:22 WIB

Dinas Pendidikan NTT Susun dan Telaah Soal TKA SD-SMP untuk Persiapan Ujian 2027

Berita Terbaru