Kupang, NTTPedia.id – Tujuh siswa SMK Teknik Anugerah Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), berhasil membuat kagum Wakil Wali Kota Kupang Serena Francis, lewat inovasi tongkat pintar berbasis Internet of Things (IoT) untuk penyandang tunanetra.
Karya tersebut dipamerkan dalam ajang Filosi Robotic Competition and Expo 2026 tingkat SD, SMP, SMA/SMK hingga perguruan tinggi yang digelar di kantor Satpel BPVP Kupang, Rabu (22/5/2026).
Saat meninjau stan peserta, Serena Francis tampak tertarik dengan tongkat pintar yang dipamerkan tim dari SMK Teknik Anugerah Soe.
Sekilas alat tersebut terlihat seperti tongkat biasa, namun memiliki teknologi pendeteksi hambatan yang dirancang untuk membantu aktivitas penyandang tunanetra. Serena bahkan mencoba langsung alat tersebut.
Tongkat pintar itu mampu mendeteksi benda di sekitar dalam jangkauan hingga satu meter dan memberikan peringatan suara ketika terdapat penghalang.
“Bagus, kalian membantu banyak orang. Nanti coba hitung biaya produksi alat ini jika dipasarkan secara luas,” kata Serena kepada juru bicara tim, Rane Nubatonis.
Ia menilai inovasi tersebut sangat bermanfaat dan berpotensi dikembangkan lebih lanjut agar bisa diproduksi secara massal untuk membantu penyandang tunanetra.
“Kalian hebat. Tinggalkan nomor kontak kalian. Tolong terus kembangkan alat ini supaya lebih baik dan lebih rapi. Hitung juga biaya produksinya agar nanti bisa kita bantu pasarkan, karena alat ini sangat membantu banyak orang,” ujar Serena.
Juru bicara tim, Rane Nubatonis, mengatakan ide pembuatan tongkat pintar itu muncul dari keinginan mereka membantu penyandang tunanetra agar lebih aman saat beraktivitas.
Menurutnya, alat tersebut bekerja menggunakan sensor ultrasonik yang mampu mendeteksi benda atau orang di depan pengguna dengan jangkauan sekitar satu meter.
“Ketika ada penghalang, alat ini akan memberikan sinyal bunyi kepada pengguna agar segera menghindar,” jelas Rane.
Tongkat pintar setinggi 80 sentimeter itu dibuat menggunakan sejumlah komponen sederhana seperti tongkat utama, sensor ultrasonik, kabel jumper, arduino uno, dan baterai.
Rane mengungkapkan, total biaya pembuatan alat tersebut mencapai sekitar Rp1 juta. Namun jika dikembangkan lebih lanjut dengan tambahan fitur GPS dan kamera, biaya produksinya diperkirakan bisa mencapai lebih dari Rp5 juta.
Adapun tujuh siswa yang terlibat dalam pembuatan tongkat pintar tersebut yakni Ranes Radysom Nubatonis, Diswan Mariston Bana, Mario Gabriel Kefi, Erna Tefa, Yonardi Agustinus Talan, Fidentius Wempi Naitboho, dan Fiona Graselia Liunome.







