Kupang, NTTPedia.id,- Tim Penggerak (TP) PKK Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menegaskan komitmennya dalam memperkuat perlindungan anak melalui penguatan peran keluarga, edukasi pola asuh (parenting), serta literasi digital pada Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) Tahun 2026 Tingkat Provinsi yang digelar di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT, Sabtu 25/7/2026. Kegiatan mengusung tema nasional “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan” sebagai momentum mengajak seluruh elemen masyarakat menjamin terpenuhinya hak-hak anak demi mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045.
Ketua TP PKK Provinsi NTT, Ny. Mindriyati Astiningsih Laka Lena, mengatakan kasih sayang merupakan fondasi utama tumbuh kembang anak. Namun, menurutnya, kasih sayang harus diwujudkan melalui tindakan nyata berupa perlindungan dari berbagai ancaman, mulai dari kekerasan, eksploitasi, perundungan, hingga paparan konten negatif di ruang digital.
” Kasih sayang yang tulus akan menumbuhkan rasa aman bagi anak. Dari rasa aman itulah mereka memiliki keberanian untuk bermimpi tinggi dan mengembangkan potensi terbaiknya. Namun, kasih sayang harus diiringi perlindungan yang nyata agar ruang hidup anak tetap aman, baik secara fisik maupun psikologis,” kata istri Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena ini, Jumat, 24/07/2026.
Ia mengungkapkan, NTT saat ini memiliki sekitar 1.662.866 anak atau 28,95 persen dari total penduduk. Karena itu, seluruh pihak memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan hak-hak mereka atas pendidikan, kesehatan, gizi, perlindungan, dan lingkungan yang aman dapat terpenuhi. Berbagai persoalan seperti kekerasan terhadap anak, kekerasan seksual, perkawinan anak, hingga anak yang berhadapan dengan hukum masih menjadi tantangan besar dalam membangun generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Sebagai bentuk komitmen tersebut, TP PKK NTT terus memperkuat peran keluarga sebagai garda terdepan perlindungan anak melalui berbagai program parenting, mendorong sinergi lintas sektor dalam pemenuhan hak dasar anak, menyediakan ruang ramah anak untuk berekspresi, serta mengampanyekan gerakan anti-kekerasan melalui penerbitan Kartu Identitas Anak (KIA) dan video edukasi “Kujaga Diriku”. TP PKK juga mengajak seluruh keluarga menerapkan pola asuh positif tanpa kekerasan, memenuhi kebutuhan gizi, kesehatan, dan pendidikan anak, serta melindungi mereka dari penyalahgunaan teknologi digital.
Peringatan HAN 2026 tidak hanya dikemas sebagai seremoni, tetapi juga menjadi ruang edukasi bagi anak, guru, dan orang tua. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya perlindungan dan pemenuhan hak anak, memberikan ruang bagi anak mengembangkan kreativitas, mengedukasi orang tua mengenai digital parenting, sekaligus memfasilitasi suara anak agar didengar para pemangku kebijakan.
Rangkaian kegiatan meliputi edukasi mengenai kesehatan fisik, kesehatan mental, dan keamanan digital anak, pelatihan storytelling dan public speaking, etika berinternet, pengenalan cara mengatasi stres pada remaja, sosialisasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola dan Perlindungan Anak di Ruang Digital, serta sosialisasi Peraturan Gubernur NTT tentang Gerakan Jam Belajar Masyarakat. Selain itu, peserta juga mengikuti pentas kreativitas anak, layanan pemeriksaan kesehatan gratis, dan pelayanan administrasi kependudukan.
Menutup sambutannya, Ny. Mindriyati Astiningsih Laka Lena mengajak seluruh masyarakat menjadikan Hari Anak Nasional sebagai pengingat bahwa anak merupakan amanah sekaligus harapan masa depan bangsa. Ia mengajak orang tua, sekolah, pemerintah, dan masyarakat untuk terus mendengar suara anak, memenuhi hak-hak mereka, serta menjadi teladan dalam membangun karakter generasi penerus.
” Selamat Hari Anak Nasional 2026 kepada seluruh anak Indonesia, khususnya anak-anak NTT. Ayo Bangun NTT dengan memastikan setiap anak tumbuh sehat, cerdas, berkarakter, dan terlindungi,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Pokja II TP PKK Provinsi NTT, Theresia M. Florensia, mengatakan pelaksanaan HAN 2026 dirancang sebagai kegiatan yang edukatif, partisipatif, dan menyenangkan dengan melibatkan sekitar 300 peserta yang terdiri atas siswa SMP dan SMA, guru pendamping, kelompok rentan dan penyandang disabilitas, serta panitia.
Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan HAN 2026 merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi NTT hingga mitra pembangunan seperti UNICEF, INOVASI, PKBI, Forum Anak, Pokja Bunda PAUD, Pokja Bunda Literasi, dan TP Posyandu NTT. Sinergi tersebut diharapkan semakin memperkuat upaya perlindungan anak dan pemenuhan hak-hak anak di Nusa Tenggara Timur.
Ia menjelaskan, kegiatan diawali dengan senam bersama yang melibatkan peserta dari jenjang TK, PAUD, SD, SMP, hingga SMA. Selanjutnya, peserta mengikuti registrasi dan seremoni pembukaan sebelum memasuki dua sesi panel edukasi yang menghadirkan materi storytelling dan public speaking untuk anak, etika berinternet, kesehatan mental remaja, sosialisasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola dan Perlindungan Anak di Ruang Digital, serta sosialisasi Peraturan Gubernur NTT tentang Gerakan Jam Belajar Masyarakat.
Selain sesi edukasi, panitia juga menyiapkan pentas kreativitas anak yang menampilkan musik, tari tradisional, dan pembacaan puisi. Di lokasi kegiatan turut disediakan layanan pemeriksaan kesehatan gratis oleh Dinas Kesehatan Provinsi NTT serta pelayanan administrasi kependudukan bagi masyarakat.
Theresia menambahkan, pelaksanaan HAN 2026 menargetkan sekitar 300 peserta yang terdiri atas siswa SMP dan SMA, guru pendamping, kelompok rentan dan penyandang disabilitas, serta panitia. Kegiatan ini didukung berbagai perangkat daerah dan mitra pembangunan, di antaranya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Kesehatan, Dinas Dukcapil, UNICEF, INOVASI, PKBI, Forum Anak, Pokja Bunda PAUD, Pokja Bunda Literasi, dan TP Posyandu NTT. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi wujud komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan yang aman, sehat, inklusif, dan ramah anak di Nusa Tenggara Timur.(AP)







