Kupang, NTTPedia.id,- Pembangunan di Provinsi NTT membutuhkan lompatan paradigma yang menyesuaikan karakter geografis daerah terutama sebagai wilayah semi-arid dengan curah hujan pendek, tingkat evaporasi tinggi, dan distribusi air yang tidak merata. Dalam kondisi tersebut, persoalan utama NTT bukan semata kekurangan air melainkan keterbatasan sistem penyimpanan dan distribusi air hingga menjangkau lahan produktif masyarakat.
Berangkat dari kondisi itu, Tenaga Ahli Kemenko Pangan RI, Simon Petrus Kamlasi (SPK) memberikan gagasan pembangunan ribuan embung geomembran yang terhubung dalam sistem distribusi berbentuk jaring laba-laba sebagai model baru membangun ketahanan air dan pangan di NTT.
Sosok yang akrab disapa SPK ini mengatakan wilayah seperti NTT tidak bisa lagi dibangun dengan pendekatan infrastruktur yang seragam dengan daerah basah. Dibutuhkan pendekatan ecological engineering atau rekayasa ekologis, yakni pembangunan yang menyesuaikan desain infrastruktur dengan karakter ekologi setempat agar air, lahan dan aktivitas ekonomi masyarakat saling terhubung.
” NTT ini daerah semi-arid. Tantangannya bukan hanya kurang air, tetapi bagaimana air yang turun bisa ditangkap, disimpan, lalu didistribusikan dekat dengan lahan pertanian rakyat. Karena itu, kita perlu rekayasa ekologis yang sesuai dengan kondisi daerah,” kata SPK dalam sebuah diskusi belum lama ini di Kota Kupang.
Ia menjelaskan konsep tersebut dapat dilakukan dengan membangun embung-embung geomembran di berbagai titik strategis dari hulu hingga hilir sungai. Setiap embung berfungsi sebagai jebakan air untuk menahan aliran hujan agar tidak seluruhnya langsung terbuang ke laut. Air kemudian dialirkan melalui jaringan irigasi yang saling terkoneksi menyerupai jaring laba-laba, sehingga distribusi air menjangkau kawasan pertanian rakyat secara lebih luas.
Secara teknis, geomembran dinilai efektif karena mampu menekan kehilangan air akibat rembesan, meningkatkan kapasitas penyimpanan, serta memperkuat cadangan air tanah di kawasan sekitar. Dalam jangka menengah sistem ini diyakini dapat memperbaiki kesuburan lahan, menambah debit sumur warga, dan meningkatkan frekuensi tanam dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun.
SPK menjelaskan gagasan tersebut bukan sekadar konsep teoritis. Teknologi geomembran telah diterapkan pada sektor industri pertanian di PT Muria Sumba Manis di Sumba, yang menggunakan geomembran untuk sistem penampungan air dan mendukung suplai irigasi tetes di kawasan perkebunan tebu.
Menurutnya, praktik di PT Muria Sumba Manis menjadi contoh bahwa teknologi tersebut sudah teruji di wilayah kering NTT dan dapat direplikasi dalam skala lebih luas untuk pertanian masyarakat.
” Kalau skala industri bisa, maka seharusnya skala pertanian rakyat juga bisa diterapkan. Tinggal desainnya disesuaikan. Yang kita dorong adalah air sedekat mungkin dengan lahan produksi masyarakat,” jelasnya.
Dalam konteks pembangunan infrastruktur, SPK menilai pemerintah perlu mulai mempertimbangkan efektivitas antara membangun satu bendungan besar dengan anggaran triliunan rupiah dibanding membangun ribuan embung geomembran yang tersebar di berbagai desa.
Menurutnya, pendekatan embung tersebar lebih adaptif untuk wilayah kering karena persoalan utama NTT bukan hanya volume air, tetapi jarak antara sumber air dan lahan pertanian. Semakin dekat air dengan titik produksi, semakin rendah biaya distribusi, semakin tinggi efisiensi, dan semakin cepat dampak ekonominya dirasakan masyarakat.
Ia menyebut embung-embung tersebut dapat dihubungkan melalui sistem jaringan air berbasis jaring laba-laba yang membentuk konektivitas hidrologis antarkawasan. Dengan model ini, sungai-sungai besar tidak hanya menjadi jalur aliran menuju laut tetapi berubah menjadi tulang punggung distribusi air regional.
SPK menilai sistem tersebut mampu membangun water resilience system atau sistem ketahanan air yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim. Ketika musim hujan datang, air dapat ditangkap di ribuan titik retensi. Saat kemarau, cadangan air tetap tersedia untuk pertanian, peternakan, dan kebutuhan masyarakat.
” Kalau ini dilakukan secara serius, NTT bisa menjadi model pembangunan wilayah kering untuk Indonesia. Kita jangan selalu merasa kecil. Justru dari NTT bisa lahir paradigma baru pembangunan nasional yang sesuai dengan karakter alam daerah, ” kata SPK.
Dua Sungai Besar Pulau Timor Jadi Basis Rekayasa Ekologis
Keberhasilan pemanfaatan teknologi geomembran untuk sistem penampungan air di PT Muria Sumba Manis di Pulau Sumba dinilai dapat menjadi model awal pengembangan rekayasa ekologis di Pulau Timor. Menurut Simon Petrus Kamlasi, potensi dua sungai besar yakni Sungai Noelmina dan Sungai Noemuti dapat menjadi tulang punggung sistem embung terintegrasi untuk membangun ketahanan air, mendukung pertanian rakyat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan di Pulau Timor.
Sungai Noelmina membentang hingga wilayah selatan dan bermuara ke arah Kolbano, sementara Sungai Noemuti menjangkau kawasan timur-utara hingga wilayah Benanain. Di antara keduanya, terdapat jaringan sungai-sungai kecil yang tersebar ke utara hingga kawasan Amfoang serta ke arah Oepoli di perbatasan dengan Timor-Leste.
Menurutnya, jika jaringan sungai tersebut dikelola dalam skema jaring laba-laba setiap aliran air dapat ditahan melalui embung-embung kecil yang saling terhubung. Konektivitas antar embung dapat menggunakan teknologi geomembran, sedangkan pada titik yang berdekatan dapat diterapkan prinsip bejana berhubungan untuk mengefisienkan distribusi air antarkawasan.
Dengan model ini, jutaan meter kubik air hujan tidak lagi langsung mengalir ke laut, tetapi tertahan di darat untuk disimpan dan dimanfaatkan bagi pertanian serta kebutuhan masyarakat.

Ia menilai sistem tersebut juga akan berdampak terhadap perubahan iklim mikro kawasan. Air yang tertahan di embung akan menghasilkan penguapan lokal, yang selanjutnya dapat membentuk awan di kawasan pegunungan seperti Gunung Mutis dan berpotensi memicu hujan lokal secara berulang.
Sebagai pembanding, SPK menyebut pola serupa dapat dilihat di Cisarua di kaki Gunung Gede Pangrango, di mana banyaknya tampungan air menciptakan penguapan yang kemudian tertahan di pegunungan dan memicu hujan lokal.
Menurutnya, prinsip ekologis yang sama dapat direkayasa untuk Pulau Timor.
“Kalau ini dimulai dari beberapa titik percontohan, lalu diperluas secara bertahap, saya yakin Pulau Timor bisa berubah. Bukan hanya lebih hijau, tapi juga lebih produktif dan lebih kuat secara ekonomi,” ujarnya.







