Ruteng, NTTPedia.id,- Yayasan Andre Tjipta Cendekia Indonesia (YATC Indonesia) kembali melaksanakan misi kemanusiaan di Desa Cambir Leca, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Kegiatan tersebut melibatkan 58 relawan dari berbagai profesi dan latar belakang, mulai dari dokter, apoteker, mahasiswa hingga kreator konten dari berbagai daerah di Indonesia.
Kegiatan dipusatkan di Rumah Gendang Narang dan disambut hangat oleh masyarakat serta tokoh adat setempat. Suasana kekeluargaan terlihat sejak awal penyambutan para relawan yang datang membawa berbagai program pelayanan sosial dan kesehatan bagi masyarakat desa.
Ketua YATC Indonesia, Andre Parmonangan Panjaitan menjelaskan, pengabdian yang dilakukan YATC tidak hanya berfokus pada bantuan sesaat, tetapi juga pada upaya meninggalkan pengetahuan dan edukasi yang dapat diterapkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menyebut, NTT memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan pengabdian YATC Indonesia. Kegiatan di Manggarai kali ini menjadi proyek keenam YATC di NTT setelah sebelumnya melaksanakan kegiatan serupa di Sumba Timur, Manggarai dan Manggarai Barat.
” Kami tidak hanya datang untuk memberikan bantuan, tetapi juga ingin berbagi pengetahuan sederhana yang bisa bermanfaat bagi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari,” kata Andre dalam rilis yang diterima NTTPedia.id, Selasa, 26/05/2026.
Andre mengatakan YATC Indonesia bergerak melalui empat pilar utama yakni kesehatan, pendidikan, lingkungan, serta pariwisata dan ekonomi kreatif. Melalui empat bidang tersebut, YATC berupaya membantu masyarakat membangun kehidupan yang lebih sehat, mandiri dan berdaya.
Pada sektor kesehatan, relawan memberikan layanan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis kepada masyarakat. Warga mendapatkan pemeriksaan kondisi kesehatan umum, konsultasi medis, serta edukasi mengenai pola hidup sehat dan pencegahan penyakit.
Kepala Desa Cambir Leca, Tode Durhaman mengapresiasi kegiatan kemanusiaan yang dilakukan YATC Indonesia di wilayahnya.
” Kami sangat berbangga dan bersyukur. Kehadiran YATC yang diketuai dr. Andre Parmonangan sungguh-sungguh membawa dampak positif bagi masyarakat, khususnya melalui layanan cek kesehatan gratis, edukasi kesehatan dan rentetan kegiatan sosial lainnya yang luar biasa,” katanya.

Selain pelayanan kesehatan umum, salah satu fokus utama kegiatan tersebut adalah edukasi mengenai penanganan luka sederhana di rumah. Tim medis YATC menilai masih banyak masyarakat yang menganggap luka kecil seperti lecet, goresan, luka tertusuk benda tajam, atau luka akibat penggunaan alas kaki sebagai hal biasa yang akan sembuh sendiri.
Padahal, menurut tim medis, luka yang tidak dibersihkan dan dirawat dengan benar dapat berkembang menjadi infeksi dan menimbulkan masalah kesehatan yang lebih serius. Kondisi tersebut dinilai lebih berisiko bagi penderita diabetes atau kencing manis karena luka pada kaki sering kali tidak terasa akibat gangguan saraf.
Akibatnya, luka baru disadari saat kondisinya sudah membesar, bernanah, berbau atau sulit sembuh. Karena itu, masyarakat diingatkan agar tidak menunggu luka menjadi parah sebelum mencari pertolongan medis.
Dalam sesi edukasi kesehatan, masyarakat diberikan pemahaman mengenai langkah-langkah sederhana merawat luka di rumah. Warga diajarkan membersihkan luka menggunakan air bersih mengalir atau cairan NaCl 0,9 persen untuk menghilangkan kotoran yang menempel pada area luka.
Tim medis juga mengingatkan masyarakat agar tidak menaburkan bahan yang tidak steril pada luka seperti kopi, tumbukan daun, tanah atau bahan lain yang belum tentu bersih. Penggunaan bahan tersebut dinilai berisiko membawa kuman dan memicu infeksi.
Selain itu, masyarakat diajak memahami pentingnya menutup luka menggunakan kasa atau balutan bersih untuk melindungi luka dari debu, lalat dan kotoran. Balutan juga dianjurkan segera diganti apabila sudah basah, kotor atau merembes.
Dalam edukasi tersebut, warga turut diberikan pemahaman mengenai tanda-tanda bahaya pada luka seperti kemerahan, bengkak, terasa panas, nyeri yang semakin bertambah, keluar nanah, berbau atau disertai demam. Apabila kondisi tersebut muncul, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.
Tim medis YATC juga menjelaskan tidak semua luka dapat dirawat sendiri di rumah. Luka yang tidak membaik, semakin dalam, mengeluarkan cairan, berbau atau terasa semakin nyeri perlu segera diperiksa oleh tenaga kesehatan.
Dalam penanganan luka modern, tenaga medis tidak hanya melihat besar atau kecilnya luka, tetapi juga memperhatikan berbagai faktor penyebab luka sulit sembuh.
Tim medis memperkenalkan prinsip TIMERS, yakni metode penilaian luka secara menyeluruh mulai dari adanya jaringan mati, tanda infeksi, kelembapan luka, kondisi tepi luka, kemampuan tubuh membentuk jaringan baru hingga kemampuan pasien merawat luka secara mandiri di rumah.
Menurut tim medis, luka sulit sembuh dapat dipengaruhi berbagai faktor seperti infeksi, tekanan berulang, gangguan aliran darah, gula darah yang tidak terkontrol, kurang nutrisi hingga keterbatasan pasien dalam mengganti balutan secara rutin.
Pada kondisi tertentu, luka juga membutuhkan tindakan pembersihan khusus oleh tenaga medis. Bila luka sudah terlalu luas, terlalu dalam atau tidak kunjung membaik, pasien dapat membutuhkan penanganan lanjutan sesuai kondisi medis yang dialami.
Selain edukasi penanganan luka, YATC Indonesia juga memberikan perhatian khusus kepada penderita diabetes melalui edukasi perawatan kaki. Masyarakat diimbau rutin memeriksa telapak kaki, sela-sela jari dan tumit setiap hari, menggunakan alas kaki yang nyaman, serta menghindari berjalan tanpa alas kaki.
Tim relawan menekankan bahwa luka kecil bukan berarti tidak berbahaya karena dari luka kecil yang diabaikan dapat muncul masalah besar yang sebenarnya dapat dicegah sejak awal.







