Kupang, NTTPedia.id,- Tim dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk Pelatihan Perencanaan Pembangunan Desa yang Partisipatif dan Responsif Gender di Desa Oesena, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang.
Kegiatan yang dipimpin Eusabaius Separera Niron, S.IP., M.IP., bersama Bruno Rey Sonby Pantola, S.IP., M.IP., ini bertujuan meningkatkan kapasitas aparatur desa dan masyarakat dalam menyusun perencanaan pembangunan yang partisipatif, transparan, akuntabel, serta mampu mengakomodasi kebutuhan seluruh kelompok masyarakat tanpa diskriminasi.
Sekitar 30 peserta mengikuti pelatihan tersebut, terdiri dari unsur Pemerintah Desa Oesena, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh masyarakat, tokoh perempuan, pemuda, dan berbagai elemen masyarakat desa.
Dalam pemaparannya, tim dosen menjelaskan pentingnya pembangunan desa yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga memastikan seluruh warga memperoleh akses, kesempatan berpartisipasi, manfaat, dan ruang pengambilan keputusan secara setara. Materi yang diberikan meliputi penyusunan RPJM Desa, RKP Desa, APBDes yang responsif gender, hingga penguatan pelaksanaan Musyawarah Desa (Musdes) dan Musrenbang Desa yang lebih inklusif.
Kepala Desa Oesena, Nelson F. Boymau, membuka kegiatan tersebut dan menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan pelatihan yang dinilai mampu memperkuat kapasitas pemerintah desa dalam menyusun perencanaan pembangunan yang lebih baik.
Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Desa Oesena, Melki Pae, mengatakan pembahasan mengenai kesetaraan gender sangat penting agar masyarakat memiliki pemahaman yang benar mengenai peran, hak, dan tanggung jawab setiap individu dalam pembangunan desa.
“Selama ini masih ada anggapan bahwa seluruh keputusan pembangunan berada di tangan laki-laki. Padahal perempuan juga memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam proses pembangunan desa,” ujarnya.
Menurut Melki, pembangunan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan sumber daya manusia. Karena itu, laki-laki dan perempuan harus dilibatkan secara aktif dalam berbagai sektor, mulai dari ekonomi, pendidikan, kesehatan hingga pembangunan sosial.
Senada dengan itu, warga Desa Oesena, Alfiana Baok, menilai perempuan kini semakin menunjukkan perannya sebagai mitra sejajar dalam pembangunan desa. Ia berharap perempuan diberi ruang yang lebih luas untuk menyampaikan pendapat dan terlibat dalam proses pengambilan keputusan.
Selain penyampaian materi, peserta juga mengikuti diskusi kelompok dan studi kasus mengenai penyusunan prioritas pembangunan desa yang responsif terhadap kebutuhan seluruh warga.
Ketua Tim PkM, Eusabaius Separera Niron, menegaskan bahwa pengarusutamaan gender merupakan bagian penting dalam proses perencanaan pembangunan desa agar kebijakan yang dihasilkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara adil dan berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP UNWIRA Kupang berharap Pemerintah Desa Oesena semakin mampu menyusun dokumen perencanaan pembangunan berbasis kebutuhan masyarakat, memperkuat tata kelola pemerintahan desa yang partisipatif, serta mewujudkan pembangunan desa yang inklusif dan responsif gender.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui transfer pengetahuan, pendampingan, dan kolaborasi antara perguruan tinggi dengan masyarakat dalam mendukung pembangunan desa yang berkeadilan dan berkelanjutan.(rls)







