Kupang, NTTPedia.id,- Ketua TP PKK Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Mindriyati Astiningsih Laka Lena, menegaskan peningkatan kualitas anak di NTT harus dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor dengan mengedepankan langkah-langkah preventif dalam mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Hal tersebut disampaikan Mindriyati kepada sejumlah wartawan disela-sela peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT, Sabtu, 25/7/2026.
Menurutnya, TP PKK Provinsi NTT sejak awal telah menjadikan isu kekerasan terhadap perempuan dan anak sebagai salah satu fokus utama. Namun, upaya perlindungan tidak boleh hanya berfokus pada penanganan korban setelah peristiwa terjadi.
” Kita tidak bisa hanya fokus pada korban yang sudah mengalami kekerasan. Yang harus diperkuat adalah langkah preventif dan promotif, yaitu meningkatkan edukasi dan pemahaman masyarakat agar mampu melindungi diri dan tidak menjadi korban,” ujarnya.
Ia menjelaskan edukasi tidak hanya ditujukan kepada perempuan dan anak, tetapi juga kepada laki-laki khususnya para ayah, agar memiliki pemahaman mengenai pentingnya mencegah kekerasan sejak dini.
” Kalau kita hanya fokus pada penanganan setelah kejadian tentu itu tetap harus dilakukan. Tetapi biaya sosial maupun biaya penanganannya akan jauh lebih ringan jika kita mampu memperkuat pencegahannya,” katanya.
Mindriyati berharap anak-anak NTT tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, maju, serta memiliki daya saing tinggi. Menurutnya, perkembangan dunia digital membuat persaingan generasi muda tidak lagi terbatas pada tingkat daerah maupun nasional, tetapi telah memasuki level global.
” Anak-anak kita sekarang hidup di era digital tanpa batas. Persaingan mereka bukan hanya dengan kabupaten atau provinsi lain, tetapi sudah antarnegara. Karena itu kualitas mereka harus benar-benar dipersiapkan,” jelasnya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, TP PKK NTT terus membangun sinergi dengan berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) dan mitra pembangunan.
” Kami berperan sebagai inisiator, motor penggerak, katalisator, sekaligus koordinator agar seluruh pihak bergerak bersama memperbaiki kualitas anak-anak NTT sejak masih dalam kandungan hingga mereka menempuh pendidikan tinggi,” ungkapnya.
Provincial Manager INOVASI NTT, Hirionimus Sugi, menjelaskan program kemitraan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia berfokus pada peningkatan mutu pendidikan dasar melalui penguatan literasi, numerasi serta pembangunan karakter peserta didik.
Menurutnya, literasi merupakan fondasi utama dalam proses belajar karena menjadi pintu masuk bagi anak untuk menguasai berbagai ilmu pengetahuan.
” Literasi adalah fondasi. Kalau anak bisa membaca, maka dia akan mampu mempelajari ilmu pengetahuan lainnya. Sebaliknya, jika kemampuan membaca rendah, proses belajar akan sangat sulit,” jelasnya.
Program INOVASI saat ini telah memasuki fase ketiga pelaksanaan dan memperoleh komitmen dukungan Pemerintah Australia hingga tahun 2031. Selain mendukung pendidikan dasar, Australia juga berkontribusi dalam program kesiapsiagaan bencana dan perubahan iklim, meski fokus utama INOVASI tetap pada penguatan pendidikan dasar.
Bersama Bunda Literasi Provinsi NTT, Program INOVASI juga telah menyelenggarakan pelatihan asesmen diagnostik secara daring bagi sekitar 500 guru. Pelatihan tersebut bertujuan membantu guru mengidentifikasi kemampuan awal peserta didik sehingga proses pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak.
” Asesmen sangat penting karena kita tidak akan mengetahui persoalan pendidikan jika tidak melakukan pengukuran kemampuan anak,” ujarnya.
Dirinya berharap kolaborasi antara Program INOVASI, Pemerintah Provinsi NTT, dan Bunda Literasi Provinsi NTT terus diperkuat sehingga semakin banyak guru memperoleh pelatihan serupa dan kualitas hasil belajar siswa di NTT meningkat secara berkelanjutan.(AP)







