Reses di Maulafa, Viktor Laiskodat Janjikan Empat Sumur Bor hingga Program Pendidikan Anak

- Jurnalis

Selasa, 3 November 2026 - 21:27 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kupang, NTTPedia.id,- Anggota DPR RI Viktor Bungtilu Laiskodat membawa sejumlah komitmen pembangunan bagi masyarakat Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, saat menggelar kegiatan reses, Selasa (3/11/2026).

 

Dalam pertemuan yang berlangsung secara dialogis itu, Viktor membagikan 1.000 paket sembako sekaligus menerima berbagai aspirasi masyarakat, mulai dari kebutuhan air bersih, infrastruktur, fasilitas kesehatan, hingga pendidikan dan lapangan pekerjaan.

 

Salah satu komitmen yang disampaikan Viktor adalah membantu pembangunan empat sumur bor untuk menjawab kebutuhan air bersih masyarakat Maulafa. Namun, ia mengingatkan agar lokasi pembangunan terlebih dahulu dipastikan memiliki sumber air.

 

“Catat, catat. Kita bantu empat sumur bor. Dengan catatan, kalau dapat air. Kalau tidak dapat air, buat apa kita bor?” ujarnya.

 

Selain sumur bor, Viktor menyatakan kesediaannya membantu pembangunan jembatan gantung yang menghubungkan wilayah Maulafa dan Naimata. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat memperlancar akses dan mobilitas masyarakat.

 

Ia juga menyatakan akan membantu kebutuhan peralatan posyandu, seperti kursi, timbangan, dan perlengkapan pendukung lainnya.

 

Dalam pertemuan tersebut, warga turut menyampaikan persoalan jalan, penerangan lingkungan, kebutuhan bantuan pembangunan gereja, lapak usaha bagi ibu-ibu, beasiswa pendidikan, hingga sulitnya memperoleh minyak tanah.

 

Tokoh masyarakat Maulafa, Gerson Elias, mengatakan antusiasme warga untuk bertemu Viktor cukup tinggi. Masyarakat ingin mendengar langsung pemikiran dan arah perjuangannya sekaligus menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi.

 

“Ketika kabar Pak VBL mau datang ke Maulafa, antusias masyarakat sangat tinggi. Mereka ingin bertemu, mendengar apa yang ingin disampaikan Pak VBL, sekaligus menyampaikan aspirasi mengenai apa yang sedang digumuli di tengah masyarakat,” kata Gerson.

 

Persoalan hukum juga menjadi bagian dari dialog. Seorang warga bernama Tobias mempertanyakan dugaan kasus pembunuhan di kawasan BTN Blok M yang menurutnya belum terungkap selama sembilan tahun.

 

Menanggapi hal tersebut, Viktor mengatakan dirinya tidak ingin mengambil langkah berdasarkan informasi sepihak. Ia meminta agar persoalan tersebut dikaji terlebih dahulu dengan melibatkan tim yang memahami aspek hukum.

 

“Saya tidak bisa intervensi masuk sebelum memahami persoalan itu sebaik-baiknya. Kita harus melihat dasar hukumnya, apakah logika berpikir hukumnya jelas dan memiliki dasar yang kuat,” katanya.

 

Jika ditemukan dasar hukum yang kuat, Viktor membuka kemungkinan menindaklanjutinya melalui kapasitas politiknya sebagai pimpinan fraksi, termasuk membangun komunikasi dengan Komisi III DPR RI sesuai kewenangannya.

 

Selain infrastruktur, persoalan lapangan pekerjaan bagi generasi muda menjadi perhatian Viktor dalam pertemuan tersebut.

 

Hal itu mengemuka setelah Karin Bria, lulusan Politeknik Negeri Kupang yang belum mendapatkan pekerjaan, menyampaikan kondisinya. Viktor kemudian mengajaknya untuk bekerja bersama dirinya.

 

Menurut Viktor, anak-anak muda NTT perlu memperluas orientasi pekerjaan dan tidak hanya menjadikan penerimaan pegawai negeri sebagai tujuan utama.

 

Ia menyebut sektor pertanian, peternakan, perikanan, kelautan, dan pariwisata memiliki peluang ekonomi yang dapat dikembangkan oleh generasi muda.

 

Viktor juga mendorong pendidikan vokasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar agar lulusan sekolah dan perguruan tinggi memiliki keterampilan praktis untuk memasuki dunia kerja maupun membangun usaha sendiri.

 

Ia turut menyinggung fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Rp50 juta per orang yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha setelah calon pelaku usaha memperoleh pendidikan dan pendampingan.

 

“Jangan hanya pelatihan. Kita harus dorong mereka langsung ke tempat-tempat usaha yang mereka kehendaki. Kita bantu supaya mereka benar-benar bisa bekerja dan membuka lapangan pekerjaan,” ujarnya.

 

Di bidang pendidikan, Viktor menawarkan dukungan untuk menghadirkan seorang guru bahasa Inggris secara penuh waktu bagi anak-anak di Maulafa.

 

Ia menyatakan kesediaannya membayar Rp10 juta setiap bulan agar guru tersebut dapat mengajar lima hingga enam kali dalam seminggu.

 

Menurut Viktor, kemampuan bahasa Inggris menjadi salah satu bekal penting bagi generasi muda NTT untuk menghadapi peluang investasi dan perkembangan industri pariwisata.

 

Ia mencontohkan potensi pengembangan Labuan Bajo, Pulau Semau, Alor, Pantar, Lembata, dan Solor sebagai kawasan yang memiliki peluang ekonomi dan pariwisata.

 

Meski mendorong penguasaan bahasa asing, Viktor mengingatkan agar generasi muda tetap menjaga bahasa dan identitas daerah.

 

“Bahasa Inggris penting, bahasa Mandarin penting. Tetapi bahasa Rote, Timor, Alor dan bahasa daerah lainnya juga jangan sampai hilang. Kita harus menguasai bahasa dunia tanpa kehilangan identitas lokal,” katanya.

 

Viktor juga mendorong gerakan membaca melalui konsep RT Membaca atau Kampung RT Membaca. Ia bahkan menyatakan kesediaannya membiayai penyediaan tempat membaca, termasuk menyewa rumah warga yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar bersama.

 

“Jangan cuma bagi sembako, bagi juga buku. Kalau anak-anak membutuhkan buku, sampaikan kepada kami. Buku harus tersedia sebanyak-banyaknya,” tegasnya.

 

Dalam kesempatan itu, Viktor turut membagikan pengalamannya mengenai pentingnya disiplin dan kebiasaan membaca sejak usia dini.

 

Ia mengisahkan bahwa sejak kecil orang tuanya membiasakan dirinya bangun sekitar pukul 04.30 untuk berdoa dan membaca. Kebiasaan tersebut, menurutnya, turut membentuk perjalanan hidup dan kedisiplinannya hingga sekarang.

 

“Satu kuncinya disiplin. Saya rajin membaca, bangun lebih pagi, bekerja sampai malam. Kebiasaan itu yang menyelamatkan hidup saya,” ungkapnya.

 

Ia mengajak para orang tua untuk tidak hanya memperhatikan kebutuhan ekonomi anak, tetapi juga membangun karakter, kejujuran, keberanian, dan tanggung jawab.

 

Viktor menilai NTT tidak harus menunggu lahirnya ribuan orang hebat. Sepuluh anak muda yang memiliki karakter kuat, disiplin, jujur, dan berani sudah dapat menjadi modal penting bagi kemajuan daerah.

 

Menutup pertemuan, Viktor berharap berbagai aspirasi masyarakat Maulafa dapat ditindaklanjuti melalui koordinasi dan pembahasan sesuai kebutuhan serta kewenangan masing-masing pihak.(AP)

Berita Terkait

Maisie A.C Nahas Bawa Nama NTT ke Panggung Budaya Indonesia–Malaysia 2026
BRI Serahkan Ambulans untuk Dukung Peningkatan Layanan Kesehatan di Ruteng
Lindungi Keuangan Keluarga, Julie Laiskodat Ingatkan Bahaya Pinjol Ilegal dan Judol
Geografi Kepulauan Jadi Tantangan TKA di NTT, Kadis PK Minta Kesetaraan Akses
Dinas Pendidikan NTT Susun dan Telaah Soal TKA SD-SMP untuk Persiapan Ujian 2027
BBM Subsidi Langka di NTT, PA GMNI NTT Desak Evaluasi Kuota dan Pengawasan Distribusi
Bank NTT Mulai Restrukturisasi Kredit Terdampak Gempa Flores, Portofolio Capai Rp79 Miliar
KPID NTT Dorong Penguatan Kelembagaan dan Anggaran, Sekda Siap Tindaklanjuti

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 21:27 WIB

Reses di Maulafa, Viktor Laiskodat Janjikan Empat Sumur Bor hingga Program Pendidikan Anak

Senin, 2 November 2026 - 11:16 WIB

Maisie A.C Nahas Bawa Nama NTT ke Panggung Budaya Indonesia–Malaysia 2026

Kamis, 29 Oktober 2026 - 11:56 WIB

BRI Serahkan Ambulans untuk Dukung Peningkatan Layanan Kesehatan di Ruteng

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:47 WIB

Lindungi Keuangan Keluarga, Julie Laiskodat Ingatkan Bahaya Pinjol Ilegal dan Judol

Rabu, 14 Oktober 2026 - 20:51 WIB

Geografi Kepulauan Jadi Tantangan TKA di NTT, Kadis PK Minta Kesetaraan Akses

Berita Terbaru