Puluhan Siswa di Amanuban Selatan Diduga Keracunan Makanan Program MBG

- Jurnalis

Jumat, 1 Mei 2026 - 16:48 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

TTS, NTTPedia.id – Sebanyak 43 orang dilaporkan mengalami gejala keracunan makanan setelah diduga mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan di wilayah Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kasus ini pertama kali terungkap pada Kamis (30/4) pukul 10.09 WITA, ketika empat siswa dari SMA Negeri 1 Amanuban Selatan datang ke IGD Puskesmas Panite dengan keluhan diare, sakit perut, dan sakit kepala.

Mereka diantar oleh guru setelah mengalami gejala usai mengonsumsi makanan MBG sehari sebelumnya, Rabu (29/4).

Mendapat laporan tersebut, Kepala Dinas Kesehatan TTS dr. Ria Tahun langsung menugaskan Tim Respon Cepat (TRC) untuk melakukan investigasi epidemiologi.

Tim tiba di Puskesmas Panite sekitar pukul 12.43 WITA dan segera melakukan penanganan serta penelusuran ke dapur penyedia MBG, yaitu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Bena.

Hingga pukul 16.00 WITA, jumlah pasien bertambah menjadi 43 orang, terdiri dari 34 siswa SMA, 3 siswa SD, dan 6 guru.

Sebagian besar kasus berasal dari SMA Negeri 1 Amanuban Selatan (38 orang), sementara sisanya dari SD GMIT Panite dan SD Inpres Tuapanan.

Menurut Ria Tahun, gejala yang paling banyak dilaporkan adalah diare (86%), sakit perut (65%), mual (35%), dan pusing (28%). Beberapa pasien juga mengalami muntah, lemas, dan nyeri ulu hati.

Seluruh pasien ditangani di Posko Puskesmas Panite. Hingga pukul 18.00 WITA, sebanyak 27 pasien telah dipulangkan, sementara 16 lainnya masih dalam perawatan, sebagian besar dengan infus.

Berdasarkan hasil investigasi sementara, masa inkubasi gejala berkisar antara 2 hingga 27 jam setelah konsumsi makanan. Hal ini mengarah pada dugaan keracunan akibat kontaminasi mikrobiologis, khususnya toksin bakteri.

Tim juga menemukan bahwa proses pengolahan makanan di dapur SPPG telah dimulai sejak pukul 01.00 dini hari, sementara distribusi berlangsung hingga siang hari ke 13 lokasi, mencakup 11 sekolah dan 2 posyandu, dengan total 2.273 paket makanan.

“Menu MBG yang dibagikan meliputi nasi beras merah, ayam bumbu kuning, tempe goreng, acar sayur, serta salad buah,” jelas Ria Tahun.

Dinas Kesehatan bersama tim gabungan telah melakukan sejumlah langkah penanganan, antara lain, perawatan medis bagi seluruh korban, investigasi lapangan di lokasi dapur dan distribusi, penyuluhan kepada masyarakat dan sekolah, pengambilan sampel makanan untuk diuji di laboratorium BPOM dan Labkesmas Kupang.

Selain itu, posko darurat dengan 15 tempat tidur juga telah didirikan untuk menangani lonjakan pasien.

Sebagai tindak lanjut, pihak SPPG diminta untuk, memperbaiki manajemen waktu pengolahan dan distribusi makanan, menerapkan standar operasional prosedur (SOP) higienitas secara ketat, melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem penyimpanan dan distribusi

Sementara itu, pihak sekolah dan penerima makanan diminta lebih waspada dengan memeriksa kondisi makanan sebelum dikonsumsi.

Pemantauan kasus akan terus dilakukan selama minimal tiga kali masa inkubasi terpanjang (sekitar 3–4 hari) guna memastikan tidak ada tambahan kasus baru.

Dinas Kesehatan menyimpulkan bahwa telah terjadi kejadian luar biasa (KLB) keracunan makanan di Amanuban Selatan yang diduga kuat berkaitan dengan konsumsi MBG. Namun, penyebab pasti masih menunggu hasil uji laboratorium.

“Pihak berwenang mengimbau masyarakat tetap tenang namun waspada, serta segera melaporkan jika mengalami gejala serupa setelah mengonsumsi makanan dari sumber yang sama,” tutup Ria Tahun.

Berita Terkait

Reses di Maulafa, Viktor Laiskodat Janjikan Empat Sumur Bor hingga Program Pendidikan Anak
Maisie A.C Nahas Bawa Nama NTT ke Panggung Budaya Indonesia–Malaysia 2026
BRI Serahkan Ambulans untuk Dukung Peningkatan Layanan Kesehatan di Ruteng
Lindungi Keuangan Keluarga, Julie Laiskodat Ingatkan Bahaya Pinjol Ilegal dan Judol
Geografi Kepulauan Jadi Tantangan TKA di NTT, Kadis PK Minta Kesetaraan Akses
Dinas Pendidikan NTT Susun dan Telaah Soal TKA SD-SMP untuk Persiapan Ujian 2027
BBM Subsidi Langka di NTT, PA GMNI NTT Desak Evaluasi Kuota dan Pengawasan Distribusi
Bank NTT Mulai Restrukturisasi Kredit Terdampak Gempa Flores, Portofolio Capai Rp79 Miliar

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 21:27 WIB

Reses di Maulafa, Viktor Laiskodat Janjikan Empat Sumur Bor hingga Program Pendidikan Anak

Senin, 2 November 2026 - 11:16 WIB

Maisie A.C Nahas Bawa Nama NTT ke Panggung Budaya Indonesia–Malaysia 2026

Kamis, 29 Oktober 2026 - 11:56 WIB

BRI Serahkan Ambulans untuk Dukung Peningkatan Layanan Kesehatan di Ruteng

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:47 WIB

Lindungi Keuangan Keluarga, Julie Laiskodat Ingatkan Bahaya Pinjol Ilegal dan Judol

Rabu, 14 Oktober 2026 - 20:51 WIB

Geografi Kepulauan Jadi Tantangan TKA di NTT, Kadis PK Minta Kesetaraan Akses

Berita Terbaru