Kupang, NTTPedia.id,- Pemerintah Kota Kupang terus mendorong pembangunan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Kelurahan Liliba, Kecamatan Oebobo, menjadi salah satu wilayah yang menjalankan pendekatan tersebut melalui kolaborasi pemerintah kelurahan, perangkat RT/RW, dan warga.
Sepanjang tahun 2026, Kelurahan Liliba menjalankan sejumlah program pembangunan yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Mulai dari perbaikan infrastruktur, penataan lingkungan, pengelolaan sampah, penghijauan, hingga pemberdayaan masyarakat.
Di bidang lingkungan, Kelurahan Liliba bekerja sama dengan PLN Internasional melakukan penanaman 300 anakan bambu dan sengon di bantaran Kali Liliba. Penanaman ini bertujuan membantu menahan longsor sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Lurah Liliba, Viktor A. Makoni, mengatakan sekitar 80 persen tanaman yang ditanam sejak tahun sebelumnya masih hidup. Pemerintah kelurahan bersama masyarakat terus melakukan perawatan.
” Sampai sekarang katong (kami, red) masih rutin menyiram. Sekitar 80 persen masih hidup,” kata Viktor saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (3/11/2026).
Selain penghijauan, pemerintah kelurahan juga menggalakkan pembuatan biopori untuk meningkatkan daya resap air. Upaya ini dilakukan dengan mendorong keterlibatan warga melalui koordinasi RT dan RW.
” Katong (kami, red) sedang menggiatkan warga di setiap RT/RW untuk penanaman air melalui sarana biopori,” ujarnya.
Partisipasi masyarakat juga menjadi bagian penting dalam program kebersihan lingkungan dan penataan tempat pembuangan sampah. Sementara di bidang infrastruktur, pemerintah kelurahan menjalankan pengerjaan jalan lapen di sejumlah titik.
Dalam sektor perumahan, program bedah rumah Pemerintah Kota Kupang tahun ini menyasar satu keluarga di Liliba. Rumah milik Yonathan Ndun di RT 6 telah selesai dibangun. Pada tahun sebelumnya, program serupa menjangkau dua rumah.
Liliba juga memperoleh bantuan melalui program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) sebanyak 13 unit. Setiap rumah menerima bantuan Rp20 juta, dengan alokasi sekitar Rp17,5 juta untuk bahan bangunan dan Rp2,5 juta untuk upah tukang.
” Sebagian sudah selesai. Sisanya sedang dikerjakan dan ditargetkan rampung bulan depan,” kata Viktor.
Pada 2026, Kelurahan Liliba memperoleh alokasi dana kelurahan sebesar Rp200 juta. Anggaran yang dikelola melalui kecamatan tersebut dibagi untuk pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat.
Pembangunan infrastruktur mencakup pengerjaan jalan sepanjang sekitar 185 meter, rehabilitasi Tempat Pembuangan Sementara (TPS) 3, pembangunan tiga tanggul, serta satu sumur peresapan.
Sementara itu, kegiatan pemberdayaan masyarakat diarahkan pada edukasi dan penguatan kader PKK dalam pelayanan Posyandu.
Viktor mengatakan, kebutuhan pembangunan setiap kelurahan perlu menjadi pertimbangan dalam pembagian anggaran. Menurut dia, luas wilayah, jumlah penduduk, dan tingkat kepadatan warga memengaruhi besarnya kebutuhan pembangunan.
Kelurahan Liliba memiliki 52 RT dan 16 RW dengan jumlah penduduk lebih dari 17.000 jiwa berdasarkan data hingga September 2026.
” Kelurahan dengan wilayah dan penduduk lebih besar tentu membutuhkan anggaran lebih besar,” ujarnya.
Ia mengakui, keterbatasan anggaran membuat pembangunan belum dapat menjangkau seluruh wilayah secara merata.
” Baru mengerjakan satu atau dua RT, anggaran sudah habis. Akhirnya masih banyak wilayah yang belum tersentuh,” kata Viktor.
Di tengah keterbatasan tersebut, keterlibatan masyarakat dinilai menjadi modal penting untuk mengoptimalkan program pemerintah. Viktor menyebut komunikasi dan kerja sama yang dibangun selama delapan tahun kepemimpinannya turut mendorong partisipasi warga dalam berbagai kegiatan kelurahan.
Menurut dia, pembangunan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Diperlukan kerja sama antara pemerintah kelurahan, perangkat RT/RW, masyarakat, dan berbagai pihak lainnya.
” Kalau mau maju dan berjalan jauh, kita harus berjalan bersama. Kalau mau berjalan dekat dan selesai hari ini, silakan berjalan sendiri-sendiri,” ujarnya.
Viktor menegaskan, keberhasilan pembangunan membutuhkan kekuatan tim dan kontribusi setiap orang, bukan hanya kemampuan individu.
” Dalam pekerjaan itu tidak ada superman. Yang ada super team. Kelebihan dan kekurangan masing-masing harus disatukan menjadi satu kekuatan,” tutupnya, mengutip semboyan yang kerap digunakan Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo.







