Didukung Australia, Sistem Kebencanaan NTT Kini Merespons Informasi Bencana dalam Hitungan Menit

- Jurnalis

Jumat, 31 Juli 2026 - 17:19 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kupang, NTTPedia.id,- Sistem penanggulangan bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT) kini mampu merespons informasi kejadian bencana dalam hitungan menit berkat penguatan teknologi, kelembagaan, dan sumber daya manusia yang didukung Pemerintah Australia melalui Program SIAP SIAGA.

 

Kemajuan tersebut ditinjau langsung oleh Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Brazier, bersama Gubernur NTT Melki Laka Lena saat mengunjungi Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) Provinsi NTT di Lasiana, Kupang, Jumat, 31/07/2026.

 

Dalam kunjungan itu, tim Pusdalops memaparkan pusat pengendalian kini beroperasi selama 24 jam untuk menerima, memverifikasi, dan menganalisis informasi kebencanaan dari seluruh kabupaten/kota melalui aplikasi INATANA.

 

Sistem informasi yang dikembangkan BPBD Provinsi NTT bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana NTT dengan dukungan Program SIAP SIAGA tersebut mampu memangkas waktu penyampaian informasi yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam menjadi hanya hitungan menit.

 

Selain mempercepat respons darurat, data yang dihimpun melalui INATANA juga dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan pembangunan berbasis risiko bencana dan perubahan iklim. Sistem ini bahkan telah terintegrasi dengan Portal Satu Data Provinsi NTT sehingga dapat dimanfaatkan berbagai perangkat daerah dalam penyusunan kebijakan pembangunan.

 

Gubernur NTT, Melki Laka Lena, menegaskan bahwa penguatan sistem penanggulangan bencana tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat.

 

” Penanggulangan bencana tidak bisa hanya menjadi urusan pemerintah. Yang paling penting adalah membangun partisipasi dan kemandirian masyarakat. Karena itu, saya berharap model seperti TOP Ranger yang sudah berjalan baik di Kota Kupang dapat direplikasi di seluruh kabupaten dan kota di NTT,” kata Melki.

 

Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Australia yang telah membantu memperkuat sistem penanggulangan bencana di NTT.

 

” Kami berterima kasih atas dukungan Pemerintah Australia dalam memperkuat sistem penanggulangan bencana di NTT. Namun yang lebih penting, dukungan ini harus menghasilkan masyarakat yang semakin mandiri dan mampu menghadapi risiko bencana di daerahnya sendiri,” ujarnya.

 

Sementara itu, Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Brazier, mengatakan Australia bangga melihat secara langsung hasil kemitraan yang telah memberikan manfaat nyata bagi penguatan sistem penanggulangan bencana di NTT. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi erat dengan pemerintah daerah dan para mitra di lapangan serta menjadi landasan bagi kerja sama yang akan terus berlanjut.

 

” Saya bangga dapat melihat langsung hasil kemitraan antara Pemerintah Australia dan Pemerintah Provinsi NTT di bidang penanggulangan bencana. Menurut saya, hasilnya nyata, dan kami berkomitmen untuk terus memperkuat kerja sama ini agar sistem yang telah dibangun tetap berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Brazier.

 

Ia menambahkan, keberhasilan tersebut tidak mungkin dicapai tanpa kemitraan yang kuat dengan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Provinsi NTT.

 

” Kami sangat menghargai kolaborasi ini dan berharap kerja sama di bidang penanggulangan bencana dapat terus berlanjut,” ujarnya.

 

Dalam kunjungan tersebut, rombongan juga mendengarkan paparan berbagai inovasi yang lahir dari Program SIAP SIAGA, di antaranya TOP Ranger, kolaborasi BPBD Kota Kupang, Grab, dan para pengemudi transportasi daring untuk membantu pelaporan cepat kejadian bencana, serta Unit Layanan Disabilitas Penanggulangan Bencana (ULD-PB) yang memperkuat tata kelola kebencanaan yang inklusif bagi penyandang disabilitas.

 

Pusdalops-PB NTT sendiri pertama kali dibangun pada 2015 melalui dukungan Australia Indonesia Facility for Disaster Reduction (AIFDRR) dan kemudian diperkuat melalui Program SIAP SIAGA. Investasi tersebut tidak hanya menghadirkan fasilitas fisik, tetapi juga membangun sistem, kapasitas kelembagaan, sumber daya manusia, dan tata kelola penanggulangan bencana yang memungkinkan pemerintah daerah bekerja lebih cepat, lebih tepat, dan berbasis data dalam melindungi masyarakat dari risiko bencana.

Berita Terkait

Kredit Petani Rumput Laut Sumba Timur Catat NPL 0 Persen, Bank NTT Raih Apresiasi ILO
Julie Sutrisno Laiskodat Tak Hanya Cetak Juara, tetapi Siapkan Masa Depan Atlet Kempo NTT
Gempa M6,1 Sumba Barat Daya, 91 Rumah Rusak dan 3 KK Mengungsi
Gilang Asal Ende Raih Runner Up Putra Pariwisata Indonesia 2026, Levico Butik Jadi Pendukung Utama
Pendidikan Jadi Satu-satunya Kelompok yang Deflasi di NTT, Capai 3,25 Persen
Gempa M3,1 Kembali Guncang Kabupaten Kupang, Berpusat di Laut
Gempa Flores Lumpuhkan UMKM, Julie Laiskodat Dorong Kemudahan Akses Kredit
Korban Gempa Flores Dimintai Uang Rp10 Ribu Saat Terima Bantuan, Staf Desa Beri Penjelasan

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 13:47 WIB

Kredit Petani Rumput Laut Sumba Timur Catat NPL 0 Persen, Bank NTT Raih Apresiasi ILO

Rabu, 14 Oktober 2026 - 08:37 WIB

Julie Sutrisno Laiskodat Tak Hanya Cetak Juara, tetapi Siapkan Masa Depan Atlet Kempo NTT

Senin, 5 Oktober 2026 - 19:51 WIB

Gempa M6,1 Sumba Barat Daya, 91 Rumah Rusak dan 3 KK Mengungsi

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 18:31 WIB

Gilang Asal Ende Raih Runner Up Putra Pariwisata Indonesia 2026, Levico Butik Jadi Pendukung Utama

Kamis, 1 Oktober 2026 - 20:35 WIB

Pendidikan Jadi Satu-satunya Kelompok yang Deflasi di NTT, Capai 3,25 Persen

Berita Terbaru