Mbay, NTTPedia.id,- Bantuan sembako dari Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Nusa Tenggara Timur (NTT) akhirnya tiba di Desa Rendu Butowe, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo, Selasa, 18 Agustus 2026.
Bantuan tersebut disalurkan setelah PA GMNI NTT mendapat informasi mengenai kondisi ratusan warga yang mengungsi di Rendu Butowe dan mengalami kekurangan makanan pascagempa Flores.
Penyaluran bantuan tidak berlangsung mudah. Tim PA GMNI NTT melalui PA GMNI Nagekeo harus menghadapi akses yang sulit, keterbatasan bahan bakar minyak (BBM) serta menipisnya persediaan bahan pangan di sejumlah kios dan toko di sekitar wilayah tersebut.
Akses menuju Desa Rendu Butowe terbilang cukup sulit. Dalam perjalanan menuju lokasi, rombongan harus melewati jalan tanah serta sejumlah ruas jalan rabat beton yang kondisinya sudah rusak dan pecah.
Perjalanan dari Danga menuju Rendu Butowe memakan waktu lebih dari satu jam. Untuk menembus medan tersebut, bantuan sembako diangkut menggunakan mobil pikap hingga akhirnya tiba di lokasi warga yang membutuhkan.
Kondisi medan tersebut menjadi salah satu tantangan dalam proses penyaluran bantuan. Meski demikian, tim tetap melanjutkan perjalanan agar bantuan yang telah disiapkan dapat benar-benar diterima warga di lokasi pengungsian.
Kedatangan bantuan tersebut disambut haru oleh masyarakat Rendu Butowe. Sejumlah ibu-ibu dan anak-anak terlihat berkumpul menyambut rombongan yang membawa bantuan sembako.
Suasana haru terlihat ketika bantuan tiba. Sejak hari pertama pascagempa, warga di lokasi tersebut disebut belum menerima bantuan langsung. Kedatangan rombongan Tim PA GMNI NTT di Nagekeo menjadi momen yang dinantikan masyarakat, terutama warga yang persediaan makanannya mulai menipis.
Anak-anak dan ibu-ibu tampak berada di sekitar lokasi saat bantuan diturunkan. Bantuan sembako kemudian diserahkan kepada masyarakat untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan warga yang masih bertahan di lokasi pengungsian.
Salah seorang warga Rendu Butowe, Ani, menyampaikan terima kasih kepada PA GMNI NTT atas bantuan yang diberikan kepada masyarakat terdampak gempa.
Menurut Ani, bantuan tersebut sangat membantu warga dalam menghadapi musibah yang sedang mereka alami. Ia juga menyampaikan rasa syukur atas kepedulian PA GMNI NTT terhadap masyarakat Rendu Butowe.
Ia berharap bantuan tersebut dapat meringankan beban warga serta membantu memenuhi kebutuhan keluarga yang terdampak bencana.
” Terima kasih kepada PA GMNI NTT yang sudah memberikan bantuan kepada keluarga besar dari Rendubutowe. Kami sangat bersyukur karena bantuan ini sangat membantu kami dalam musibah yang sedang kami alami,” kata Ani.
Informasi mengenai kondisi warga Rendu Butowe sebelumnya diberitakan Kompas.id. Dalam pemberitaan tersebut disebutkan bahwa persediaan makanan ratusan warga yang mengungsi di wilayah itu telah habis dan sebagian warga mulai mengalami kelaparan.
Informasi itu kemudian mendorong PA GMNI NTT bergerak sejak Senin, 17 Agustus 2026, untuk mencari cara agar bantuan pangan dapat segera diterima masyarakat.
Upaya awal dilakukan dengan mencari kontak warga yang berada di lokasi. PA GMNI NTT sempat berupaya menyalurkan uang agar kebutuhan makanan dapat dibeli langsung di sekitar Rendu Butowe.
Namun, cara tersebut tidak mudah dilakukan. Persediaan sembako di sejumlah kios dan toko mulai menipis sementara akses menuju lokasi pengungsian sulit ditembus dan ketersediaan BBM terbatas.

PA GMNI NTT kemudian memutuskan mengupayakan pengiriman bantuan secara langsung. Setelah melalui berbagai kendala, bantuan sembako akhirnya berhasil dibawa menuju Rendu Butowe dan diterima masyarakat pada Selasa, 18 Agustus 2026.
Ketua DPD PA GMNI NTT, Yoseph Dasi Djawa, mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap warga terdampak gempa yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pangan.
Menurut Yoseph, sejak menerima informasi mengenai kondisi warga di Rendu Butowe, pihaknya berupaya mencari berbagai kemungkinan agar bantuan dapat segera dikirim.
” Tim PA GMNI Nagekeo berusaha bagaimana bantuan ini bisa sampai ke masyarakat. Kondisinya memang terbatas, aksesnya juga sulit, tetapi kami tidak ingin bantuan hanya berhenti di tempat. Karena itu kami upayakan sampai benar-benar tiba di lokasi,” kata Yoseph.
Ia mengatakan keterbatasan BBM dan kondisi medan menjadi tantangan dalam proses pengiriman bantuan. Namun, kendala tersebut tidak menyurutkan upaya tim untuk mencapai lokasi pengungsian.
” Ketika kami mendapatkan informasi bahwa masyarakat sudah kekurangan makanan, kami langsung mencari cara. Hari ini bantuan akhirnya bisa sampai dan kami bersyukur masyarakat dapat menerimanya,” ujar Yoseph.
Ketua Posko Tanggap Gempa Flores PA GMNI NTT, Yohanes Hamba Lati, mengatakan keberhasilan pengiriman bantuan tidak terlepas dari kerja bersama serta upaya mencari jalur yang memungkinkan untuk mencapai lokasi.
Menurut Yohanes, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak hanya membutuhkan ketersediaan bantuan, tetapi juga akses untuk memastikan bantuan tersebut benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
” Medannya cukup sulit dan dalam kondisi serba terbatas. Tetapi kami berusaha agar bantuan ini bisa sampai kepada masyarakat. Sambutan masyarakat membuat kami semakin yakin bahwa bantuan seperti ini memang sangat dibutuhkan,” kata Yohanes.
Ia berharap bantuan sembako tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan warga, terutama mereka yang masih bertahan di lokasi pengungsian setelah gempa Flores.
” Kami melihat sendiri bagaimana masyarakat menyambut bantuan ini. Ada yang terharu. Bagi kami, itu menjadi kekuatan untuk terus bergerak membantu masyarakat terdampak,” kata Ketua KPID NTT ini.
Yohanes juga menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Tim PA GMNI Nagekeo yang, di tengah segala keterbatasan dan kondisi pascagempa, tetap berupaya menembus sulitnya akses menuju lokasi pengungsian demi misi kemanusiaan.
” Terima kasih kepada rekan-rekan PA GMNI Nagekeo yang sudah berusaha, dalam segala keterbatasan, bisa sampai ke lokasi. Meski mereka sendiri juga merupakan korban gempa Flores, tetapi atas dasar kemanusiaan, mereka tetap berusaha hadir dan membantu sesama. Bahkan, salah satu anggota tim harus tidur di camp pengungsian karena rumahnya sendiri terdampak gempa,” jelasnya.
Ia mengaku sangat terharu melihat soliditas dan kepedulian Tim PA GMNI Nagekeo. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa semangat kemanusiaan tetap hidup, bahkan ketika para relawan sendiri berada dalam situasi sulit dan menjadi bagian dari warga yang terdampak bencana.(AP)
Tetaplah kuat, Flores. Kita bersama-sama melewati masa sulit ini







