Kupang, NTTPedia.id – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Nusa Tenggara Timur tak ingin berhenti pada pergantian kepengurusan.
Di bawah kepemimpinan Fernando O. Soares, organisasi tersebut menyiapkan agenda turun langsung ke 22 kabupaten/kota untuk mendengar dan mengadvokasi persoalan yang dihadapi petani.
Fernando O. Soares atau Nando terpilih secara aklamasi sebagai Ketua HKTI NTT dalam pemilihan yang berlangsung di Hotel Harper Kupang, Selasa (15/9/2026). Mayoritas pengurus HKTI kabupaten/kota di NTT menyatakan dukungan kepadanya.
Usai pemilihan, Nando mengatakan HKTI harus hadir lebih dekat dengan petani, terutama untuk membantu mereka meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan.
Menurut Wakil Ketua DPRD NTT tersebut, keberadaan HKTI menjadi penting karena sektor pertanian masih menjadi bagian besar dari kehidupan masyarakat NTT.
“Kami merasa HKTI ini penting karena hampir 50 persen masyarakat kita adalah petani. Kami akan selalu hadir bersama masyarakat petani,” kata Nando.
Ia menegaskan, HKTI ke depan tidak hanya menjadi organisasi yang berbicara tentang pertanian, tetapi juga ikut mendampingi dan mengadvokasi petani ketika menghadapi persoalan di lapangan.
“Kita memberikan perhatian supaya petani kita bisa naik kelas. Apalagi di masa pemerintahan Presiden Prabowo menaruh perhatian yang besar untuk pertanian, termasuk program swasembada pangan,” ujarnya.
Salah satu persoalan yang langsung mendapat perhatian HKTI adalah kondisi petani di wilayah Flores yang terdampak gempa.
Kerusakan sejumlah infrastruktur irigasi akibat gempa disebut berpotensi mengganggu aktivitas pertanian masyarakat.
“Tadi juga sempat menyinggung saudara-saudara kita di Flores yang tertimpa gempa. Ada irigasi yang rusak akibat gempa sehingga petani tidak bisa bekerja. Kita akan melakukan pendampingan,” jelasnya.
Setelah kepengurusan HKTI NTT dilantik, Nando mengatakan pihaknya akan melakukan road show ke 22 kabupaten/kota. Langkah tersebut diarahkan untuk memetakan persoalan petani sekaligus memastikan HKTI hadir langsung di tengah masyarakat.
Dengan agenda tersebut, kepemimpinan baru HKTI NTT diarahkan bukan sekadar menjadi perubahan struktur organisasi, tetapi menjadi momentum untuk membawa persoalan petani dari tingkat desa hingga menjadi perhatian pemerintah daerah dan pusat.







