Ba, a, NTTPedia.id,- Sebuah fasilitas yang dibangun untuk menjawab persoalan air masyarakat masih dimanfaatkan hingga kini. Salah satunya pompa hidram di Oefapa, Desa Kolobolon, Kecamatan Lobalain, Kabupaten Rote Ndao, yang menjadi bagian dari jejak karya Brigadir Jenderal TNI (Purn.) Simon Petrus Kamlasi (SPK) saat masih aktif sebagai prajurit TNI Angkatan Darat.
Pompa hidram tersebut memanfaatkan sumber air Oefapa untuk mengalirkan air ke lahan masyarakat. Keberadaannya membantu mendukung aktivitas pertanian dan peternakan warga di sekitar wilayah tersebut.
SPK kembali melihat kondisi sumber air dan pompa hidram tersebut setelah dalam kunjungan ke Rote Ndao. Dalam sebuah perjalanan SPK sempat bertemu dengan Kepala Desa Kolobolon, Esaf Mbuik. Dalam kesempatan itu, Esaf menyampaikan bahwa kondisi pompa hidram mengalami kerusakan dan membutuhkan perbaikan.
Mendengar keluhan tersebut, SPK kemudian menyempatkan diri melihat langsung kondisi sumber air dan pompa hidram di Oefapa.
SPK yang kini menjadi Tenaga Ahli Bidang Lingkungan Hidup Kementerian Koordinator Bidang Pangan RI meninjau langsung sumber mata air Oefapa pada Minggu, 9 Agustus 2026. Ia didampingi Kepala Desa Kolobolon, Esaf Mbuik.
” Kebetulan mampir, kepala desa mengeluhkan kondisinya yang rusak. Jadi saya ke sana dalam rangka memberikan masukan untuk perbaikan,” kata SPK.
Dalam kunjungan tersebut, SPK tidak hanya melihat kondisi sumber mata air tetapi juga memeriksa pompa hidram yang sebelumnya digunakan untuk mengalirkan air ke ladang dan lahan masyarakat.
Dari percakapan di lokasi muncul pula gagasan untuk mengembangkan pemanfaatan air Oefapa secara lebih luas. Air yang masih tersedia setelah proses pemanfaatan pompa hidram dinilai dapat diarahkan ke lahan-lahan yang secara elevasi berada lebih rendah dari sumber air.
Menurut SPK, kondisi geografis tersebut membuka peluang untuk membangun sistem pengairan dengan memanfaatkan prinsip gravitasi. Dengan membangun jalur irigasi secara bertahap, air dapat dialirkan secara alami menuju lahan-lahan yang berada di bawah sumber air tanpa sepenuhnya bergantung pada sistem pompa.
” Air sisa dari penggunaan pompa hidram ini masih cukup banyak. Ke depan, bisa kita pikirkan bagaimana air ini dialirkan secara gravitasi ke lahan-lahan yang elevasinya lebih rendah. Kalau jalur irigasinya dibangun, potensinya bisa mengairi lahan sampai ratusan hektare,” jelas SPK.
Gagasan tersebut, menurut SPK, perlu dikaji lebih lanjut dengan melihat kondisi sumber air, kontur wilayah, kebutuhan masyarakat serta desain jalur irigasi yang sesuai. Pemanfaatan gravitasi juga dapat menjadi pilihan karena air mengalir mengikuti perbedaan elevasi sehingga kebutuhan energi untuk distribusi air dapat ditekan.
SPK menilai keberadaan sumber air perlu dikelola secara berkelanjutan. Menurutnya, pemanfaatan air tidak cukup hanya dengan membangun sarana, tetapi juga harus diikuti dengan perawatan dan pengelolaan yang baik.
” Air menjadi kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu, kita perlu mengurusnya dari hulu sampai hilir,” kata SPK di sela kunjungannya ke sumber Oefapa.
Ia juga meminta agar pompa hidram yang ada dijaga dan diperbaiki sehingga kembali dapat berfungsi untuk mendukung kebutuhan masyarakat.
” Pompa hidram ini harus dijaga dengan baik agar terus berfungsi mengairi wilayah ini. Apa yang menjadi kebutuhan utama masyarakat harus kita utamakan, supaya rakyat tidak lagi mengalami kesulitan,” ujarnya.
Bagi SPK, perbaikan fasilitas air merupakan bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan manfaat infrastruktur yang telah dibangun. Karena itu, masyarakat dan pemerintah desa perlu bersama-sama memperhatikan kondisi sarana tersebut.
Di sisi lain, pengembangan jaringan irigasi berbasis gravitasi dapat menjadi salah satu gagasan jangka panjang untuk memperluas manfaat sumber air Oefapa. Jika kajian teknis dan pembangunan jalurnya memungkinkan, air dapat diarahkan ke lahan-lahan produktif yang berada pada elevasi lebih rendah.
Keberadaan sumber air Oefapa dengan demikian memiliki kaitan langsung dengan aktivitas produktif masyarakat. Jika air dapat kembali dialirkan dengan baik ke lahan, masyarakat memiliki peluang untuk mengembangkan pertanian dan peternakan dalam skala yang lebih luas.
Tokoh masyarakat setempat, Yohanis Mbuik mengatakan pengelolaan sumber air harus dilakukan dengan baik karena air memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat.
“Air adalah sumber kehidupan. Jika air terjaga, maka kehidupan masyarakat pun akan terjamin,” kata Yohanis.
Ia menjelaskan, ketersediaan air dibutuhkan masyarakat untuk berbagai keperluan, mulai dari pertanian dan peternakan hingga kebutuhan rumah tangga.
Sementara itu, Kepala Desa Kolobolon, Esaf Mbuik, berharap sumber air Oefapa dan pompa hidram yang tersedia dapat kembali berfungsi secara optimal.
Menurutnya, sumber air dan pompa hidram merupakan aset penting bagi masyarakat Desa Kolobolon sehingga perlu mendapat perhatian dan perawatan.
Ia berharap pengelolaan sumber daya air di Oefapa dapat semakin baik sehingga keberadaannya terus memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya untuk mendukung aktivitas pertanian, peternakan dan kebutuhan warga.(AP)







