Kupang, NTTPedia.id,- Sebanyak 80 sekolah jenjang SMA, SMK, dan SLB di tujuh kabupaten di Pulau Flores terdampak bencana gempa bumi yang terjadi pada 15 Agustus 2026.
Data tersebut berdasarkan rekap sekolah terdampak yang diperbarui pada Minggu, 16 Agustus 2026 pukul 24.00 WITA oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, menyampaikan bahwa dari total 80 sekolah terdampak tersebut terdiri atas 47 SMA, 30 SMK, dan 3 SLB.
Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah sekolah terdampak terbanyak, yakni 32 sekolah, terdiri dari 19 SMA, 12 SMK, dan 1 SLB.
Selanjutnya, Kabupaten Manggarai Barat mencatat 19 sekolah terdampak, terdiri dari 9 SMA, 9 SMK, dan 1 SLB.
Kabupaten Ngada mencatat 12 sekolah terdampak, terdiri dari 10 SMA, 1 SMK, dan 1 SLB.
Kabupaten Ende memiliki 7 sekolah terdampak, terdiri dari 4 SMA dan 3 SMK. Manggarai Timur 5 sekolah, terdiri dari 2 SMA dan 3 SMK.
Kabupaten Nagekeo mencatat 4 sekolah terdampak, terdiri dari 3 SMA dan 1 SMK. Sedangkan Kabupaten Sikka 1 sekolah, yakni jenjang SMK.
” Data tersebut dilaporkan oleh para kepala sekolah melalui Kacabdin Wilayah 4 yang meliputi Lembata, Flores Timur dan Sikka, Kacabdin Wilayah 5 meliputi Ende, Ngada dan Nagekeo, serta Kacabdin Wilayah 6 meliputi Manggarai Raya, ” kata Ambrosius kepada NTTPedia.id, Senin, 17/08/2026.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT mengarahkan seluruh sekolah di Flores diliburkan sejak 15 Agustus 2026 demi keselamatan peserta didik, guru dan tenaga kependidikan.
Ambrosius mengatakan kebijakan tersebut berlaku untuk seluruh sekolah di Flores karena wilayah terdampak gempa tidak dapat diprediksi. Untuk sementara, pembelajaran tatap muka dihentikan dan jika memungkinkan dapat dilakukan secara daring dengan pengawasan orang tua.
” Wilayah terdampak gempa tidak bisa diprediksi, oleh karena itu kebijakan ini berlaku untuk semua sekolah di Flores,” kata Ambrosius.
Ia juga menegaskan tidak ada sekolah yang digunakan sebagai camp pengungsian karena gempa tidak dapat diprediksi dari sisi waktu, kekuatan maupun luas wilayah terdampak.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT terus berkoordinasi dengan BPBD NTT dan Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (Seknas SPAB). Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah menyiapkan dukungan berupa School Kit, Family Kit dan ruang kelas darurat bagi satuan pendidikan terdampak.
Data kerusakan sekolah juga telah disampaikan ke Posko Bencana Gempa Bumi tingkat Provinsi NTT melalui BPBD NTT. Penanganan selanjutnya diarahkan untuk memastikan keselamatan warga sekolah sekaligus mendukung keberlanjutan pembelajaran di wilayah terdampak.(AP)







