Ghost in The Cell, Ketika Horor, Komedi Absurd dan Satire Bertemu dalam Film Joko Anwar

- Jurnalis

Minggu, 6 September 2026 - 09:21 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kupang, NTTPedia.id,- Film Ghost in The Cell karya sutradara Joko Anwar menawarkan warna berbeda dalam genre horor Indonesia. Tidak hanya menghadirkan teror makhluk gaib, film ini juga memadukan komedi absurd dan satire sosial yang membuat ceritanya terasa lebih dari sekadar kisah tentang hantu.

 

Saat ini, Ghost in The Cell telah tayang di Netflix dan masuk posisi kedua dalam daftar film yang sedang trending di Indonesia, menandai tingginya perhatian penonton terhadap karya horor satir garapan Joko Anwar tersebut.

 

Dikutip dari detik.com, film ini dibintangi sejumlah aktor ternama, di antaranya Endy Arfian, Lukman Sardi, Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Morgan Oey, Aming, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Dimas Danang, Mike Lucock, Yoga Pratama serta Arswendy Bening Swara.

 

Film Ghost in The Cell memadukan horor, komedi gelap, thriller, dan satire sosial dalam cerita tentang para penghuni penjara yang terpaksa bersatu menghadapi teror mematikan yang jauh lebih mengerikan daripada konflik di antara mereka.

 

Cerita mengambil latar kehidupan di dalam Lapas Labuhan Angsana. Ruang penjara yang identik dengan hukuman, kekerasan, dan keterbatasan kemudian menjadi tempat terjadinya berbagai peristiwa misterius yang mengancam para penghuninya.

 

Namun, teror supernatural bukan satu-satunya hal menarik dalam film ini. Joko Anwar justru menjadikan kehidupan di dalam penjara sebagai ruang untuk menampilkan berbagai absurditas sosial.

 

Salah satu momen yang cukup menggelitik muncul ketika Dimas, seorang narapidana baru, mulai diperkenalkan dengan kehidupan dan sistem yang berlaku di dalam lapas. Ia kemudian berhadapan dengan berbagai kejanggalan, termasuk adanya hierarki dan perlakuan berbeda di antara para penghuni penjara.

 

Dimas merupakan eks wartawan koran cetak yang dituduh melakukan pembunuhan terhadap bosnya di kantor tempat ia bekerja.

 

Sebelum masuk ke sel, Dimas mendapat pengarahan dari Irfan mengenai bagaimana ia harus beradaptasi dengan kehidupan di dalam penjara.

 

Ketika Dimas mempertanyakan berbagai kondisi yang menurutnya janggal, Irfan yang telah lebih dulu memahami realitas kehidupan di dalam lapas kemudian melontarkan celetukan singkat.

 

“Lu tinggal di Indonesia, bukan di Norwegia.”

 

Dikutip dari berbagai sumber, Norwegia dikenal memiliki sistem pemasyarakatan yang menempatkan rehabilitasi sebagai bagian penting dari hukuman. Melalui prinsip normality, kehilangan kebebasan dipandang sebagai bentuk hukuman utama, tanpa harus menghilangkan hak dan martabat narapidana. Karena itu, penyebutan Norwegia dalam dialog tersebut bukan sekadar pilihan nama negara, melainkan menjadi simbol tentang sistem pemasyarakatan yang ideal—sebuah gambaran yang terasa kontras dengan realitas yang dihadapi Dimas di dalam lapas.

 

Sekilas dialog tersebut terdengar seperti candaan biasa. Namun justru di situlah satire Joko Anwar bekerja. Kalimat singkat itu menjadi sindiran terhadap realitas sistem yang jauh dari gambaran ideal.

 

Kritik tidak disampaikan melalui dialog panjang atau ceramah sosial, melainkan melalui humor yang terasa spontan dan dekat dengan pengalaman kolektif penonton Indonesia.

 

Di tengah cerita tentang hantu dan kehidupan penjara, Joko Anwar menyisipkan kritik terhadap berbagai persoalan sosial melalui percakapan-percakapan absurd.

 

Penonton dibuat tertawa melihat situasi yang tidak masuk akal, tetapi pada saat yang sama mulai menyadari bahwa absurditas tersebut memiliki kemiripan dengan realitas sehari-hari.

 

Perpaduan antara horor dan komedi juga menjadi kekuatan film ini. Ketika suasana mulai mencekam, humor hadir untuk memecah ketegangan. Namun ketika penonton mulai merasa nyaman, teror kembali muncul.

 

Pola tersebut membuat alur cerita terasa dinamis. Penonton tidak hanya dibuat takut, tetapi juga terus dibuat penasaran dengan perubahan suasana yang terjadi.

 

Selain menjadi latar utama, penjara dalam Ghost in The Cell juga dapat dibaca sebagai gambaran ruang sosial yang lebih besar. Di dalamnya terdapat hierarki, relasi kuasa, kepentingan hingga berbagai bentuk ketimpangan.

 

Dengan pendekatan tersebut, film ini tidak menjadikan satire sebagai pesan yang berdiri sendiri. Kritik sosial justru menyatu dengan cerita, karakter, dan humor.

 

Keberhasilan Ghost in The Cell terletak pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara tiga elemen utama, horor sebagai sumber ketegangan, komedi sebagai pelepas tekanan dan satire sebagai cara untuk merefleksikan situasi domestik kita.

 

Untuk diketahui Film Ghost in The Cell karya Joko Anwar berdurasi 106 menit atau sekitar 1 jam 46 menit. Informasi tersebut tercatat di Lembaga Sensor Film (LSF) dan IMDb.(rvw)

 

 

Berita Terkait

294 Guru SMA/SMK dan SLB Ikut Diklat Calon Kepala Sekolah 
Sinopsis My Royal Nemesis, Selir Joseon Bangkit di Korea Modern, Bertemu Pewaris Chaebol Dingin
GMNI Kupang Salurkan Bantuan untuk Pasien dari Pelosok NTT di Rumah Singgah Ratu Pecinta Damai
The Art of Sarah: Thriller Psikologis Tentang Identitas Palsu dan Ambisi Tanpa Batas
Serial Hukum Pro Bono, Ketika Mantan Hakim Memilih Membela Rakyat Kecil
Dynamite Kiss, Drama Korea Peringkat 1 di Netflix, Paling Banyak Ditonton pada Hari Kerja
Spoiler Dynamite Kiss Episode 5-6, Ketegangan Memuncak, Kebohongan Da Rim Mulai Terancam
Penggemar Film Sejarah Korea , Jangan Lewatkan The Red Sleeve di Netflix

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 15:05 WIB

294 Guru SMA/SMK dan SLB Ikut Diklat Calon Kepala Sekolah 

Minggu, 6 September 2026 - 09:21 WIB

Ghost in The Cell, Ketika Horor, Komedi Absurd dan Satire Bertemu dalam Film Joko Anwar

Senin, 11 Mei 2026 - 08:06 WIB

Sinopsis My Royal Nemesis, Selir Joseon Bangkit di Korea Modern, Bertemu Pewaris Chaebol Dingin

Kamis, 19 Maret 2026 - 20:44 WIB

GMNI Kupang Salurkan Bantuan untuk Pasien dari Pelosok NTT di Rumah Singgah Ratu Pecinta Damai

Senin, 9 Maret 2026 - 07:51 WIB

The Art of Sarah: Thriller Psikologis Tentang Identitas Palsu dan Ambisi Tanpa Batas

Berita Terbaru