Jakarta, NTTPedia.id,- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mendampingi pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak gempa M7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pembangunan dilakukan secara bertahap di tujuh kabupaten terdampak sebagai bagian dari penanganan pada fase transisi darurat menuju pemulihan.
Dalam rilis BNPB yang dikutip NTTPedia.id, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan menjelaskan perkembangan pembangunan huntara di sejumlah wilayah terdampak.
Menurut Berton, warga yang rumahnya rusak berat mendapatkan dua pilihan hunian sebelum memasuki fase rehabilitasi dan rekonstruksi, yakni Dana Tunggu Hunian (DTH) atau huntara. BNPB bersama pemerintah daerah di tujuh kabupaten terdampak terus melakukan pemutakhiran data penerima manfaat pada fase transisi darurat ke pemulihan.
Berton mengatakan sebagian besar warga memilih mendapatkan bantuan huntara dibandingkan DTH.
Berdasarkan data sementara BNPB per 28 September 2026, di Kabupaten Manggarai terdapat 110 unit huntara yang masih dalam pembangunan. Sebanyak 50 unit memiliki progres lebih dari 50 persen, sedangkan 60 unit lainnya masih di bawah 50 persen. Sebanyak empat unit telah selesai dibangun.
Hasil verifikasi rumah rusak berat di Manggarai berjumlah 1.494 unit.
Di Manggarai Timur, sebanyak 561 unit huntara masih dalam proses pembangunan dan enam unit telah selesai. Target huntara tahap pertama di kabupaten tersebut mencapai 1.305 unit. Huntara yang dibangun terdiri atas tipe insitu dan eksitu.
Di Kabupaten Ngada, enam unit huntara mandiri telah selesai dibangun. Keenam unit tersebut berada di tiga kecamatan, yakni empat unit di Kecamatan Aimere, satu unit di Riung dan satu unit di Wolomeze.
BNPB juga telah menyelesaikan pembangunan lima unit huntara insitu di Ngada, sementara 272 unit lainnya masih dalam proses penyelesaian.
Di Kabupaten Nagekeo, sebanyak sembilan unit huntara insitu telah selesai dibangun, sedangkan 173 unit masih dalam proses penyelesaian. Hasil verifikasi rumah rusak berat di kabupaten tersebut berjumlah 314 unit.
Di Kabupaten Sikka, dua unit huntara telah selesai dibangun, terdiri atas satu unit tipe keluarga dan satu unit tipe komunal atau lima hunian. Sebanyak 25 unit lainnya masih dibangun secara paralel.
Sementara di Kabupaten Ende, tujuh unit huntara telah selesai dibangun dan tujuh unit lainnya masih dalam proses pembangunan.
Adapun di Kabupaten Manggarai Barat, pemerintah daerah masih mendata keluarga terdampak yang memutuskan memilih huntara setelah sebelumnya memilih DTH. Pemerintah daerah juga masih dalam proses penyusunan surat keputusan penerima bantuan huntara berdasarkan nama dan alamat (by name by address).
Berton menjelaskan pembangunan huntara akan diselesaikan secara bertahap berdasarkan jumlah penerima manfaat yang telah ditetapkan pemerintah daerah.
Sebelum pembangunan dilakukan, BNPB bersama pemerintah daerah terlebih dahulu melakukan sosialisasi kepada masyarakat terdampak. Penentuan lokasi huntara juga didiskusikan dengan warga dan disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Pada saat yang sama, sejumlah kabupaten sedang menyelesaikan dokumen rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa.(AP)













