Bedah Buku Romo Leo, Wali Kota Kupang Bicara tentang Warga yang Terpinggirkan

- Jurnalis

Minggu, 4 Oktober 2026 - 20:19 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kupang, NTTPedia.id,- Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, mengajak pemerintah dan seluruh elemen masyarakat melihat kehidupan dari sisi mereka yang selama ini berada di pinggir perhatian.

 

Pesan tersebut disampaikan dr. Christian saat menghadiri perayaan 30 tahun imamat Romo Dr. Leonardus Mali, Pr., yang dirangkaikan dengan bedah buku Bergerak dari Pinggiran: Perjalanan, Liber Amicorum dan Galeri 30 Tahun Imamat RD. Dr. Leonardus Mali di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Kupang, Jumat (2/10).

 

Hadir pula Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, S.Si., Apt., Ketua TP PKK Provinsi NTT Mindriyati Astiningsih Laka Lena, sejumlah anggota DPRD NTT, mantan Wakil Wali Kota Kupang Drs. Daniel D. Hurek, M.M., Romo Leonardus Mali, para imam, biarawan-biarawati, tokoh agama dan masyarakat, guru, aktivis, keluarga, sahabat serta insan pers.

 

Menurut Wali Kota, judul buku Bergerak dari Pinggiran tidak hanya relevan dalam konteks pelayanan Gereja, tetapi juga mengandung refleksi penting bagi kehidupan bermasyarakat dan penyelenggaraan pemerintahan.

 

” Kadang untuk melihat kehidupan lebih jernih, kita harus keluar dari pusat dan melihat dari pinggiran. Banyak dari kita selalu ingin berada di tengah, pusat kekuasaan, pusat informasi, pusat keputusan, pusat ekonomi. Semua sering ingin berada di pusat,” ujar dr. Christian.

 

Baginya, istilah “pinggiran” tidak semata-mata menunjuk pada wilayah yang jauh dari pusat kota. Lebih dalam dari itu, pinggiran adalah cara melihat manusia, terutama mereka yang kurang terlihat, memiliki suara yang pelan, atau belum memperoleh ruang yang cukup untuk didengar.

 

” Pinggir ini bukan hanya tentang tempat, bukan soal pusat dan pinggir. Tetapi tentang cara pandang terhadap manusia. Cara memandang manusia itu dari pinggiran,” tegasnya.

 

Karena itu, Wali Kota mengajak pemerintah dan seluruh elemen masyarakat untuk terus menguji apakah pembangunan Kota Kupang telah benar-benar menjangkau mereka yang berada di lapisan paling bawah.

 

” Apakah kita sudah melihat Kota Kupang mulai dari pinggir? Banyak dari mereka yang mungkin tidak terlihat selama ini harus bisa kita lihat. Banyak yang suaranya pelan, tidak terdengar, harus kita dengar mulai dari pinggir,” katanya.

 

Ia menilai semangat tersebut juga memiliki akar kuat dalam ajaran kekristenan. Yesus, katanya, hadir dalam kesederhanaan dan memilih dekat dengan mereka yang miskin, sakit, lemah dan terpinggirkan.

 

Karena itu menurutnya, bergerak dari pinggiran bukan sekadar gagasan, melainkan panggilan untuk menghadirkan pelayanan yang semakin dekat dengan manusia.

 

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Kupang menyampaikan apresiasi kepada Romo Leonardus Mali atas perjalanan 30 tahun imamat dan pelayanan yang telah dijalani.

 

” Profisiat Romo Leo untuk 30 tahun imamat. Ini luar biasa. Tiga puluh tahun tentu bukan waktu yang singkat. Ini perjalanan panjang tentang iman dan pelayanan,” katanya.

 

dr. Christian menilai makna tiga dekade imamat tidak semata-mata terletak pada panjangnya waktu, tetapi pada seberapa banyak kehidupan yang telah disentuh melalui pelayanan.

 

” Ini bukan hanya tentang umur, bukan tentang seberapa lama Romo menjadi imam, tetapi tentang seberapa banyak kehidupan yang telah Romo sentuh. Saya percaya Romo telah menyentuh banyak hati dan telah banyak membantu orang yang ditemui,” ujarnya.

 

Wali Kota juga mengungkapkan rencana bersama Romo Leonardus untuk menyusun program pendidikan bagi ASN Katolik di lingkungan Pemerintah Kota Kupang melalui silabus yang akan dirancang bersama.

 

Menutup pesannya, dr. Christian mengingatkan bahwa hakikat pelayanan pada akhirnya kembali kepada keberanian untuk hadir bagi sesama.

 

” Cara terbaik untuk menemukan diri kita adalah tersesat di dalam pelayanan kepada orang lain,” pungkasnya.

 

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, mengatakan gagasan Bergerak dari Pinggiran sejalan dengan panggilan pelayanan Gereja untuk hadir di tengah realitas kehidupan masyarakat.

 

Menurutnya, “pinggiran” tidak hanya bermakna geografis, tetapi juga menggambarkan kemiskinan, ketidakadilan, penderitaan dan hilangnya harapan.

 

” Gereja harus berani hadir di jalanan dan di pinggiran, bukan menjadi Gereja yang aman dan megah tetapi mengisolasi diri,” ujarnya.

 

Ia menilai semangat tersebut tercermin dalam perjalanan pelayanan Romo Leonardus yang tidak hanya berkarya di altar dan mimbar, tetapi juga hadir di tengah masyarakat, mendengarkan, mendampingi dan memperjuangkan mereka yang membutuhkan perhatian.

 

Melki juga menilai pengalaman Romo Leo dalam gerakan dan organisasi kemahasiswaan, khususnya PMKRI, turut membentuk karakter pelayanan serta kemampuannya membangun relasi dengan berbagai kalangan.

 

Di tengah perkembangan teknologi dan era disrupsi digital, Gubernur menilai nilai-nilai kemanusiaan, pendidikan karakter dan peran keluarga perlu semakin diperkuat.

 

Ketua Panitia, Hendrikus Ara, mengatakan perayaan 30 tahun imamat Romo Leonardus tidak berhenti pada seremoni, tetapi diterjemahkan melalui berbagai kegiatan yang menyentuh masyarakat.

 

Rangkaian kegiatan tersebut antara lain pembukaan kebun seminari, aksi panggilan, kegiatan bersama komunitas pemulung, aksi pembersihan sampah, pemeriksaan dan pengobatan kesehatan gratis, donor darah serta bazar.

 

Menurut Hendrikus, kegiatan-kegiatan tersebut mencerminkan semangat pelayanan Romo Leonardus yang selama ini dekat dengan masyarakat, termasuk mereka yang berada di luar pusat perhatian.

 

Buku Bergerak dari Pinggiran merekam perjalanan hidup dan pelayanan Romo Leonardus Mali, mulai dari Buraen, Amarasi, hingga perjalanan ke Vatikan dan kemudian kembali melayani di Kota Kupang.

 

” Romo Leo dalam pikiran dan tindakannya selalu mengingatkan yang mapan, menolong yang papa, mengingatkan yang berkuasa, dan menolong orang-orang kecil yang terpinggirkan,” kata Hendrikus.(AP)

Berita Terkait

Kelurahan Naikolan Bangun Kemandirian Warga Lewat Program Kesehatan, Lingkungan, dan Pangan
Kelurahan Kolhua Perkuat Gotong Royong Warga, Bank Sampah dan Festival Budaya Jadi Ruang Kebersamaan
Pemkot Kupang Dorong Pengelolaan Sampah dari Rumah Tangga, Camat Maulafa Tekankan Disiplin Warga
Pemkot Kupang Dorong Pembangunan Berbasis Partisipasi Warga, Lurah Liliba Perkuat Gotong Royong
Pemkot Kupang Dorong Pembangunan Partisipatif, Camat Maulafa Libatkan Warga dalam Perencanaan
Kepemimpinan Cris Widodo, Kota Kupang Raih Penghargaan Nasional dari Kemenkes
Di Bawah Kepemimpinan Cristhian Widodo, Pemkot Kupang Raih Dua Penghargaan dari KPPN
Wali Kota Kupang Pastikan Biaya Pengobatan Ibu dan Anak Korban Kekerasan Tuntas

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 20:47 WIB

Kelurahan Naikolan Bangun Kemandirian Warga Lewat Program Kesehatan, Lingkungan, dan Pangan

Rabu, 4 November 2026 - 16:24 WIB

Kelurahan Kolhua Perkuat Gotong Royong Warga, Bank Sampah dan Festival Budaya Jadi Ruang Kebersamaan

Rabu, 4 November 2026 - 08:13 WIB

Pemkot Kupang Dorong Pengelolaan Sampah dari Rumah Tangga, Camat Maulafa Tekankan Disiplin Warga

Selasa, 3 November 2026 - 20:39 WIB

Pemkot Kupang Dorong Pembangunan Berbasis Partisipasi Warga, Lurah Liliba Perkuat Gotong Royong

Selasa, 3 November 2026 - 20:09 WIB

Pemkot Kupang Dorong Pembangunan Partisipatif, Camat Maulafa Libatkan Warga dalam Perencanaan

Berita Terbaru