Kupang, NTTPedia.id,- La Moringa menyerap 3 hingga 5 ton bahan baku kelor per bulan dari petani di Nusa Tenggara Timur (NTT) sepanjang tahun 2025. Memasuki 2026, kebutuhan tersebut meningkat signifikan hingga 10 ton per bulan seiring bertambahnya permintaan pasar dan ekspansi produksi.
Founder La Moringa, dr Andre Hartanto bersama istri mengatakan sejak beroperasi, pabrik tersebut telah menghasilkan berbagai produk turunan kelor. Antara lain daun kelor kering, teh kelor, biskuit kelor serta biskuit sehat berbahan dasar kelor. Produk-produk ini telah menembus pasar ekspor ke Qatar, Australia, Jepang, dan Kanada.
Sepanjang 2025, kapasitas produksi berada pada kisaran 3 sampai 5 ton per bulan. Peningkatan kebutuhan hingga 10 ton per bulan pada 2026 menunjukkan tren permintaan yang terus tumbuh baik dari pasar domestik maupun internasional.
” Dari sisi legalitas dan standar mutu, Lamoringa telah mengantongi berbagai sertifikasi, mulai dari BPOM, Halal, HACCP hingga sertifikasi organik. Pada Maret 2026 mendatang, perusahaan dijadwalkan memperoleh sertifikasi organik dari lembaga internasional guna memperluas akses ke lebih banyak negara tujuan ekspor, ” kata dr Andre kepada NTTPedia.id, Jumat, 27/02/2026.
Meski telah menembus pasar global kata dr Andre tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah aksesibilitas terhadap buyer internasional. Distribusi produk dari NTT masih harus melalui Jawa sebelum dikirim ke luar negeri, termasuk untuk mengikuti event dan business matching yang difasilitasi Kementerian Perdagangan.
Karena itu kata dr Andre perusahaan berharap dukungan lebih lanjut dari pemerintah daerah. dijelaskannya lebih lanjut, Pabrik pengolahan kelor Lamoringa sendiri resmi berdiri dan diresmikan oleh Gubernur NTT, Melki Laka Lena p ada 9 September 2025.
Secara kualitas kata dr Andre, kualitas kelor NTT dinilai lebih unggul dibandingkan produk dari India dan Sri Lanka yang selama ini menjadi kompetitor utama di pasar global. Berdasarkan hasil uji kandungan, kadar protein, vitamin dan nutrisi lainnya pada kelor NTT disebut lebih tinggi dibandingkan kelor dari negara-negara tersebut.
Dalam model bisnisnya, La Moringa bertindak sebagai off-taker bagi petani kelor. Perusahaan tidak hanya membeli hasil panen dengan harga Rp18.000 hingga Rp20.000 per kilogram tetapi juga melakukan edukasi terkait teknik penanaman organik, proses panen yang benar serta pengelolaan pascapanen agar nilai gizi tetap terjaga.
Kehadiran perusahaan ini disebut membawa dampak ekonomi signifikan bagi petani. Sejumlah kelompok usaha tani telah dibina, dan peningkatan pendapatan membantu kesejahteraan keluarga, termasuk akses pendidikan anak-anak mereka.
dr Andre mengatakan dalam penguatan kapasitas petani, La Moringa juga bekerja sama dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT untuk pelatihan pengelolaan dan peningkatan kapasitas usaha.
Terkait kunjungan mantan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, kata dr Andre pihak La Moringa menyampaikan apresiasi atas visi pengembangan kelor yang pernah diletakkan pada masa kepemimpinannya.
Ia menilai menilai visi tersebut sejalan dengan hasil riset medis yang menunjukkan manfaat kelor sebagai anti-kanker, anti-diabetes, anti-inflamasi, serta dikenal secara global sebagai pohon ajaib.
Lebih lanjut dr Andre mengatakan La Moringa berharap dukungan pemerintah, perbankan dan media terus mengalir guna memperluas budidaya kelor di NTT. La Moringa membuka peluang seluas-luasnya bagi petani untuk menanam kelor dengan komitmen pembelian hasil panen secara berkelanjutan.(AP)













