Kupang, NTTPedia.id,- Suasana di Kantor Gubernur NTT pagi itu terasa berbeda. Di tengah agenda resmi yang padat, ada momen sederhana yang justru menarik perhatian. Dua sosok yang pernah berhadapan dalam kontestasi politik kini duduk berdampingan, berbagi senyum.
Emanuel Melkiades Laka Lena dan Simon Petrus Kamlasi (SPK), dua nama yang sempat berada di kubu berbeda pada Pilgub NTT 2024, terlihat santai berbincang dalam satu ruangan. Tidak ada lagi sekat seperti saat masa kampanye. Yang terlihat justru komunikasi yang cair dan saling menghargai.
Pertemuan itu terjadi dalam Lokakarya Persiapan Penguatan Program Pendidikan dan Gizi serta Koordinasi Penyelenggaraan Rantai Pasok Bahan Baku Pangan yang digelar Badan Gizi Nasional (BGN), Jumat, 10/04/2026. Kegiatan ini juga melibatkan UNICEF, DBS Foundation, Pemprov NTT, dan Pemkab Kupang.

Dalam forum tersebut, SPK hadir sebagai pemateri sementara Melki Laka Lena membuka dan mengikuti jalannya kegiatan sebagai Gubernur NTT. Keduanya beberapa kali terlihat saling menyapa, bahkan melempar senyum di sela agenda.
Momen yang paling mencuri perhatian terjadi saat jeda acara. Melki menghampiri SPK yang mengenakan baju biru, lalu merangkulnya dengan hangat. Tidak ada gestur berlebihan, hanya pelukan singkat yang terasa tulus.
Di sekitar mereka, sejumlah pejabat ikut bergabung dalam obrolan ringan, di antaranya Bupati Kupang Yoseph Lede dan Tenaga Ahli BGN Florencio Mario Viera. Percakapan berlangsung santai, jauh dari kesan formal yang kaku.
Apa yang terlihat pagi itu seperti menjadi pengingat bahwa politik tidak selalu tentang pertentangan yang berkepanjangan. Rivalitas yang dulu sempat memanas, kini berganti menjadi komunikasi yang tetap terjaga.
Baik Melki maupun SPK kini berada dalam peran masing-masing di pemerintahan. Keduanya tetap berada dalam jalur pengabdian, dengan cara dan posisi yang berbeda tetapi dengan tujuan yang sama: membangun NTT.
Momen sederhana itu, Melki dan SPK duduk bersama, berbincang ringan, dan saling tersenyum menjadi gambaran bahwa setelah kompetisi selesai, yang tersisa adalah tanggung jawab yang lebih besar terhadap daerah.
Pagi itu, tidak ada lagi cerita tentang siapa lawan dan siapa kawan. Yang ada hanya dua orang yang pernah bertarung, kini kembali bertemu dalam suasana yang lebih tenang.
Dua senyum merekah dan NTT tetap menjadi tujuan bersama.(SP)














