Kupang, NTTPedia.id – Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo dan Wakil Wali Kota Kupang Serena Cosgrova Francis, S.Sos., M.Sc., menunjukkan solidaritas kepada masyarakat Flores yang terdampak gempa bumi melalui busana adat yang dikenakan saat Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI Tingkat Kota Kupang, Senin (17/8).
Wali Kota mengenakan pakaian adat Manggarai berwarna dasar hitam, sedangkan Wakil Wali Kota mengenakan kain adat Sikka dengan warna senada.
Pilihan tersebut menjadi simbol kepedulian dan dukungan Pemerintah Kota Kupang kepada masyarakat Flores yang tengah menghadapi musibah, sekaligus ungkapan belasungkawa bagi para korban meninggal dunia.
Usai upacara, Christian menjelaskan bahwa busana tersebut sengaja dipilih sebagai bentuk solidaritas.
“Hari ini saya mengenakan pakaian adat Manggarai, sedangkan Ibu Wakil Wali Kota mengenakan kain adat Sikka. Ini bentuk kepedulian dan dukungan kami kepada saudara-saudara kita di Flores yang terdampak gempa bumi,” jelasnya.
Ia menegaskan, masyarakat Flores tidak menghadapi bencana seorang diri. “Warna hitam ini adalah bentuk belasungkawa kita. Kita ingin menyampaikan bahwa masyarakat Flores tidak sendiri. Ada duka yang kita rasakan bersama, dan Pemerintah serta masyarakat Kota Kupang berdiri bersama saudara-saudara kita yang sedang menghadapi bencana,” ujarnya.
Dalam amanat upacara, Wali Kota juga menyampaikan belasungkawa kepada para korban dan keluarga yang ditinggalkan serta mengajak masyarakat mendoakan keselamatan dan ketabahan bagi warga terdampak.
Christian bertindak sebagai Inspektur Upacara Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan ke-81 RI yang berlangsung di Lapangan Upacara Kantor Wali Kota Kupang.
Upacara diikuti jajaran Pemkot Kupang, Forkopimda, TNI-Polri, instansi vertikal, veteran, tokoh agama dan masyarakat, ASN, perangkat daerah, serta para pelajar.
Dalam amanatnya, Wali Kota mengajak seluruh masyarakat memaknai kemerdekaan sebagai amanah yang harus diwujudkan melalui pendidikan yang lebih baik, layanan kesehatan yang mudah dijangkau, ekonomi yang membuka kesempatan, pemerintahan yang cepat dan adil, serta kehidupan yang aman dan bermartabat.
“Dulu para pahlawan berjuang merebut kemerdekaan. Tugas kita hari ini adalah memastikan kemerdekaan itu benar-benar dirasakan rakyat,” tegasnya.
Ia menekankan, pembangunan Kota Kupang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Pada akhirnya kemajuan sebuah kota bukan hanya terlihat dari apa yang dibangun, tetapi dari kualitas manusia yang tumbuh di dalamnya,” katanya.
Wali Kota turut mengapresiasi Paskibraka Kota Kupang dan mengingatkan agar nilai disiplin, kerja keras dan kebersamaan yang diperoleh selama latihan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, Christian menyinggung persoalan kelangkaan dan tingginya harga minyak tanah dalam beberapa hari terakhir.
Pemkot Kupang, kata dia, terus melakukan pengawasan distribusi, memastikan masyarakat di sekitar pangkalan memperoleh pelayanan, serta mencegah penimbunan dan pembelian berlebihan untuk dijual kembali dengan harga lebih tinggi.
Pemerintah juga berkoordinasi untuk mengupayakan penambahan kuota minyak tanah. “Pesannya sederhana, kebutuhan rakyat harus didahulukan. Negara harus hadir untuk memudahkan rakyat, bukan membuat rakyat semakin sulit,” tegasnya.
Pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Pemkot Kupang juga menghadirkan program Bapenda Merah Putih berupa pengurangan denda PBB-P2 sebesar 25 hingga 75 persen bagi masyarakat yang memiliki tunggakan sesuai tahun tunggakan. Program ini berlaku 1–31 Agustus 2026.
Christian mengajak masyarakat memanfaatkan program tersebut sebagai bentuk gotong royong dalam membangun daerah.
Mengakhiri amanatnya, Wali Kota menegaskan bahwa kemerdekaan harus diterjemahkan dalam kerja dan pelayanan nyata, baik oleh ASN, dunia usaha maupun masyarakat, serta diwujudkan melalui persatuan, kepedulian dan partisipasi dalam pembangunan.







