Kupang, NTTPedia.id,- Bank NTT mulai membahas kemungkinan pemberian relaksasi pembayaran kredit bagi debitur dan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Direktur Utama Bank NTT, Charlie Paulus, mengatakan opsi relaksasi pembayaran pinjaman telah dibahas dalam rapat direksi. Namun, hingga kini belum ada keputusan mengenai bentuk konkret kebijakan yang akan diberikan kepada nasabah terdampak bencana.
” Memang ada dalam pembahasan dalam rapat direksi tentang relaksasi pembayaran pinjaman, tetapi kami belum sampai ke bentuk konkretnya seperti apa,” kata Charlie Paulus kepada NTTPedia.id, Rabu, 19/08/2026 melalui layanan pesan whatsapp.
Ia menjelaskan, Bank NTT masih membutuhkan waktu untuk mengumpulkan data dan melakukan analisis terkait dampak gempa terhadap kondisi debitur dan pelaku UMKM yang memiliki kredit di Bank NTT.
Menurut Charlie, pendataan dan analisis tersebut penting dilakukan agar kebijakan yang nantinya diambil dapat disesuaikan dengan kondisi nasabah yang terdampak.
” Karena kita butuh waktu untuk mengumpulkan data dan melakukan analisa tentang hal ini,” kata Charlie.
Chaelie menjelaskan pihaknya saat ini masih berfokus pada pemulihan pelayanan dan operasional kantor-kantor yang terdampak bencana.
Charlie mengatakan pemulihan layanan perbankan menjadi prioritas agar masyarakat tetap dapat memperoleh akses pelayanan setelah sejumlah wilayah Flores terdampak gempa.
” Sekarang ini manajemen masih berfokus untuk memperbaiki aspek pelayanan dan operasional kantor-kantor yang terkena dampak bencana agar pelayanan dapat pulih segera,” katanya.
Pembahasan relaksasi kredit tersebut menjadi perhatian karena gempa bumi magnitudo 7,7 tidak hanya menyebabkan kerusakan rumah dan fasilitas umum, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat di sejumlah wilayah Flores.
Data Pusdalops BPBD Provinsi NTT per Selasa, 18 Agustus 2026 pukul 18.00 WITA mencatat gempa bumi Magnitudo 7,7 di Flores menyebabkan 70 orang meninggal dunia, 384 orang mengalami luka-luka, 48.922 jiwa mengungsi, dan 22.469 rumah mengalami kerusakan. Kerusakan serius juga terjadi pada fasilitas kesehatan, sekolah, rumah ibadah dan infrastruktur jalan.(AP)







