Kupang, NTTPedia.id – Pengelolaan pasar rakyat di Kota Kupang mulai diarahkan ke sistem digital. Pemerintah Kota Kupang menggandeng PT Bank Mandiri Taspen untuk mendigitalisasi retribusi dan transaksi pedagang guna menciptakan pengelolaan pasar yang lebih mudah, transparan dan akuntabel.
Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Kesepakatan Bersama antara Pemkot Kupang dan PT Bank Mandiri Taspen tentang Penyelenggaraan Pelayanan Perbankan.
Selain itu, dilakukan Perjanjian Kerja Sama antara Perumda Pasar Kota Kupang dan PT Bank Mandiri Taspen tentang Penyelenggaraan Pelayanan Perbankan untuk Digitalisasi Retribusi dan Transaksi Pedagang Pasar Kota Kupang.
Penandatanganan berlangsung di Umera Coffee, Selasa (15/9/2026), dan dihadiri Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo, Direktur Funding (Retail and Network) Bank Mandiri Taspen Rizky Olyvia Nasution, Kepala Cabang Bank Mandiri Taspen Kupang Lohot Jon Piter Sidabutar, Regional CEO 7 Denpasar Felik A. Romei Karyanto, Direktur Perumda Pasar Kota Kupang Ganda Raymond Tadjo Tallo, SP., serta Kepala Bagian Perekonomian Setda Kota Kupang Eurike F. Daniela Adoe, S.E., S.ST.
Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo mengatakan, perubahan zaman menuntut pemerintah untuk meninggalkan pola kerja lama dan mulai beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Menurutnya, kolaborasi dengan sektor perbankan menjadi salah satu langkah untuk mempercepat transformasi pelayanan publik, termasuk dalam pengelolaan pasar.
“Kita selalu mengatakan, kalau mau berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Tetapi kalau mau berjalan jauh, kita harus berjalan bersama-sama. Kita sudah memilih untuk berjalan jauh,” ujar Christian.
Ia menilai pasar merupakan bagian penting dari aktivitas ekonomi masyarakat sehingga pengelolaannya juga harus mampu mengikuti perkembangan teknologi.
“Orang sudah menggunakan laptop, kita masih menggunakan mesin ketik, tentu kita akan tertinggal. Kita tidak bisa mengubah arah angin, tetapi kita bisa mengubah arah layar kita,” katanya.
Christian menegaskan, digitalisasi tidak boleh hanya dimaknai sebagai penggunaan aplikasi maupun sistem pembayaran elektronik. Teknologi harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Teknologi hanyalah alat. Tujuan akhirnya harus manusia. Jangan sampai teknologi menyebabkan ada yang tertinggal,” tegasnya.
Karena itu, ia meminta proses digitalisasi pasar tetap dibarengi dengan sosialisasi dan edukasi kepada para pedagang. Sistem baru, kata Christian, harus dibuat sederhana dan mudah digunakan agar tidak menjadi hambatan bagi masyarakat.
Di sisi lain, digitalisasi diharapkan dapat memperkuat pengawasan terhadap penerimaan daerah sekaligus meminimalkan potensi kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Digitalisasi harus berujung pada mempermudah manusia, membuat para pedagang merasa terlayani dengan cepat, dan membuat kebocoran PAD bisa diminimalkan,” jelasnya.
Direktur Funding (Retail and Network) Bank Mandiri Taspen, Rizky Olyvia Nasution mengatakan, kerja sama tersebut merupakan bentuk komitmen bersama untuk mendorong pengelolaan pasar yang lebih efektif, transparan dan aman.
Salah satu dukungan yang disiapkan adalah pemanfaatan virtual account untuk pembayaran sewa tahunan lapak dan kios.
Melalui sistem tersebut, pembayaran dapat dilakukan melalui kanal perbankan sekaligus membantu meningkatkan akurasi pencatatan serta mempercepat proses rekonsiliasi penerimaan.
“Digitalisasi pasar bukan berarti menghilangkan karakter pasar. Justru digitalisasi memperkuat pasar agar semakin tertib, inklusif, kompetitif dan mampu tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Rizky.
Sementara itu, Kepala Cabang Bank Mandiri Taspen Kupang Lohot Jon Piter Sidabutar mengatakan, kerja sama dengan Perumda Pasar Kota Kupang menjadi langkah strategis untuk memperkuat tata kelola pasar.
Saat ini, Perumda Pasar Kota Kupang mengelola 10 pasar yang tersebar di wilayah Kota Kupang. Digitalisasi diharapkan menjadi fondasi untuk membangun sistem pengelolaan transaksi yang lebih terintegrasi.







