Kupang, NTTPedia.id,- Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) Universitas Nusa Cendana (Undana) terus menegaskan komitmennya dalam mencetak guru tangguh untuk wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
Melalui terobosan kurikulum berbasis realitas lapangan, lulusan dipersiapkan untuk tetap mampu mengajar secara optimal di tengah berbagai keterbatasan, mulai dari minimnya infrastruktur hingga akses teknologi.
Pendekatan ini menjadi pembeda utama PG-PAUD Undana dibandingkan dengan perguruan tinggi lainnya. Fokusnya bukan hanya pada penguasaan teori, tetapi pada kemampuan adaptasi di lapangan, termasuk menghadapi kondisi tanpa listrik dan jaringan internet, tanpa mengurangi kualitas pembelajaran bagi anak usia dini.
Koordinator Prodi PG-PAUD Undana, Sartika Kale, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kurikulum yang diterapkan saat ini mengusung pendekatan Outcome-Based Education (OBE) dengan penekanan pada strategi mengajar di daerah terisolir.
“Kami membekali mahasiswa dengan kemampuan untuk menciptakan solusi dari keterbatasan. Guru tidak boleh bergantung pada fasilitas modern, tetapi harus mampu mengembangkan metode belajar yang sesuai dengan kondisi daerah,” ujarnya.
Mahasiswa dilatih untuk berpikir kreatif dan kontekstual, sehingga mampu menjawab tantangan geografis dan sosial yang menjadi realitas di wilayah 3T, khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Tidak hanya berbasis teori, proses pembelajaran di PG-PAUD Undana juga terintegrasi dengan hasil riset dosen dan mahasiswa yang telah terpublikasi di jurnal nasional dan internasional bereputasi.
Salah satu implementasinya adalah dokumentasi permainan tradisional dan cerita rakyat NTT yang dijadikan sebagai media pembelajaran. Mahasiswa terlibat langsung mendampingi guru di wilayah seperti Amfoang, Kupang Barat, dan Kupang Timur untuk mengangkat kearifan lokal ke dalam proses belajar anak usia dini.
Selain pendidikan dan riset, aspek pengabdian masyarakat juga menjadi fokus utama. PG-PAUD Undana aktif membina sejumlah lembaga PAUD di Kabupaten Kupang melalui pengembangan perangkat pembelajaran inovatif dan penilaian perkembangan anak.
Kolaborasi juga dilakukan dengan pemerintah daerah dan berbagai lembaga swadaya masyarakat. Program mahasiswa tidak hanya terbatas pada pendidikan, tetapi juga menyentuh aspek sosial, seperti pendampingan pengurusan akta kelahiran anak, edukasi kesehatan seksual, hingga pemenuhan gizi anak.
“Kami ingin lulusan kami tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga hadir sebagai solusi di tengah masyarakat,” tambah Sartika.
Saat ini PG-PAUD Undana didukung oleh 12 dosen dan lebih dari 200 mahasiswa aktif. Meski menghadapi tantangan fluktuasi minat calon mahasiswa, pihak prodi tetap optimistis bahwa kekhasan dan kualitas lulusan akan menjadi daya tarik tersendiri.
Menurut Sartika, pendidikan anak usia dini merupakan fase krusial dalam pembentukan karakter, sehingga harus ditangani oleh tenaga profesional yang memiliki latar belakang pendidikan yang linear.
“PAUD adalah fondasi utama. Kami hadir untuk memastikan anak-anak di pelosok NTT tetap mendapatkan pendidikan yang layak dari guru yang memang dipersiapkan untuk kondisi daerah mereka,” pungkasnya.(Ing)














