Kupang, NTTPedia.id,- Dua mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) menghadirkan gagasan inovatif yang berkontribusi pada penguatan kebijakan pajak karbon di Indonesia melalui pengembangan aplikasi digital bertajuk Carbon Track App.
Inovasi ini dirancang sebagai solusi pelacakan emisi karbon secara real-time yang dapat diterapkan pada sektor industri hingga Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), guna mendukung percepatan transisi menuju ekonomi hijau.
Gagasan tersebut dipaparkan oleh Adrianus Rivaldo Seda Makin, mahasiswa Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) sekaligus Juara 1 National Debate Competition 2024, bersama Paulus Crystian Kapi, mahasiswa Ilmu Hukum Fakultas Hukum yang meraih penghargaan Best Project Innovation dalam ajang Indonesian Youth Excursion Network (IYEN) Batch 14 di Thailand.
Keduanya hadir sebagai narasumber dalam siniar (podcast) Undana Talk dengan tema “Pajak Karbon dan Carbon Track App”, Rabu (18 Maret 2026).
Pajak Karbon sebagai Instrumen Strategis
Adrianus Rivaldo menjelaskan bahwa pajak karbon memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai instrumen pengendalian emisi, tetapi juga sebagai sumber potensial pendapatan negara.
Menurutnya, kebijakan ini dapat mendorong perubahan perilaku industri untuk beralih dari energi fosil ke energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.
“Pajak karbon tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga mendorong lahirnya inovasi teknologi hijau. Meski saat ini penerapannya masih terbatas pada sektor PLTU batu bara, peluang pengembangannya sangat besar,” ujarnya.
Ia menambahkan, tantangan utama dalam implementasi kebijakan ini adalah resistensi dari pelaku industri serta rendahnya tingkat literasi masyarakat terkait pentingnya pengendalian emisi karbon.
Carbon Track App Berbasis IoT
Sementara itu, Paulus Crystian Kapi memperkenalkan Carbon Track App sebagai inovasi berbasis teknologi Internet of Things (IoT) yang mampu membaca dan memantau emisi karbon secara akurat dan real-time.
Aplikasi ini dikembangkan untuk membantu perusahaan dalam mengukur jejak karbon mereka secara lebih efektif, sekaligus menjadi alat pendukung dalam implementasi kebijakan pajak karbon.
“Inovasi ini berangkat dari pelatihan intensif terkait pengembangan ide dan model bisnis. Kami ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya relevan bagi industri besar, tetapi juga dapat diakses oleh UMKM,” jelasnya.
Namun demikian, ia mengakui bahwa pengembangan aplikasi ini masih menghadapi tantangan, terutama dari sisi pendanaan serta kebutuhan dukungan ekosistem teknologi.
Dorong Peran Generasi Muda
Dalam diskusi tersebut, keduanya juga menyoroti minimnya ketersediaan data emisi karbon yang kredibel di Indonesia, yang menjadi kendala dalam pengembangan riset dan inovasi.
Karena itu, mereka mendorong generasi muda untuk lebih aktif berkontribusi dalam menjawab tantangan perubahan iklim melalui inovasi nyata.
“Anak muda harus berani mengambil peran. Sekecil apa pun inovasi yang kita lakukan harus memberi dampak bagi masa depan lingkungan,” tegas Rivaldo.
Dukungan Institusi dan Capaian IKU
Keberhasilan ini menjadi bukti kontribusi nyata mahasiswa Undana dalam menjawab isu global sekaligus mendukung capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi.
Paulus menambahkan, dukungan universitas dalam bentuk pembimbingan dan fasilitasi pembiayaan menjadi faktor penting yang memungkinkan mahasiswa daerah mampu bersaing di tingkat internasional.
Kolaborasi lintas disiplin antara ilmu hukum dan ekonomi yang mereka bangun menunjukkan bahwa solusi terhadap krisis iklim membutuhkan pendekatan komprehensif yang memadukan kebijakan regulasi dan inovasi teknologi.(Ref)














