Kupang, NTTPedia.id,- Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi (BEM PT) Universitas Nusa Cendana (Undana) menginisiasi gerakan kolaboratif lintas komunitas dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day (IWD) 2026. Melalui talkshow inspiratif bertema “Kepemimpinan Perempuan dalam Resiliensi Bencana dan Perubahan Iklim”, mahasiswa mendorong penguatan peran perempuan sebagai garda terdepan dalam mitigasi bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Pascasarjana Undana, Senin (30/3/2026) ini terselenggara melalui sinergi bersama Tim Program SIAP SIAGA (Kemitraan Australia-Indonesia untuk Kesiapsiagaan Bencana), BNPB, serta dukungan berbagai komunitas lokal seperti Tenggara Youth Community, Majelis Nelayan Bersatu, dan Bank Sampah Mutiara Timor.
Menghidupkan Nalar Kritis dan Kepemimpinan Perempuan
Ketua BEM PT Undana, Agnesia Boling Selly, menegaskan bahwa momentum IWD harus melampaui seremoni dan menjadi ruang refleksi terhadap keadilan gender. Ia mengajak mahasiswa untuk menghidupkan nalar kritis bahwa kesetaraan gender merupakan isu keadilan yang tidak dapat ditawar.
Sejalan dengan itu, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Undana, Dr. Siprianus Suban Garak, M.Sc., saat membuka kegiatan menekankan pentingnya mahasiswa memiliki nilai tambah sebagai calon pemimpin.
“Harapannya, setelah forum ini kita memiliki tekad kuat untuk terlibat aktif dalam setiap upaya tanggap bencana di NTT,” ujarnya.
Suara dari Pesisir dan Solusi Ekonomi Sirkular
Sesi diskusi menghadirkan perspektif akar rumput. Yasinta Yunita Adoe dari Majelis Nelayan Bersatu mengulas kerentanan perempuan pesisir pasca-badai Seroja 2021. Ia menegaskan bahwa perempuan pesisir bukan hanya penopang ekonomi keluarga, tetapi juga penjaga ekosistem laut yang paling terdampak perubahan iklim.
Sementara itu, Meilsi Anita Mansula dari Bank Sampah Mutiara Timor menyoroti peran strategis perempuan dalam pengelolaan limbah rumah tangga. Melalui skema bank sampah, perempuan mampu mendorong ekonomi sirkular yang tidak hanya mengurangi risiko banjir, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi komunitas.
Mendorong Inklusi dalam Pengambilan Keputusan
Ketua Tim Program SIAP SIAGA, Lucy Dickinson, yang hadir secara daring, menyoroti fakta bahwa perempuan sering menjadi pihak paling aktif dalam penyebaran informasi kebencanaan, namun masih kerap terpinggirkan dalam pengambilan keputusan strategis.
Ia berharap forum ini dapat menjadi ruang dialog yang inklusif sekaligus mendorong lahirnya solusi konkret berbasis pengalaman perempuan.
Diskusi semakin diperkaya dengan tanggapan dari Silvia Fanggidae dari Tim SIAP SIAGA NTT yang menegaskan urgensi keterlibatan perempuan dalam arsitektur penanganan bencana di daerah.
Melalui inisiatif ini, Undana menegaskan bahwa kepemimpinan perempuan dalam isu kebencanaan dan perubahan iklim merupakan bagian krusial dari solusi global. Forum ini diharapkan mampu memicu keterlibatan nyata mahasiswa dalam upaya mitigasi berbasis komunitas di lingkungan sekitar. (Audc)














