Mbay, NTTPedia.id,- Di balik debu reruntuhan dan gemuruh ketakutan yang tersisa pasca guncangan gempa bumi dahsyat bermagnitudo 7,7 pada 15 Agustus lalu, Kabupaten Nagekeo, dengan Mbay sebagai wilayah yang menjadi pusat guncangan utama, kini berjuang memulihkan diri dari duka kedaruratan.
Di tengah situasi sulit ini, derap langkah relawan Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) terus berupaya menyalurkan bantuan di Nagekeo. Tanpa membuang waktu, tim bergerak menyusuri titik-titik pengungsian darurat untuk memastikan pasokan logistik dasar tiba di tangan warga yang paling membutuhkan. Di Posko Pengungsi Desa Waekokak, misalnya, bantuan pangan dan kebutuhan pokok seperti 50 kilogram beras, 6 papan telur ayam, 5 dus mie instan, serta 6 dus air mineral kemasan langsung diturunkan dari armada pengangkut guna mengamankan ketahanan pangan warga selama berada di tenda pengungsian.
Perjalanan kemanusiaan ini berlanjut menyisir posko-posko lain yang dihuni oleh kelompok masyarakat rentan. Di Posko Pengungsi Desa Tunggu Rambang yang memanfaatkan bangunan SDN Tonga Nanga, Kelurahan Lape, sebanyak 28 jiwa dari 7 kepala keluarga menggantungkan harapan hidup mereka disana. Untuk menopang kehidupan di tempat penampungan sementara ini, YBLL menyalurkan bantuan berupa 1 karung beras, 5 dus mie instan, 5 dus air mineral, setengah lusin pembalut wanita, 1 buah terpal, serta asupan nutrisi khusus seperti 2 bungkus susu SGM 1+, 2 renteng susu Dancow, dan 2 bungkus susu lansia.
Kondisi serupa terlihat di Posko Kesidari, tempat mengungsi 22 jiwa dari 7 kepala keluarga asal Kelurahan Danga. Di posko ini, logistik yang disalurkan mencakup 5 dus mie instan, 5 dus air mineral, 6 papan telur ayam, setengah lusin pembalut wanita, 2 bungkus susu bayi usia 0–12 bulan, 5 bungkus susu balita 1+, 2 renteng susu Dancow, 2 bungkus popok bayi, hingga perlengkapan perlindungan anak berupa masing-masing 6 botol minyak telon dan minyak kayu putih.
Di tengah riuk penyaluran logistik tersebut, perhatian khusus tetap tertuju pada perlindungan kelompok yang paling rentan yang turut menghadapi krisis ini.
Perwakilan YBLL, Mathias Nua, menegaskan bahwa fokus utama mereka adalah memprioritaskan bantuan yang menyasar kebutuhan spesifik bayi, balita, anak-anak, ibu, hingga kaum lansia. Namun, di balik pendistribusian makanan dan obat-obatan, tim di lapangan menemukan potret keprihatinan lain yang belum sepenuhnya tertangani secara optimal, yakni minimnya fasilitas tempat tidur yang layak bagi para pengungsi.
Melihat kondisi masyarakat yang masih harus bertahan tidur di atas permukaan tanah dingin yang hanya dilapisi lembaran tipis, Mathias Nua melaporkan secara langsung kondisi di lapangan.
“Tempat tidur masih menjadi perhatian. Masih ada warga yang tidur di atas terpal. Karena itu, bantuan berupa kasur lantai atau alas tidur menjadi salah satu kebutuhan yang perlu diperhatikan,” jelas Mathias di sela-sela aktivitas pendistribusian logistic, Jumat (21/8).
YBLL pun bertekad untuk terus melangkah dan menjangkau berbagai titik pengungsian lainnya demi memastikan bantuan yang masuk benar-benar menjawab kebutuhan yang paling mendesak para penyintas.
Aksi tanggap darurat dan kepedulian sosial ini bukanlah gerakan tunggal yang terisolasi di satu wilayah saja. Semangat solidaritas yang sama saat ini juga sedang membara dan secara serentak dilakukan di Kabupaten Ngada, Sikka, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ende dan Nagekeo.
Melalui jangkauan bantuan yang meluas di berbagai wilayah terdampak di Pulau Flores, aksi kemanusiaan ini menegaskan komitmen bersama untuk memastikan seluruh warga yang terimbas bencana mendapatkan pendampingan hingga masa pemulihan tiba.







