Borong, NTTPedia.id,- Kisah pilu yang dialami NTL, bocah yatim piatu berusia 11 tahun yang berjuang melawan TB Paru dan HIV/AIDS stadium 3, akhirnya mendapat perhatian serius dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, dikabarkan mengetahui kondisi NTL setelah melihat video yang beredar di media sosial TikTok. Kisah tersebut dibagikan oleh akun Berita NTT dan langsung menggugah empati orang nomor satu di NTT itu.

Tersentuh dengan kondisi yang dialami Tasia, Gubernur segera menginstruksikan langkah cepat dengan memerintahkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT untuk turun langsung ke lapangan.
Instruksi tersebut mencakup kunjungan ke kediaman NTL di Elar, Kabupaten Manggarai Timur, sekaligus melakukan pemetaan kebutuhan bantuan, baik di bidang pendidikan, kesehatan, maupun kebutuhan dasar lainnya demi menjamin masa depan NTL.
Menindaklanjuti arahan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, langsung menggerakkan cabang dinas terdekat untuk melakukan asesmen di lapangan.
” Bapak Gubernur menyampaikan bahwa pemerintah tidak boleh abai terhadap kondisi anak-anak seperti ini. Beliau menegaskan agar segera dilakukan pengecekan langsung dan memastikan negara hadir memberikan solusi,” ujar Ambrosius kepada wartawan di Kupang, Selasa 21/04/2026.
Ia menegaskan, Gubernur meminta agar seluruh kebutuhan NTL dipetakan secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi pendidikan, tetapi juga kesehatan dan kebutuhan dasar lainnya.
” Pesan Bapak Gubernur jelas, kita harus bergerak cepat, melihat langsung kondisi anak ini di Elar, Manggarai Timur, dan memastikan bantuan yang diberikan tepat sasaran serta berkelanjutan,” tambahnya.
Sebagai tindak lanjut, cabang dinas telah diperintahkan untuk segera turun ke lokasi guna melakukan asesmen awal terhadap kondisi riil yang dihadapi Tasia dan keluarganya.
Di lapangan, Kepala SMA Negeri 1 Elar, Hermanus Ernus, turut turun langsung melihat kondisi NTl.
Hermanus mengungkapkan, saat tim tiba di lokasi, NTL sempat bersekolah di pagi hari, namun tidak lama kemudian kembali ke rumah.
” Saat kami tiba, kebetulan dia sudah berada di rumah bersama neneknya,” ujarnya.
Dari hasil kunjungan tersebut diketahui bahwa NTL kini tinggal bersama sang nenek setelah kedua orang tuanya meninggal dunia. Ia sebelumnya sempat menjalani perawatan di RSUD Borong, namun karena kendala jarak, pengobatan dialihkan ke fasilitas kesehatan yang lebih dekat.
Saat ini, NTL menjalani rawat jalan di RSUD Ben Mboi Ruteng dan rutin melakukan kontrol setiap bulan. Terakhir, ia baru saja menjalani pemeriksaan rutin pada Kamis pekan lalu.
“Pertimbangan utama keluarga adalah biaya transportasi. Jarak ke Borong terlalu jauh dan cukup berat dari sisi ongkos,” jelas Hermanus.
Meski biaya pengobatan telah ditanggung melalui BPJS, kendala transportasi masih menjadi beban utama bagi keluarga.
“Kami melihat langsung kondisi di lapangan, dan memang yang paling dirasakan keluarga saat ini adalah biaya transportasi untuk pengobatan rutin,” katanya.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Ambrosius Kodo langsung melaporkannya kepada Gubernur NTT. Saat ini, cabang dinas bersama para kepala sekolah dan guru SMA/SMK di Manggarai Timur telah melakukan penggalangan donasi secara internal.
Sementara itu, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Manggarai Timur, Frumensius Hemat, menyampaikan pihaknya telah membuka donasi terbuka untuk membantu meringankan beban Tasia.
Donasi tersebut akan melibatkan seluruh insan pendidikan di Kabupaten Manggarai Timur sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian terhadap kondisi Tasia.
Selain itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT juga tengah berkoordinasi dengan MKKS Kabupaten Manggarai untuk menyiapkan rumah singgah bagi NTL dan keluarganya saat menjalani pengobatan di RSUD Ben Mboi Ruteng.
Langkah ini kata Ambrosius dapat membantu mengurangi beban biaya transportasi sekaligus memastikan NTL mendapatkan akses pengobatan yang lebih layak dan berkelanjutan.(AP)














