8 Usul Saran untuk Program Magister Pedagogi Uniflor

- Jurnalis

Senin, 23 Maret 2026 - 09:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Oleh: Agustinus Tetiro, Pemerhati pendidikan, koordinator kelompok studi “Ende Bergerak”

Jumat sore yang cerah (20 September 2024), saya semobil dengan Lori Gadi Djou dari Ndona ke Lapangan Perse Ende. Kami sedang dalam rangkaian rombongan calon gubernur dan wakil gubernur NTT Melki Laka Lena – Johni Asadoma, yang sebelumnya melakukan temu keluarga di rumah adat Laka Lena di Ndona.

Dalam perjalanan, kami berdiskusi beberapa hal, yang akhirnya tiba pada tema pendidikan. Ternyata, ada titik temu antara pemikiran kami berdua, termasuk keprihatinan Melki Laka Lena tentang pendidikan di NTT. Melki—yang saat ini menjadi Gubernur NTT—selalu memberi penekanan dalam diskusi-diskusi, “sebagai anak guru, saya selalu melihat pendidikan adalah prioritas”

Pada prinsipnya, kita semua ingin agar sebisa mungkin menciptakan situasi dan atmosfer pendidikan yang baik di daerah seperti Ende, Flores dan NTT.

Tahu bahwa Universitas Flores (Uniflor) yang dipimpin Lori Gadi Djou sebagai ketua Yayasan telah membuka program pascasarjana ilmu manajemen, saya memberanikan diri untuk bertanya,

“Ka’e, setelah S2 manajemen ini, apa lagi?”

“Mungkin dalam waktu dekat S-2 pendidikan,” jawabnya singkat

Terjawablah hari ini bahwa Uniflor bersiap membuka program magister pedagogi. Saya menyambut gembira dan mengapresiasi inisitiatif baik ini. Sebagai bentuk apresiasi awal, saya ingin memberikan sejumlah usul-saran yang kiranya berkenan.

Menciptakan Lingkungan Unggul bagi Pendidikan Guru

Bahwa sejumlah hal administatif-prosedural dan teknis telah terpenuhi dan rencana ke depan sesuai kriteria dan regulasi sudah ada merupakan hal yang pasti telah dipersiapkan dengan amat matang. Usul-saran ini hanya merupakan semacam catatan perhatian tidak resmi dari “pengamat amatir luar lapangan”.

Uniflor membuka program magister pedagogi. Secara etimologis, kata “magister” berasal dari bahasa Latin yang berarti “guru”. Pedagogi berasal dari bahasa Yunani “paidos” (anak) dan “agogos” (membimbing/memimpin), secara harfiah berarti “membimbing anak”. Jadi, sejak awal kita menaruh harapan besar pada program baru ini sebagai sebuah wadah unggul (centre of excellence) untuk pendidikan guru yang inspiratif bagi pendidikan anak-anak kita ke depan. Kita boleh membayangkan akan lahir banyak guru sebagai inspirator dari kampus ini.

Tentu saja mudah ditebak bahwa program magister pedagogi ini linear dengan program S1 fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (FKIP) yang sudah lama ada di lingkungan Uniflor. FKIP Uniflor telah menjadi tempat untuk mencetak para guru di Flores dan banyak juga yang telah berkarya di pulau-pulau lain di NTT, pun di sejumlah sekolah dan lembaga pendidikan lain di tanah air.

Kendati demikian, persoalan mutu guru di Flores dan NTT masih mendapatkan catatan yang serius. Saya ambil contoh keluhan para murid tentang kualitas guru ketika bertatap muka dengan Gubernur NTT di Ende beberapa waktu lalu. Tiga orang siswa SMA dari sekolah berbeda berkeluh kesah (curhat) kepada Gubernur Melki bahwa gurunya malas, tidak kreatif, habiskan banyak waktu main HP di sekolah, bahan pembelajaran diambil begitu saja dari internet (Chat GPT, Gemini, dan AI lainnya), tidak bisa menjawab pertanyaan murid, dan tidak mengajak murid untuk berdiskusi.

Kita tentu berharap guru yang diceritakan bukan merupakan alumni Uniflor. Anggap saja cerita para murid di atas sebagai evaluasi dan autokritik bagi kita semua. Bahwa, hal seperti itu ternyata masih cukup sering terjadi di Ende, yang secara historis, dikenal sebagai kota pelajar dan kota budaya.

Dalam lintasan sejarah, kota Ende dan sekitarnya adalah tempat yang baik bagi pendidikan guru. Ada sekolah guru awal kemerdekaan di Ndona milik misi SVD. Ada juga sekolah pendidikan guru (SPG) Ndao dan SPG Negeri, sekolah guru olahraga (SGO), sekolah guru agama (SGA) dan lain-lain pada masa orde baru. Ende juga dikenal dengan sekolah-sekolah menengah unggulan seperti SMAK Syuradikara dan SMP-SMA Frateran Ndao, yang dalam perkembangannya juga berelasi baik dengan pesantren dan seminari.

Saya membayangkan, Ende terus menjadi sebuah lingkungan akademik dan moral yang baik bagi pendidikan guru yang berkelanjutan. Hadirnya program magister pedagogi Uniflor membuka harapan baik untuk semua guru dan pemerhati pendidikan yang ingin mengembangkan diri secara optimal. Oleh karena itu, saya ingin memberikan beberapa usul saran.

Pertama, pendekatan pembelajaran sebaiknya bersifat kritis-empiris. Sebagai suatu program pascasarjana, kemungkinan besar calon mahasiswa adalah mereka yang telah berprofesi guru,berpengalaman mengajar beberapa tahun, dan sedikit para sarjana baru yang ingin memantapkan gelarnya sebelum masuk dunia kerja.

Para guru berpengalaman, para pengambil kebijakan di bidang pendidikan dan para mahasiswa tentu saja telah memiliki segudang contoh empiris lapangan yang bisa digali di ruang kelas dalam suatu situasi diskursif. Mereka perlu mendapat tantangan akademik serius untuk mengevaluasi proses pembelajaran dan pendidikan yang telah mereka terapkan, agar lebih mampu membaca tanda-tanda zaman. Untuk keperluan itu, latihan berpikir kritis serentak humanis adalah sebuah keharusan. Filsafat pendidikan kritis mesti menjadi pilihan utama.

Adalah sebuah pemandangan yang mengasyikan secara akademis bila para mahasiswa pascasarjana pedagogi Uniflor lincah berdiskusi dan berdialog tentang konsep pendidikan dari Platon, Aristoteles, Agustinus, Thomas Aquinas, John Dewey, Ivan Illich, Paulo Freire, Martha Nusbaum, Ki Hadjar Dewantara, Driyarkara, Romo Mangun, Jan Riberu, Herman Gadi Djou, dan lain-lain. Dari pemikir-pemikir raksasa ini, mereka belajar membangun konsepnya sendiri.

Kedua, melibatkan pemikir dan pelaku pendidikan di Ende dan sekitarnya untuk berbagi (sharing) pandangan dan pengalaman. Bapa Uskup Agung Ende Mgr Paulus Budi Kleden SVD adalah seorang pemikir yang ketat tentang filsuf Alfred North Whitehead yang banyak menulis tentang filsafat proses, filsafat pendidikan dan fungsi universitas. Romo Ferry Dhae menaruh perhatian besar pada sosiologi dan manajemen pendidikan saat menyelesaikan program doktoralnya. Begitu juga dengan para frater di Ndao dan para suster di SD-SMP Ursula yang mungkin mempunyai banyak pengalaman dan jam terbang di jaringan sekolah-sekolah mereka di Jakarta, Surabaya dan kota-kota besar lainnya.

Ketiga, melibatkan Pemprov dan Pemkab. Pemerintah daerah, baik di level provinsi maupun level kabupaten, perlu terus diberitahu dan disadarkan tentang pentingnya program magister pedagogi ini. Jika pemda terkesan apatis, Uniflor perlu juga melontarkan kritik terbuka terhadap mereka.

Keempat, melibatkan generasi guru tua. Para pensiunan guru adalah aset yang tidak bisa diabaikan. Mereka mungkin tidak akan banyak menyebut teori pendidikan canggih dan menghafal sejumlah nama filsuf pendidikan. Akan tetapi, pengalaman mengajar mereka puluhan tahun adalah tambang emas yang perlu digali sebagai bahan pembelajaran para peserta didik di level sarjana dan pascarsarajana pendidikan.

Kelima, kerja sama antar-lembaga. Program magister pedagogi Uniflor perlu bekerja sama dengan sejumlah lembaga seperti IFTK Ledalero yang juga saat ini tampil mencolok dengan program magister filsafatnya, STIPAR Ende yang mulai pelan bertumbuh mengembangkan sayap ke program studi lain yang masih bernuansa mendidik calon guru, Unika Santo Paulus Ruteng, dan lain-lain. Juga, dengan kampus-kampus jauh yang memilik FKIP/IKIP yang baik sebagai kiblat, sebut saja UMM Malang, Sanata Dharma Jogja, UNY, UNJ dan lain-lain.

Keenam, kerja sama lintas-budaya dan agama. Selama ini Uniflor telah dikenal sebagai kampus mediator budaya. Refleksi singkat tentang peran ini telah disampaikan uskup agung Budi Kleden dalam sebuah kotbah misa di kampus Uniflor. Kampus ini mesti menjadi wadah pertemuan pribadi dan pandangan interkultural dan multikultural. Hanya dengan membuka diri pada kebudayaan dan pandangan berbeda, para peserta didik mampu menerima dan hidup berdampingan dengan orang lain atau pandangan lain.

Ketujuh, membangun sekolah-sekolah. Saya melihat kebutuhan dan urgensi bagi yayasan yang menaungi Uniflor untuk juga membuka sekolah-sekolah mulai dari level terendah hingga menengah atas, mulai (pra)PAUD hingga SMA/SMK. Sekolah-sekolah ini bisa menjadi sekolah contoh dan “laboratorium” bagi para guru alumni terpilih Uniflor dan para calon guru.

Kedelapan, sebelum resmi menggelar program magister pedagogi, adalah baik adanya jika Uniflor menyelenggarakan suatu studium generale atau lectio brevis khusus yang berkaitan dengan visi-misi dan orientasi pendidikan yang ada di kampus. Ini semacam publikasi dan promosi awal tentang apa saja manfaat dan keuntungan yang akan diperoleh jika bergabung di program magister pedagogi Uniflor.

Ketika menemani Gubernur Melki Laka Lena beraudiensi dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Medikdasmen) Abdul Mu’ti, saya mendengar sang menteri menyebut khusus kesannya tentang kota Ende sebagai kota multikultural paling kondusif yang pernah dikunjunginya. Menteri Mu’ti selalu merasa dekat secara akademik dan kultural dengan Ende, karena pernah beberapa tahun melakukan riset dan tinggal di kota Pancasila ini.

Jika rencana studium generale itu dilengkapi dengan seminar akbar yang menghadirkan Mendikdasmen yang juga serentak petinggi Muhammadiyah, Gubernur NTT, uskup agung Ende dan sejumlah tokoh, maka kita bisa mempunyai pegangan jaminan mutu di awal bahwa ada harapan besar untuk pendidikan guru di Flores dan NTT ke depan.

Pada akhirnya, saya mesti realistis, usul-saran ini tetaplah suatu pandangan amatiran dari luar lapangan. Besar harapan saya program magister pedagogi Uniflor bertumbuh dan berkembang baik untuk masa depan Flores, NTT dan Indonesia. Flores florete date odorem! Bravo!

Berita Terkait

Hari Raya di Tengah Tekanan Daya Beli : Antara Pertumbuhan Angka dan Realitas Dompet Rakyat
Mendorong Pemerintah Lebih Kreatif
Ijazah
Natal: Bahagia bagi Sebagian
Suharto: Pahlawan Nasional?
Urgensi Keadilan: Meminimalisir Kemiskinan Masyarakat NTT Dalam Terang Perspektif John Rawls
Peran Teknologi Maju dalam Bidang Kesehatan: Mengubah Masa Depan Pelayanan Medis
Opini : Mewujudkan Pemilu Ramah Disabilitas

Berita Terkait

Senin, 23 Maret 2026 - 09:06 WIB

8 Usul Saran untuk Program Magister Pedagogi Uniflor

Rabu, 4 Maret 2026 - 09:10 WIB

Hari Raya di Tengah Tekanan Daya Beli : Antara Pertumbuhan Angka dan Realitas Dompet Rakyat

Jumat, 13 Februari 2026 - 17:20 WIB

Mendorong Pemerintah Lebih Kreatif

Senin, 29 Desember 2025 - 08:07 WIB

Ijazah

Selasa, 23 Desember 2025 - 09:23 WIB

Natal: Bahagia bagi Sebagian

Berita Terbaru