Peneliti Australia Dalami Kekayaan Pangan Tradisional dan Tumbuhan Herbal di NTT

- Jurnalis

Sabtu, 26 Februari 2022 - 18:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr Justin L Wejak, Ketua Tim Peneliti dari Universitas Melbourne, Victoria/Foto Dok Pribadi

Dr Justin L Wejak, Ketua Tim Peneliti dari Universitas Melbourne, Victoria/Foto Dok Pribadi

Melbourne, NTTPedia.id— Sejumlah tim peneliti lintas-disiplin dari The University of Melbourne atau Universitas Melbourne, Victoria, Australia sedang melakukan penelitian di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia. Para peneliti itu dari disiplin antropologi, geografi, ekologi dan pertanian.

Ketua tim peneliti dari Universitas Melbourne, Victoria Dr. Justin Laba Wejak mengemukakan, fokus penelitian tim peneliti dari universitas tertua kedua di Australia yang berdiri pada tahun 1853 setelah Universitas Sydney (berdiri tahun 1850) itu adalah pengetahuan lokal mengenai makanan tradisional dan tumbuhan-tumbuhan herbal di Desa Lewokukung-Baolangu, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, NTT, Indonesia.

Menurut Justin, penelitian ini dimaksudkan untuk mendengarkan cerita-cerita setempat mengenai pengetahuan dan praktik-praktik lokal terkait makanan tradisional maupun tumbuhan-tumbuhan herbal. Pilihan lokasi penelitian di Lewokukung-Baolangu mengingat masyarakat ini memiliki banyak kisah dan praktik lokal turun-temurun menggunakan tanaman dan tumbuhan-tumbuhan herbal pengganti cara penyembuhan medis modern maupun obat-obatan jauh sebelumnya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Komunitas masyarakat Lewokukung-Baolangu juga memiliki kebiasaan unik di mana mereka selalu hidup dan bersahabat kental dengan alam bahkan abai memperlakukan alam sebagai musuh. Selain ada ketergantungan melalui tanaman maupun tumbuhan herbal, kebiasaan sare dame, berdamai dengan alam dan sesama selalu dipegang teguh demi menjaga relasi sosial serta harmoni kehidupan,” kata Justin, yang juga dosen Kajian Indonesia di Universitas Melbourne dalam keterangan tertulis yang diterima dari Melbourne, kota multibudaya itu, Sabtu (26/2).

Justin menambahkan, saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata tengah menggelar kegiatan Eksplorasi Budaya Lembata, di mana di dalam eksplorasi budaya itu ada kegiatan sare dame yang merupakan salah satu bentuk mini menggali kekayaan budaya di semua kampung di seluruh wilayah kabupaten itu.

Baca Juga :  Tenaga Kesehatan Kini Bisa Urus Izin Praktik Secara Online di MPP Kota Kupang

Namun, sesungguhnya bila dilihat lebih jauh hampir semua kampung maupun desa di dalam komunitas masyarakat Lembata terdapat pengetahuan dan praktik hidup turun-temurun atau kearifan lokal (local wisdom) demi menjaga kesehatan manusianya bersumber dari tanaman maupun tumbuhan herbal selain dunia medis modern. Praktik-praktik itu, termasuk keyakinann kepada alam beserta tumbuhan adalah ciptaan Tuhan yang memiliki daya penyembuh bagi manusia.

Justin, kolumnis sejumlah media dan peneliti asal Lembata, menjelaskan komunitas masyarakat Lewokukung-Baolangu sangat akrab dengan aneka jenis kacang-kacangan maupun umbi-umbian baik yang ditanam di kebun maupun yang tumbuh liar di hutan dan percaya bahwa semuanya memiliki khasiat menyembuhkan.

“Di Desa Lewokukung-Baolangu terdapat aneka jenis kacang dengan nama lokal seperti delaj, wetem, uta mekjawa, sura mojek, sura engal, sura koles, dan lain-lain. Begitu juga ada aneka jenis tumbuhan obat seperti kweluk, malu, kleruk, liaru, kebelu, leptaka mera, dan lain-lain. Saat virus korona kian mengglobal, komunitas masyarakat Lewokukung-Baolangu dan desa-desa lainnya di Lembata malah berbalik lalu bersandar pula pada tanaman dan tumbuhan-tumbuhan herbal di wilayahnya masing-masing,” kata Justin Wejak, alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Flores.

Menurut Justin, selain berbagi cerita-cerita setempat tentang makanan tradisional dan tumbuhan-tumbuhan obat, proyek ini meneliti bagaimana pengetahuan lokal diproduksi dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Proyek penelitian ini merupakan upaya untuk memahami peran-peran “gender” dan “generasi” dalam memproduksi, mewariskan, dan melestarikan pengetahuan dan praktik-praktik lokal mengenai makanan tradisional dan tumbuhan-tumbuhan obat dalam masyarakat agraris setempat.

Baca Juga :  Wagub NTT Positif Covid-19

Pada bagian lain, Justin menambahkan, ada dua pertanyaan umum untuk penelitian tersebut. Pertama, bagaimana masyarakat Desa Lewokukung-Baolangu melestarikan pengetahuan dan kearifan lokal mereka terkait makanan tradisional dan tumbuhan-tumbuhan obat dalam sejarah lingkungan dan proses perubahan ekologis?

Kedua, apa peran “gender” dan “generasi” serta hubungan kekerabatan dalam produksi pengetahuan lokal terkait makanan tradisional dan tumbuhan-tumbuhan obat? Penelitian ini menggunakan pendekatan “partisipatif” di mana para peneliti terlibat langsung dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Melalui keterlibatan itu para peneliti mendengarkan, mengamati, dan berdialog secara terbuka dengan warga setempat tentang makanan-makanan tradisional dan tumbuhan-tumbuhan obat. Menghabiskan waktu bersama dengan para partisipan dalam penelitian ini sangatlah penting untuk belajar tentang praktik-praktik sehari-hari mereka,” kata Justin Wejak yang sejak 1990 tinggal di negeri kanguru itu.

Menurutnya, proyek ini diharapkan akan meningkatkan rasa kepemilikan warga setempat atas cerita-cerita tentang pengetahuan dan praktik-praktik mereka serta mempromosikan pentingnya makanan-makanan tradisional dan tumbuhan-tumbuhan obat untuk kesehatan dan pelestarian pengetahuan dan kearifan lokal.

“Selain itu proyek penelitian ini diharapkan menjadi batu loncatan untuk penelitian-penelitian kolaboratif di wilayah-wilayah lain di bagian timur Indonesia. Penelitian ini berlangsung selama tahun 2022. Kami melibatkan beberapa warga lokal untuk membantu kami mengumpulkan data mengingat musim Covid-19 yang belum berlalu,” ujarnya.(AP)

Berita Terkait

Road to JFSS 2026: Pemerintah & Kadin Tegaskan Ketahanan Pangan jadi Prioritas
Dua Anak Pelatih Valencia B Masih Hilang, Tim SAR Gabungan Perpanjang Operasi Pencarian
Seleksi Substansi Bakal Calon Kepala Sekolah di NTT Diikuti 511 Peserta Dilaksanakan Secara Serentak 
Kapolda NTT Pimpin Langsung Operasi SAR KM Putri Sakinah, Sonar hingga Drone Bawah Laut Dikerahkan
Tim SAR Gabungan Temukan Satu Jenazah, Diduga Anak Pelatih Valencia B
Tim Gabungan Intensifkan Pencarian Korban Kapal Tenggelam di TN Komodo
Berkat Natal Dari Simon Petrus Kamlasi, Gereja Portable Untuk Gereja GKS Wee Rame di Sumba Barat Daya 
DPW NasDem NTT Gelar Rakorwil Zona Timor, Tingkatkan konsolidasi Internal Hadapi Tantangan Politik di Masa Depan

Berita Terkait

Selasa, 13 Januari 2026 - 16:23 WIB

Road to JFSS 2026: Pemerintah & Kadin Tegaskan Ketahanan Pangan jadi Prioritas

Senin, 5 Januari 2026 - 13:53 WIB

Dua Anak Pelatih Valencia B Masih Hilang, Tim SAR Gabungan Perpanjang Operasi Pencarian

Senin, 29 Desember 2025 - 11:49 WIB

Seleksi Substansi Bakal Calon Kepala Sekolah di NTT Diikuti 511 Peserta Dilaksanakan Secara Serentak 

Senin, 29 Desember 2025 - 09:41 WIB

Kapolda NTT Pimpin Langsung Operasi SAR KM Putri Sakinah, Sonar hingga Drone Bawah Laut Dikerahkan

Senin, 29 Desember 2025 - 08:57 WIB

Tim SAR Gabungan Temukan Satu Jenazah, Diduga Anak Pelatih Valencia B

Berita Terbaru

Perkumpulan Agen Asuransi Indonesia (PAAI) mendesak pemerintah meninjau ulang kebijakan perpajakan agen asuransi yang dinilai tidak adil dan menimbulkan ketidakpastian hukum, menyusul pemberlakuan PMK-168/PMK.03/2023, implementasi Core Tax Administration System, serta munculnya tafsir keliru atas PMK 81/2024.

Berita

PAAI Minta Pemerintah Tinjau Ulang Pajak Agen Asuransi

Senin, 12 Jan 2026 - 19:51 WIB