Kupang, NTTPedia.id,- Universitas Nusa Cendana (Undana) memperkuat komitmennya menghadirkan riset yang aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat. Melalui skema Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Berdampak, Undana mengalokasikan dana sekitar Rp1 miliar untuk menyasar berbagai persoalan pembangunan di Kabupaten Sumba Timur.
Langkah awal program ini ditandai dengan penerjunan tim dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Undana ke wilayah tersebut guna menyelaraskan program kerja dengan kebutuhan riil masyarakat.
Ketua Tim Sumba Timur, Dr. Andreas Umbu Roga, S.Pd., M.Kes, mengatakan program ini merupakan mandat universitas untuk meningkatkan kapasitas sumber daya masyarakat sekaligus memberikan solusi nyata terhadap berbagai persoalan daerah.
“Undana memiliki komitmen kuat untuk hadir di tengah masyarakat melalui riset pilihan dan pengabdian yang mampu memberikan solusi nyata bagi pembangunan daerah,” ujarnya, Selasa (10/3/2026).
Kehadiran tim Undana disambut positif oleh Pemerintah Kabupaten Sumba Timur. Melalui audiensi bersama bupati dan sekretaris daerah, tim memperoleh berbagai data strategis yang menjadi dasar penentuan lokasi program.
Berdasarkan analisis kebutuhan daerah, Kecamatan Pahunga Lodu dipilih sebagai pusat pelaksanaan program. Setelah dilakukan verifikasi lapangan dan diskusi bersama camat serta tokoh masyarakat, Undana menetapkan enam desa sebagai lokasi sasaran.
Program ini direncanakan mulai berjalan pada April 2026 dengan fokus pada sejumlah sektor prioritas, yakni pertanian, peternakan, perikanan, kesehatan, dan pendidikan.
Menurut Andreas, program tersebut dirancang untuk menstimulasi inovasi di sektor unggulan lokal sekaligus membantu mengatasi berbagai persoalan sosial.
“Riset dari kampus harus menjadi jawaban atas masalah stunting, gizi buruk, serta optimalisasi sumber daya alam yang belum tergarap secara maksimal,” jelasnya.
Pendanaan program akan disalurkan melalui mekanisme seleksi proposal yang diajukan oleh para pimpinan, profesor, dan dosen di lingkungan Undana. Para akademisi ini akan bertindak sebagai pemimpin tim sekaligus narasumber utama dalam proses pemecahan masalah di lapangan.
Untuk memastikan keberlanjutan dampak program, Undana juga mengintegrasikan kegiatan ini dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa.
Mahasiswa akan ditempatkan secara periodik dalam tiga gelombang setiap tahun, yakni pada semester genap, alih semester, dan semester ganjil, guna melakukan pendampingan berkelanjutan kepada masyarakat desa.
“Kami ingin program ini memiliki kesinambungan. Kehadiran mahasiswa secara berkala memastikan pendampingan kepada masyarakat tidak berhenti di tengah jalan,” tambah Andreas.
Program PkM Berdampak ini juga sejalan dengan upaya Undana dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas pendidikan, serta penguatan kemitraan pembangunan.
Meski tantangan geografis seperti akses transportasi dan kondisi cuaca berpotensi menjadi kendala, tim optimistis sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah akan menjadi kunci keberhasilan program.
Melalui inisiatif ini, Undana kembali menegaskan perannya sebagai “menara air” ilmu pengetahuan yang menyalurkan manfaat riset kepada masyarakat luas, sekaligus menjadi model integrasi antara dunia akademik dan kebijakan pembangunan daerah di Nusa Tenggara Timur. (Ref)














