Kupang, NTTPedia.id,- Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Balai Benih Ikan Sentral Noekele resmi memulai penjualan ikan air tawar konsumsi hasil budidaya perdana tahun ini, Minggu, 10/05/2026. Kegiatan tersebut menandai aktifnya kembali produksi ikan konsumsi di BBIS Noekele setelah sempat terhenti sejak 2022.
Pada penjualan hari pertama, tercatat sebanyak 221 kilogram ikan nila berhasil dipasarkan dari total estimasi panen 400 kilogram. Hasil panen tersebut disalurkan kepada konsumen serta sejumlah kolam pemancingan di Kabupaten Kupang dan Kupang.
Pelaksana Harian Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTT, Merry M. Foenay, hadir langsung di lokasi panen bersama Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan PRL, Muhammad Saleh Goro, serta jajaran teknis BBIS Noekele.
Dalam kesempatan itu, Merry menegaskan BBIS Noekele kini tidak hanya difungsikan sebagai pusat pembenihan, tetapi juga dikembangkan menjadi sentra produksi ikan konsumsi untuk memperkuat pasokan pangan di NTT.
” Keberhasilan budidaya hingga penjualan hari ini menunjukkan NTT memiliki potensi besar di sektor perikanan air tawar. BBIS Noekele berperan ganda, menghasilkan benih unggul sekaligus memproduksi ikan konsumsi guna menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan di pasaran,” ujarnya.
Pengelolaan BBIS Noekele kini diarahkan menggunakan teknologi budidaya modern, seperti sistem pengairan efektif, manajemen pakan efisien, serta penggunaan indukan unggul yang adaptif terhadap kondisi lingkungan lokal. Dengan metode tersebut, produktivitas disebut meningkat hingga 40 persen dibanding pola konvensional, dengan tingkat kelangsungan hidup ikan mencapai lebih dari 85 persen.
Selain melayani kebutuhan dalam daerah, produksi BBIS Noekele juga diproyeksikan menjadi penyangga pasokan untuk wilayah yang memiliki keterbatasan akses hasil laut. Pada 2026, target produksi mencapai 500 ribu ekor benih unggul yang akan didistribusikan ke kabupaten/kota di NTT.
Muhammad Saleh Goro menambahkan, ke depan BBIS Noekele akan dikembangkan sebagai pusat pelatihan budidaya bagi masyarakat, sekaligus lokasi pemancingan eksklusif berbasis ekowisata terintegrasi pertanian.
” Kami tidak hanya memproduksi, tetapi juga membina pembudidaya di desa-desa melalui kolaborasi dengan dinas perikanan kabupaten/kota. Benih unggul bersertifikat melalui sistem Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) akan terus disebarkan agar masyarakat dapat meningkatkan produksi dan pendapatan,” katanya.
Program ini menjadi bagian dari roadmap pembangunan perikanan budidaya NTT 2026–2030 yang menempatkan sektor air tawar sebagai prioritas untuk mendukung ketahanan pangan daerah serta mengurangi ketergantungan pasokan ikan dari luar.
Panen perdana ini turut disaksikan Kepala Bidang Perikanan Tangkap, A. Andy Amuntoda. Sebagian hasil panen langsung dipasarkan ke pasar induk Kupang, sementara distribusi benih akan dilanjutkan ke Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu, dan Malaka melalui kerja sama program Bioflock Tematik dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.(AP)














